Tampilkan postingan dengan label renungan harian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan harian. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 Agustus 2020

Masker Tidak Bermanfaat Mengantisipasi Covid-19?

 Ada banyak anggapan di masyarakat, bahwa menggunakan masker saat bepergian merupakan hal yang kurang nyaman. Akan tetapi, hal tersebut tidak dapat dipakai sebagai dasar bagi kita untuk tidak menggunakan masker. Dunia telah membuktikan, bahwa pemakaian masker dapat menurunkan angka penularan covid-19 secara signifikan.

Berikut cara yang benar ketika menggunakan masker:

1. Pakailah masker yang nyaman, dan menutup area hidung dan dagu.

2. Pakailah masker saat ke luar rumah

3. Perhatikan, jangan sampai masker menjadi lembab - bila sudah terasa lembab ganti.

4. Pakailah masker sekali pakai, atau masker yang dapat dicuci (dengan syarat tidak dipakai berulang kali tanpa dicuci)

Ingat, dengan masker kita mencegah droplet masuk dan keluar dari alat pernafasan kita. Jadi, pakailah masker untuk mengantisipasi penyebaran covid-19.

Perhatikan Amsal 15:2, di sana ditulis bahwa: "Lidah orang bijak mengeluarkan pengetahuan, tetapi mulut orang bebal mencurahkan kebodohan.". Hari ini, mari kita menjadi pribadi yang bijaksana. Jangan sampai kita meremehkan orang yang patuh menggunakan masker. Sebab, masker adalah pilihan bagi orang bijaksana untuk mengantisipasi covid-19.

Kunci Sukses Indonesia Menangani Covid-19 tahun 2020

 Jumlah pasien sembuh covid-19 di Indonesia telah mencapai 107.500 (dilansir dari covid19.co.id/ 23 Agustus 2020). Tentu berita tersebut cukup menggembirakan. Pasalnya, 6 hari setelah Indonesia merayakan hari kemerdekaan, SATGAS Penggulangan Covid-19 RI menjelaskan bahwa penderita yang terkofirmasi covid-19 mencapai 153.535 jiwa. 


Pemerintah Indonesia juga secara aktif berupaya mengatasi covid-19 melalui pembuatan vaksin. Nama vaksin tersebut adalah 'Vaksin Merah Putih'. Dari sisi uji klinis vaksin merah putih buatan Indonesia diperkirakan selesai pada akhir tahun 2021 dan akan diproduksi secara massal pada awal 2020 (CNBC Indonesia, 24 Agustus 2020).

Pemerintah juga menghimbau masyarakat untuk menggunakan masker ketika harus bepergian keluar rumah. Serta melarang semua aktivitas masyarakat yang mengundang kerumunan massa. 

Tokoh agama dan seluruh elemen masyarakat juga bergerak secara sinergis untuk menciptakan suasana wilayah yang aman dari covid-19. Tidak sembarang orang dapat masuk ke desa. Bahkan untuk pergi ke luar wilayah pulau harus memiliki surat keterangan sehat.

Sampai detik ini, kita percaya bahwa Tuhan Yesus menyertai bangsa Indonesia, asalkan ada kerukunan di masyarakat. Tanpa ada kerukunan, mustahil ada kesatuan. Tanpa kesatuan seluruh elemen masyarakat Indonesia, mustahil Indonesia selamat dalam melewati badai covid-19.

Mazmur 133:1-3 tertulis demikian: "Nyanyian ziarah Daud. Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun!  2 Seperti minyak yang baik di atas kepala meleleh ke janggut, yang meleleh ke janggut Harun dan ke leher jubahnya.  3 Seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion. Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya."

Jadi, mari kita dukung pemerintah RI untuk mengatasi covid-19. Patuhi protokol kesehatan yang telah ditetapkan. Doakan pemerintah RI dalam menangani wabah covid-19. Ingat, yang lebih penting dari itu semua adalah, mari kita jaga kerukunan antar warga masyarakat, sehingga kita dimampukan untuk BERSATU MELAWAN COVID-19.

Rabu, 19 Agustus 2020

4 Kali Gempa Bumi dalam Satu Hari: Tanda Kiamat?

 Di wilayah Indonesia, dalam beberapa tahun terakhir telah dilanda gempa bumi yang dahsyat. Kita telah melihat beberapa tayangan di media massa, menunjukkan bahwa wilayah Lombok, Papua, Ambon, dan terakhir di wilayah Bengkulu.

