Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 Maret 2015

Berketuhanan Yang Maha Esa

Dapat diketahui bersama bahwa manusia memiliki roh, jiwa, akal budi dan moralitas yang membedakan dengan ciptaan yang lainnya. Hewan dan tumbuhan tidak memiliki jiwa dan akal budi. Sehingga apa yang dilakukannya semata-mata hanya sebatas naluriah saja. Namun berbeda dengan manusia. Ia diciptakan dengan dianugerahi kelengkapan ilahi; yakni roh. Sehingga memungkinkan manusia berkomunikasi dengan Tuhan sang Pencipta. Bahkan ketika manusia meragukan Tuhan sekalipun, ia sebenarnya sudah mengakui bahwa Tuhan itu ada dan nyata. Meragukan keberadaan Tuhan Yang Esa sama halnya dengan mengakui bahwa Tuhan ada namun mencoba untuk menyangkal keberadaan-Nya. Tentu saja ini perbuatan yang sia-sia saja. Meskipun berusaha untuk membuktikan bahwa Tuhan tidak ada, disaat itu pula sebenarnya ia melihat bahwa Tuhan benar-benar ada.
Mari kita perhatikan, apa yang menyebabkan planet dan galaksi ada? Bahkan kalau diperhatikan, siapa sebenarnya yang menopang Bumi ini sehingga dapat bergerak mengelilingi Matahari tanpa ada kebakaran dan benturan antar planet? Tentu yang menyebabkan semua tertata sedemikian rupa ialah Pribadi Yang Maha Kuasa. Berkuasa lebih dari yang memiliki kekuasaan. Memiliki kekekalan, sebab Dialah sumber kekuatan yang menopang. Bukan hanya itu, berdasarkan fakta sejarah manusia. Awal mula manusia bukanlah berasal dari monyet yang berevolusi. Bukan berasal dari binatang atau amoeba. Tetapi berasal dari manusia ciptaan Tuhan. Sehebat apapun seseorang berusaha membuktikan bahwa manusia berasal dari binatang yang berevolusi, tetap tidak merubah fakta bahwa manusia dicipta oleh Tuhan dari debu tanah. Penyangkalan terhadap kebenaran ini sebenarnya semakin membuktikan bahwa semakin bodohnya orang yang menyangkal. Sebab semakin menyangkal maka akan semakin banyak spekulasi yang dibuat. Dengan demikian nyata bahwa penyangkalan terhadap keberadaan Tuhan berarti menyangkal keberadaan diri. Tanpa Tuhan berkenan menciptakan, maka manusia tidak akan ada.
Oleh karena itu, baiklah hendaknya kehidupan kita berketuhanan Yang Maha Esa. Maksudnya ialah bersedia menerima dengan hati bahwa kita diciptakan untuk menyembah dan mempercayakan diri kepada-Nya. Bahwa Ia ada sebagaimana adanya untuk memberikan hidup dan harapan yang lebih baik. Bahwa Ia adalah Tuhan yang kekal dan sempurna. Oleh karena kekekalan dan kesempurnaan-Nya itulah Ia mampu untuk menyempurnakan dan menjadikan kita indah. Semakin sempurna dalam budi pekerti, dan semakin indah dalam menjalani kehidupan di dunia maupun akhirat. Semakin kita mengakui kebesaran-Nya atas hidup kita, maka semakin besar kesediaan kita mewujudkan damai sejahtera di bumi. Dengan demikian, dasar pembangunan pertama untuk bangsa ialah menegakkan Pancasila sila ke-1; Ketuhanan Yang Maha Esa.

Kamis, 03 Juli 2014

“Berpolitik” Menurut Nilai Kristiani (Matius 22:21)

Dalam situasi politik yang semakin memanas di Indonesia, setiap orang percaya hendaknya turut serta dalam menjaga suasana negara tetap kondusif. Sehingga mampu untuk bersikap dan berpolitik secara arif. Sebagaimana pendapat Tuhan Yesus dalam ayat 21 dapat dijadikan petunjuk, tentang bagaimana sikap seorang Kristen terhadap negaranya. Dapat dimengerti bersama bahwa Kerajaan Tuhan Yesus bukan berasal dari dunia ini (Yoh. 18:36). Oleh karenanya Tuhan Yesus menolak diangkat menjadi raja, namun turut tunduk pada tata negara ketika berada di bumi (Mat. 17:24-27). Dengan prinsip tersebut Tuhan Yesus juga mengajar setiap orang percaya untuk hidup dalam kepatuhan kepada pemerintah. Akan tetapi, kepatuhan tersebut hendaknya tetap memperhatikan firman Allah. Sebagaimana rasul Petrus dengan tegas menyatakan bahwa: “Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia” (Kis. 5:29).  Dengan demikian jelas bahwa, kepatuhan kepada Allah tercermin dari kepatuhan orang percaya terhadap pemerintah yang mengupayakan keadilan.
Selanjutnya, kepatuhan terhadap pemerintah juga berarti turut serta menyejahterakan bangsa (Yer. 29:7). Semangat menyejahterakan bangsa berarti menjunjung nilai-nilai kebangsaan sesuai dengan kebenaran Alkitab, yang berguna untuk membangun negara. Sebagai contoh ialah Pancasila. Dengan ber-Pancasila kita dimampukan untuk menjadi warga negara yang baik, tanpa meninggalkan iman kepada Tuhan. Sebagai warga negara yang ber-Pancasila pasti dimampukan untuk membangun bangsa, bukan merusaknya. Oleh karenanya, kita patut bersyukur, karena Indonesia berideologi Pancasila. Dengan Pancasila kita mendapat kesempatan berpolitik menurut nilai kristiani.
Berpolitik menurut nilai kristiani, membawa kita kepada pembangunan bagi bangsa ini. Sebagai contoh, pesta demokrasi yang akan berlangsung pada tangal 9 Juli 2014. Melalui PEMILU Presiden 2014, kita diberi kesempatan untuk menjadi warga negara yang baik tanpa meninggalkan iman kepada Tuhan. Dengan menggunakan hak suara di TPS kita telah turut serta mensukseskan pembangunan bagi negara kita. Para Capres dan Cawapres telah membeberkan visi dan misinya. Bersama-sama marilah kita memilih pemimpin sesuai dengan hati nurani. Setiap orang boleh menyanjung ‘jago’-nya, dan lebih baik juga bila tidak merendahkan ‘jago’ yang lain. Sebagai orang percaya yang menjadi warga negara Indonesia, mari kita turut serta membangun bangsa Indonesia. Dengan jalan mengupayakan kesejahteraan dan keamanan. Salah satunya, dengan jalan ‘berpolitik’ menurut nilai kristiani.

Say No to Divorce !

If we pay attention to the divorce statistics in Indonesia, we may be interested in the facts. According to data from the Director General o...