Akan tetapi, bagi saya hari ini cukup mendebarkan hati. Karena dalam satu hari, wilayah Bengkulu dilanda gempa kembar, sedangkan wilayah Ambon dilanda gempa berkekuatan kecil

Menurut data dari bmkg.go.id, pada hari Rabu, 19 Agustus 2020, telah terjadi empat kali gempa di wilayah Indonesia.

Pada pukul 05.23.56 WIB, gempa bumi telah menggoncang wilayah laut, sekitar 169 km arah Barat Daya dari Bengkulu. Meskipun tidak berpotensi stunami, akan tetapi gempa tersebut tergolong kuat, yakni 6.9 skala richter.

Dalam waktu yang hampir bersamaan, pukul 05.29.35 WIB, di laut 78 Km Barat Daya Bengkulu Utara mengalami pula gempa dengan kekuatan 6.8 skala richter. Getaran dapat dirasakan sampai di wilayah Kepahiang, Padang, Liwa, Painan,dan Mentawai, dengan kedalaman gempa sekitar 11 Km.

Demikian pula wilayah Ambon - Kairatu sekitar siang pukul 06.39 WIB digoncang oleh gempa berskala kecil yakni 2.8 skala richter. Memasuki pukul 11.49, Elpaputih-Masohi merasakan gempa berkekuatan 3.3 skala richter. 

Berita tersebut, tentu membawa perenungan bagi kita. Apakah gempa ini menjadi tanda kiamat? 

Dalam Injil Matius 24:4-8 , Tuhan Yesus menjelaskan bahwa gempa bumi diberbagai tempat merupakan tanda zaman baru. Pada waktu yang demikian, banyak terjadi penyesatan iman. Terjadi deru perang di mana-mana. Ada kelaparan terjadi di seluruh negeri. Akan tetapi, Tuhan Yesus mengingatkan, supaya  kita tetap teguh. Jangan sampai kita menjadi gelisah dan ketakutan, sebab Ia menyertai kita sampai akhir zaman. Tuhan Yesus menyertai kita melalui Roh-Nya, sehingga kita selamat sampai di sorga. Amin.

Senin, 20 April 2020

Jangan Takut dengan Covid-19 (I Korintus 10:13)

Jangan Takut dengan Covid-19 
(I Korintus 10:13)

Manusiawilah bila seseorang mengalami ketakutan. Ada yang memiliki ketakutan terhadap hewan tertentu - atau merasa jijik. Ada pula yang merasa takut masa depan keluarganya tidak secerah harapan. Mungkin pula ada yang merasa takut gagal dalam kehidupan. Namun demikian, sebagian besar orang takut mengalami proses kematian - yang menurut mereka 'mengerikan'. Orang bisa saja takut mati karena kecelakaan atau karena terkena wabah covid-19. Kenyataan tersebut menunjukkan bahwa ada begitu banyak ketakutan yang dapat dialami oleh seseorang.
   Saat ini, Indonesia termasuk sebagai negara yang turut serta menghadapi wabah covid-19. Pemerintah dengan sungguh-sungguh menangani wabah ini. Bahkan Presiden Joko Widodo, dalam rapat terbatas secara telekonferensi tanggal 20 April 2020 menyampaikan:"Seluruh daerah agar menangani Covid-19 ini dengan melakukan pengujian sampel yang masif, pelacakan yang agresif, dan isolasi yang ketat". Meskipun pemerintah Indonesia telah memberikan bukti kerja keras dan tata kelola penanganan Covid-19 dengan baik, masih ada pula sebagian masyarakat yang ketakutan. Sebagai akibatnya, mereka mengalami semacam penyakit psikosomatis. Ada yang merasa sesak nafas, demam, batuk, atau pilek, sehingga kuatir terkena covid-19. Padahal sebenarnya, penyakit yang dialami tidak ada kaitannya dengan Covid-19. Oleh karena itu, kenyataan yang demikian harus diatasi.
      Sebagai pribadi yang percaya sungguh-sungguh kepada Tuhan Yesus, baiklah kita memahami dan meyakini akan firman Tuhan dalam I Korintus 10:13. Ini adalah firman Tuhan yang memberikan kepada kita penghiburan sekaligus keyakinan, agar kita tidak larut takut dengan wabah Covid-19. 
Demikianlah firman Tuhan: "Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya."
     Firman Tuhan dalam I Korintus 10:13, memberitahukan kepada kita bahwa: 1. Selama di dunia, kita akan menghadapi pencobaan. 2. Selama mengalami pencobaan, TUHAN Allah tidak tinggal diam. 3. TUHAN Allah akan memberikan jalan keluar atas pencobaan yang kita alami. Dengan demikian, jelaslah, bahwa kita tidak perlu takut dengan hawa mencekam dari kabar wabah Covid-19.
       Mungkin ada yang menyampaikan pertanyaan: "Bila kami tidak takut, bolehkah kami tidak pakai masker bila keluar rumah?" atau "Bolehkah kami yang di kota melaksanakan mudik atau pulang kampung?". Tentu itu bukanlah hal yang sesuai dengan keberadaan kita sebagai umat Kristen. Mari kita bantu pemerintah, bersabar dan tenanglah dalam menghadapi persoalan ini. Kepanikan atau stress berlebihan harus kita hindari. Saat ini, imunitas tubuh harus tetap kita jaga. Baik melalui makanan sehat, maupun hati yang tenang.
        Saat ini, dalam menghadapi wabah Covid-19 bersama pemerintah, yang perlu kita lakukan adalah jangan sampai kita menjadi ketakutan. Mengalami kepanikan yang luar biasa bukanlah ciri-ciri pribadi yang percaya sungguh-sungguh kepada Tuhan Yesus. Oleh karena itu, terimalah kenyataan bahwa di dunia kita pasti mengalami pencobaan. Maka, milikilah keyakinan bahwa TUHAN Allah akan bertindak menyelamatkan kita, dan Ia akan memberikan jalan keluar atas persoalan kita. Tuhan Yesus memberkati.

Sabtu, 18 April 2020

Membangun Iman di tengah Wabah Covid-19 (Efesus 3:14-21)

Membangun Iman di tengah Wabah Covid-19 
(Efesus 3:14-21)

Sampai hari ini, marilah kita mengucap syukur kepada Tuhan Yesus. Oleh karena kebaikan-Nya, kita dapat beribadah bersama-sama dalam keluarga. Mungkin ada yang sudah merindukan untuk ibadah bersama dalam jemaat. Ada yang merindukan pertemuan secara fisik dalam kebaktian bersama. Namun demikian, situasi dan keadaan di Indonesia secara umum, belum memungkinkan bagi kita untuk melakukannya. Dalam keadaan yang demikian, baiklah kita tetap memiliki semangat dalam menjalani kehidupan.
Apabila kita cermati surat yang ditulis oleh rasul Paulus kepada jemaat di Efesus. Akan kita dapati, bahwa rasul Paulus begitu semangat untuk tetap mengasihi jemaat Efesus. Semangat tersebut tercermin dalam surat yang ditulisnya, secara khusus pada pasal 1:15-23 dan 3:14-21. Biasanya, doa itu ditulis pada awal surat sebagai salam pembuka, atau dibagian akhir surat sebagai salam penutup. Uniknya, rasul Paulus menuliskan pokok doanya pada dua bagian isi surat. Setelah memberikan penjelasan tetang berbagai-bagai anugerah bagi orang percaya (1:3-14), rasul Paulus langsung menutup dengan doa. Demikian selanjutnya, setelah menjabarkan kuasa kasih Kristus bagi orang-orang bukan Yahudi (pasal 2 dan pasal 3:1-13), rasul Paulus melanjutkan dengan sebuah doa: “Itulah sebabnya aku sujud kepada Bapa...”.
Keberadaan yang demikian, menunjukkan bahwa rasul Paulus memiliki semangat kuat untuk membangun iman kepada Tuhan Yesus. Meskipun ia berada di penjara. Namun semangatnya untuk membangun iman tetap menyala-nyala. Ia membangun imannya dan orang-orang yang berada dalam jangkauannya.
Melalui teks firman Tuhan dalam Efesus 3:14-21, kita diajarkan bagaimana supaya tetap semangat untuk membangun iman kita secara pribadi dan orang-orang terdekat kita.

Pertama, berdoalah secara pribadi
Mari kita perhatikan ayat 14-15. Dalam teks tersebut dijelaskan, oleh karena keprihatinan terhadap iman jemaat di Efesus, maka ia sujud kepada Allah Bapa – untuk berdoa. Ayat tersebut memberikan penerangan kepada kita, bahwa Allah Bapa menghendaki supaya kita juga memiliki waktu berdoa secara pribadi (Lihat Matius 6:6). Dalam pertemuan yang pribadi  dengan Allah inilah, jiwa kita disegarkan. Kita mengerti, bahwa persekutuan dalam jemaat itu menyegarkan jiwa. Namun, jangan pula dilupakan, bahwa tanpa berdoa secara pribadi kita tidak akan pernah mampu melakukan apa-apa bagi Tuhan. Nehemia dan Rasul Paulus, dapat menjadi teladan iman bagi kita dalam hal doa pribadi. Dalam doa pribadi, jiwa kita disegarkan dan mendapatkan firman Tuhan. Bagaimana kita hendak menyegarkan iman orang lain, bila dalam kenyataannya jiwa kita belum disegarkan dengan keyakinan terhadap satu firman Tuhan? Maka, sujudlah dihadapan Allah Bapa dalam doa agar jiwa kita disegarkan dan iman kita dikuatkan.

Kedua, doakanlah pribadi-pribadi dalam jangkauan
Dalam ayat 14-21, merupakan gambaran dimana kita harus mendoakan orang-orang dalam jangkauan kita. Rasul Paulus hanya mampu menyampaikan pokok doanya kepada jemaat di Efesus, karena ia masih berada dalam penjara. Mengingat keadaan jemaat Efesus yang harus menghadapi tantangan penyesatan, maka rasul Paulus hanya menyampaikan pokok doa kepada Jemaat Efesus melalui surat. Jemaat didoakan supaya tetap beriman teguh kepada Tuhan Yesus dan mengalami kasih Kristus. Namun berbeda halnya, dengan apa yang dikerjakan oleh Tuhan Yesus setelah bangkit dari kematian. Ia menampakkan diri kepada para murid, lalu memberikan pencerahan, bahkan mendoakan mereka. Kita ingat peristiwa ini, bahwa ketika Tuhan Yesus bangkit, Ia tidak langsung naik ke sorga. Tuhan tidak langsung meninggalkan para murid yang berada dalam ketakutan. Tuhan Yesus berkenan menampakkan diri kepada para murid, menyampaikan janji firman-Nya dan setelah itu barulah Ia terangkat ke sorga.
       Mari kita doakan orang-orang yang berada dalam jangkauan kita. Kita harus tahu, mungkin orang-orang disekitar kita mengalami ketakutan, stress atau tekanan, atau pergumulan berat. Mari kita menjadi pribadi yang mendoakan mereka secara langsung, supaya damai sejahtera Kristus dialami juga oleh orang dalam jangkauan kita (secara khusus keluarga serumah).
      
Ketiga, sampaikan perkataan yang membangkitkan pengharapan kepada Kristus
Dalam ayat 14-21, kita melihat bahwa pokok doa  yang disampaikan rasul Paulus kepada jemaat Efesus menimbulkan pengharapan kepada Kristus. Tidak ada intimidasi maupun kecaman dalam surat tersebut. Demikian pula kita ingat, setelah Tuhan Yesus bangkit dan menampakkan diri kepada para murid, Ia tidak mengecam para murid yang tidak percaya. Tetapi justru Tuhan Yesus memulihkan ketidakpercayaan mereka dan memberikan janji, agar mereka tetap berharap kepada-Nya.
       Mari kita sampaikan perkataan yang membangkitkan pengharapan kepada Tuhan Yesus. Istri bisa berkata kepada suami kita: “Papa tetap semangat, Tuhan Yesus tidak tinggalkan kita”. Suami bisa menyemangati istri: “Mama, jangan kuatir, Tuhan Yesus mencukupkan kebutuhan kita”. Orang tua dapat berkata kepada anak-anaknya: “Tetap berdoa ya nak, Tuhan Yesus mengasihi kita”. Anak-anak bisa berkata kepada orang tuanya: “Mama, Papa, Tuhan Yesus baik”.

Penutup
Ditengah wabah Covid-19, kondisi dan keadaan tidak memungkinkan bagi kita untuk membangun iman melalui pertemuan dalam jemaat. Namun, marilah kita tetap semangat untuk membangun iman kita pribadi dan orang-orang dalam jangkauan kita (dalam hal ini keluarga kita serumah). Mari kita teladani Tuhan Yesus. Setelah kebangkitan-Nya, Ia berkenan menampakkan diri kepada para murid. Bahkan membangkitkan semangat dan iman para murid. Maka, marilah bersama kita miliki waktu untuk doa pribadi, doakan orang-orang dalam jangkauan dan sampaikan perkataan yang membangkitkan iman kepada Kristus.

Sabtu, 05 Mei 2018

Menghayati Hidup yang Berpadanan dengan Panggilan (Efesus 4:1)


Membaca Efesus pasal 4, mungkin akan membuat kita tertegun sejenak. Seorang rasul, yang telah mengalami hambatan bahkan penderitaan hasil kekejaman tentara dalam penjara, masih peduli untuk menggembalakan jemaat di Efesus melalui suratnya. Bagaimana pun, setiap orang akan mengalami kesulitan dalam menulis surat yang bernilai kekal dari dalam penjara yang kejam. Namun, oleh pertolongan Roh Kudus rasul Paulus dimampukan untuk menuliskan sesuatu yang membangun bagi jemaat di Efesus.
            Bukannya merasa malu, tetapi justru tersirat kebanggaan dan kedamaian hati ketika rasul Paulus menulis bahwa: ‘...Aku sebagai seorang tahanan, karena melayani TUHAN...’. Pernyataan tersebut, juga memberikan motivasi kepada jemaat Efesus supaya tidak perlu patah semangat jika mengalami penderitaan oleh karena kesediaan melayani TUHAN. Tantangan itu muncul bisa dari kita pribadi, bisa juga dari luar diri kita. Namun pertanyaannya, bisakah kita menjadi pribadi yang bangga dan damai ketika mengalami tantangan karena kesediaan melayani TUHAN? Tentu saja kita bisa, jika percaya akan firman Tuhan yang menyatakan bahwa: “Ingat, Aku sudah memerintahkan kepadamu supaya engkau sungguh-sungguh yakin dan berani! Janganlah engkau takut atau kurang bersemangat, sebab Aku TUHAN Allahmu mendampingi engkau ke mana saja engkau pergi." (Yosua 1:9). Dengan demikian keyakinan kepada firman Tuhan, merupakan kunci kebanggaan dan kedamaian hati ketika melayani Tuhan.
            Selanjutnya, rasul Paulus menyatakan dengan sungguh-sungguh serta menasihatkan kepada jemaat Efesus supaya hidup berpadanan dengan panggilan Tuhan. Maksudnya ialah supaya jemaat Efesus menjalani kehidupan sesuai dengan kedudukan yang telah dianugerahkan oleh Allah. Secara jelas, Alkitab memberitahukan kepada kita bahwa kita yang percaya kepada TUHAN Yesus dengan sungguh-sungguh adalah anak-anak Allah (Yohanes 1:12). Kedudukan yang demikian, merupakan kedudukan yang terhormat.  Sehingga dalam pasal empat, rasul Paulus memberikan penekanan supaya menggenapi etika sebagai pribadi Kristen (4:2-32). Sebab, bukanlah sesuatu yang pantas bila seorang Kristen tidak hidup dalam etika Kristen. Jadi secara sederhananya, sebagai orang Kristen –pribadi yang berkedudukan sebagai anak-anak Allah – kita hendaknya hidup dalam etika Kristen.
            Mungkin ada yang berpendapat bahwa terlalu banyak tantangan dan kesulitan untuk menjalani kehidupan sesuai kedudukan sebagai anak-anak Allah. Ya, bagi seorang yang lahir bukan dari Allah pasti akan merasa kesulitan dan menyerah sehingga  tidak hidup seturut etika Kristen yang rasul Paulus telah kemukakan. Namun demikian, bagi pribadi-pribadi yang lahir dari Allah bukan berarti tidak ada kesulitan. Bagi orang-orang yang lahir dari Allah, ia akan terus bertumbuh ke arah Kristus (4:16). Ia mungkin pernah salah dan berbuat dosa, tetapi ia akan bangkit kembali serta memperbaiki hidupnya (4:20-24), sehingga ia terus berjuang mempertahankan predikat atau kedudukannya sebagai anak-anak Allah. Tidak menyerah, dan tidak akan pernah lelah (Yesaya 40:29). Melalui renungan ini, mari kita ingat kedudukan kita sebagai anak-anak Allah dan hiduplah sesuai dengan kedudukan kita.

Sabtu, 04 Februari 2017

Kasih TUHAN itu Kekal Abadi (Ratapan 3:22-23)

Seiring dengan kesukaran ataupun masalah yang menghimpit kehidupan, sudah sewajarnya bila seseorang meratap atau menangis. Namun ada seorang nabi, yang ketika meratap justru menuliskan ratapannya itu melalui sebuah syair puitis. Nabi tersebut bernama Yeremia. Ia menuliskan ratapannya karena bangsa Israel jatuh ke tangan bangsa Babel pada tahun 586 SM. Nabi yang meratap tersebut mengalami pula ketidak-adilan, meskipun tidak bersalah terhadap siapapun Yeremia ikut mengalami penderitaan. Tangannya bergelang rantai besar yang mengikat. Kakinya tidak bebas berjalan, karena beban besi diikatkan pada kaki. Yeremia bukan hanya menjadi saksi tumbangnya Israel, tetapi ia juga turut mengalami kebengisan tentara Babel. Apabila direnungkan barang sejenak, ketika membaca kitab Ratapan maka didapati sebuah pelajaran berharga. Sebagaimana dapat diketahui bahwa yang ditulis oleh Yeremia bukan hanya sebuah ratapan tetapi lebih dari pada itu. Ia meuliskan sebuah ratapan yang disertai oleh keyakinan akan janji Tuhan. Oleh karena itu, setiap pembaca kitab Ratapan pada waktu itu mendapatkan penghiburan dan kekuatan secara luar biasa. Demikian pula kita yang hidup pada masa post-modern sekarang ini, akan menerima ‘berkat’ rohani bila merenungkan kitab Ratapan.
Salah satu ayat dalam kitab Ratapan 3:22-23, menyatakan secara jelas keyakinan Yeremia terhadap janji TUHAN.  Bahwa pada dasarnya kasih TUHAN bersifat kekal abadi. Ada satu kata yang menerangkan akan kasih Allah yakni, khesed yang berarti kebaikan yang dilakukan untuk mendatangkan kebahagiaan dan keuntungan. Adapun  jangka waktu khesed TUHAN adalah kekal abadi. Oleh karena itu, rancangan TUHAN adalah rancangan yang mendatangkan kebaikan dan damai sejahtera bagi setiap orang yang mengasihi-Nya (Roma 8:28). Pada ayat 23, arti dari kesetiaan TUHAN juga dibarengi dengan ungkapan “besar kesetiaan-Mu”. Maksud dari besar kesetiaan-Mu bukanlah tentang ukuran, tetapi tentang sifatnyat. Bahwa kesetiaan (emuwnah) TUHAN itu bersifat tegas, teguh, dan langgeng. Dengan demikian dapat diketahui bersama, bahwa kasih setia TUHAN ialah karya TUHAN yang mendatangkan kebaikan ataupun keuntungan bagi setiap pribadi yang mengasihi-Nya. Serta yang lebih penting dari pada itu semua adalah kenyataan bahwa TUHAN menyatakan kesetiaan-Nya dengan tegas, teguh dan langgeng. Oleh karena TUHAN penuh dengan kasih setia, bukan berarti kita berhak untuk sebebas-bebasnya berkubang dalam dosa. Justru sebaliknya, kehidupan kita hendaknya menyatakan kasih kepada TUHAN. Kasih itu dapat kita wujudkan dengan menjaga kekudusan hidup, dan menunjukkan kasih terhadap sesama.

Seperti tahun-tahun yang lalu, setiap bulan Februari dianggap sebagai bulan perayaan penyataan cinta oleh sebagian masyarakat. Perayaan tersebut lebih dikenal dengan sebutan hari ‘Valentine’. Tentu dalam hal merayakan dan menyatakan cinta, semua orang berhak melakukannya. Namun demikian, perayaan dan penyataan cinta tersebut hendaknya tetap mencerminkan kekudusan dan kasih TUHAN. Sehingga setiap orang tidak hidup dengan sembarangan. Satu hal yang menarik adalah bahwa bulan Februari menjadi momen yang tepat untuk setiap orang menyatakan kasih dalam keluarganya. Tentu saja dalam mengungkapkan kasih itu dapat dilakukan dengan cara melakukan sesuatu yang mendatangkan kebahagiaan dan keuntungan dalam kekudusan. Usia bukanlah halangan bagi setiap pribadi untuk mengungkapkan kasih. “Isi dompet” juga bukan halangan bagi seseorang untuk menyatakan kasih bagi keluarganya. Oleh karena itu, marilah bersama-sama kita menyatakan kasih kepada keluarga kita dengan kasih abadi. Sebagaimana kasih TUHAN itu kekal abadi.

Sabtu, 13 Juni 2015

Muliakanlah Tuhan dengan Hartamu

Amsal 3:9-10
Muliakanlah TUHAN dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu,
maka lumbung-lumbungmu akan diisi penuh sampai melimpah-limpah, dan bejana pemerahanmu akan meluap dengan air buah anggurnya.

I.                   Pendahuluan
Mempermuliakan Tuhan dengan harta dan hasil terbaik yang dimiliki telah diteladankan oleh bapa-bapa leluhur dalam Alkitab. Sebagaimana dapat diperhatikan melalui persembahan Habel. Persembahan yang dihaturkan kepada Allah adalah yang terbaik dari yang Habel miliki (anak sulung kambing dombanya, yakni lemak-lemaknya) – Kej.4:4. Dari apa yang telah dilakukan oleh Habel, maka nyata bahwa Habel sedang menghormati Allah dengan hartanya. Dengan berbagai cara kita dapat menunjukkan rasa hormat kita kepada Allah. Bukan hanya melalui hasil pemikiran, perbuatan baik, dan tenaga, namun juga harta kita. Oleh karenanya, sebagai orang-orang yang ditebus oleh Tuhan; baiklah kita memuliakan, menghormati Tuhan juga dengan harta. Sebab segala sesuatu yang ada pada kita adalah anugerah Tuhan, dan semua anugerah Tuhan harus ditujukan untuk kemuliaan Tuhan.
Konsep untuk menghaturkan harta terbaik atau hasil pertama dari segala penghasilan akhirnya dijadikan sebagai perintah Allah kepada umat-Nya. Dapat dilihat pada Keluaran 23:19, “Yang terbaik dari buah bungaran hasil tanahmu haruslah kau bawa ke dalam rumah TUHAN, Allahmu. Janganlah kaumasak anak kambing dalam susu induknya”. Dapat dipahami bersama bahwa perintah ini diberikan Allah dengan tujuan supaya bangsa Israel mengutamakan Tuhan: taat dengan penuh kasih kepada Allah. Bahkan dapat dimengerti bersama bahwa Allah memberikan janji berkat-Nya ketika orang percaya bersedia menghormati Tuhan dengan harta yang dimiliki. Tuhan berfirman melalui Maleakhi demikian: “Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan” (Malaekhi 3:10).
Berkenaan dengan memberikan persembahan terbaik dengan harta, juga ditulis oleh Penulis Amsal. Dalam Amsal 3:9-10, diberikan arahan bagi setiap orang yang mengasihi Tuhan. Bahwa setiap orang yang mengasihi Tuhan, bersedia untuk memuliakan Tuhan dengan hasil terbaik yang dimiliki. Bahkan ada janji yang diberikan, atas kesungguhan umat yang mengutamakan Tuhan. Namun bagaimana kita dapat mempermuliakan Tuhan dengan harta kita?

II. Bagaimana kita dapat Mempermuliakan Tuhan dengan Harta Kita?
  1. Dihaturkan kepada Tuhan melalui Gereja (ay. 9)

Dalam ayat 9, jelas bahwa kata “muliakanlah” sama maknanya dengan “hormatilah”. Dalam konteks ini, memulikan atau menghormati Allah dapat diaktualisasikan dengan cara mempersembahkan kepada Tuhan di Rumah Tuhan (Gereja). Tuhan telah mendirikan jemaat sebagai wadah bagi tiap-tiap orang percaya untuk dapat saling bertumbuh di dalam Tuhan dan menyatakan kasih. Sehingga setiap persembahan yang ada, dipersembahkan kepada Tuhan melalui Gereja (Kel.23:19).
Dalam Malekhi 3:10, Tuhan menjelaskan adanya tujuan dalam persembahan. Tujuannya supaya “Ada persediaan makanan di Rumah Tuhan”. Apa maksudnya? Dalam Rumah Tuhan (gereja) ada beberapa sektor yang membutuhkan dana, ini bukanlah hal yang tabu untuk dibicarakan. Akan tetapi hendaknya dapat dimengerti dengan benar. Bahwa dalam gereja ada kaum Lewi (pelayan-pelayan Tuhan) yang tidak memiliki tanah warisan. Melalui persembahan tersebut, bukan berarti hamba Tuhan yang dikenyangkan namun ini adalah perintah Tuhan yang mengandung berkat. Siapa yang menghormati utusan Tuhan, dia yang akan menerima berkat dari Tuhan (I Raj. 17: 14-17 & 22). Dalam hal persembahan, kaum Lewi (pelayan-pelayan Tuhan) menerima kesempatan untuk menerima perpuluhan dan memberikan perpuluhan kepada Tuhan (Ibrani 7:8-10). Jangan sampai para Lewi meninggalkan tugas pelayanan dan bekerja di ladangnya karena tidak ada persembahan yang dihaturkan ke Rumah Tuhan (Nehemia 13:10-12). Demikian juga janda-janda atau jemaat yang kesripahan membutuhkan uluran tangan kita melalui persembahan kasih (Kis. 6:1-4). Lagi tentang pengembangan program gereja, juga dibutuhkan dana untuk menggerakkannya melalui persembahan (Ezra 2:68).
Perlu diingat, bahwa gereja bukanlah sebuah perkumpulan sosial sehingga para pelayan Tuhan harus “mengemis dan memohon” atau secara halusnya “menggali dana ditempat sendiri” itu pun terkadang hanya sedikit yang diterima. Bukan itu, tetapi yang benar adalah hari ini firman Tuhan disampaikan barangsiapa bersedia taat menghaturkan yang terbaik kepada Tuhan melalui Gereja, berarti ialah orang yang memuliakan Allah dengan hartanya. Kehidupannya, keluarganya, dan gerejanya akan merasakan-mengalami berkat-berkat Allah.

      2.  Dengan menghaturkan hasil terbaik dari karya yang benar (ay. 9)

Selanjutnya, dalam rangka menghormati Tuhan tentunya pemberian kita tidaklah serelanya atau sekedarnya. Seperti orang yang memberi sesuatu kepada pengemis. Persembahan yang ditujukan untuk menghormati Tuhan, tentu mengarah pada satu tujuan yakni pemberian yang terbaik. Seorang yang hendak menghormati tamunya dalam acara pesta, pasti memberikan yang terbaik dari yang ia miliki (Yoh. 2:10).
Tentunya bukan hanya hasil terbaik yang dikejar, tetapi caranya mendapatkan harta juga harus diperhatikan. Mendapatkan harta dengan cara yang benar adalah kehendak Tuhan, maka kita juga harus memberikan yang terbaik dari hasil karya yang benar (3:6). Bagaimana caranya, tentu dengan mengakui keberadaan Tuhan dalam sepanjang apa yang kita kerjakan. Menundukan diri pada ketaatan untuk hidup kudus dan saleh untuk menghasilkan buah adalah lebih berharga. Dari pada bekerja dengan penuh tipu muslihat untuk mendapatkan banyak keuntungan. Dengan demikian, kepada Tuhan kita harus memberikan yang terbaik dari hasil karya yang benar. Sebagai salah satu contohnya ialah persembahan perpuluhan (Malaekhi 3:10). Melalui persembahan perpuluhan setiap umat Tuhan dituntun untuk hidup mengutamakan Tuhan melalui hasil karya yang benar.

3.   Dihaturkan kepada Tuhan dengan ketulusan (ps. 3:5, bdg. 2 Korintus 9:7)

Pemberian yang terbaik tentunya dilakukan dengan penuh ketulusan kepada Tuhan, bukan dengan terpaksa. Ketulusan untuk menghaturkan yang terbaik, dilandasi oleh kepercayaan kepada Tuhan. Seseorang mampu utuk tulus memberi karena ia percaya akan janji Tuhan (ay. 5). Dalam ayat 10, firman Tuhan menjanjikan kelimpahan dalam kehidupan orang yang menghaturkan persembahan yang terbaik dengan ketulusan. Dengan demikian mustahil bagi orang yang tidak percaya pada firman Tuhan untuk melakukan perintah Tuhan ini. Mungkin bisa, namun tidak ikhlas. Harus dimengerti bahwa harta kita bukanlah milik kita, Ulangan 8:17 memberikan gambaran untuk kita tetap rendah hati bahwa harta kita adalah karunia Tuhan. Oleh karenanya, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mempersembahkan persembahan dengan hati yang tulus.

II.                Perenungan
Ada sebuah nasihat bijaksana yang diberikan oleh penulis Amsal, bahwa: “Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan. Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan, siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum” (Amsal 11:24-25). Mari kita perhatikan nasihat tersebut, apakah nasihat tersebut ada kaitannya dengan Tuhan? Tentu ada, sebagaimana dalam pasal 11:31 demikian: “Kalau orang benar menerima balasan di atas bumi, lebih-lebih orang fasik dan orang berdosa!”. Dengan demikian jelas dapat kita ketahui, siapa yang akan memberi kelimpahan dan hukuman; Dialah Tuhan. Oleh karena itu, selama ada di bumi ini pun, setiap orang percaya dapat menerima berkat-berkat dari Tuhan. Ketika kita mengutamakan Tuhan, Tuhan tidak melalaikan kita. Marilah bersama kita buktikan janji firman Tuhan yang tertulis dalam Amsal 3:9-10.


Senin, 09 Maret 2015

Tanpa Jemu untuk Mencari Tuhan – Markus 3:7-12


Kebaikan yang luar biasa telah dibuat oleh Tuhan Yesus, dengan menyembuhkan orang yang mati sebelah tangannya. Terjadi pada hari Sabat, bahkan ditengah ancaman pembunuhan dari orang-orang Farisi yang tengah bersekongkol dengan orang-orang Herodian. Namun apa yang dilakukan Tuhan Yesus merupakan sebuah keberanian untuk melaksanakan misi-Nya. Memang pada dasarnya ancaman pembunuhan selalu datang menghalangi Tuhan Yesus. Akan tetapi, karena waktunya belum tiba maka rencana pembunuhan itu selalu gagal. Perhatikan, ada keunikan strategi yang dipakai oleh Tuhan Yesus untuk menyebarkan berita keselamatan dan mujizar-Nya. Pertama-tama Tuhan Yesus menyingkir bukan untuk bersantai, namun menyingkir untuk memberikan pelayanan ditempat yang aman.
Ketika Tuhan Yesus menyingkir, menjauhi kerumunan, malah banyak sekali orang-orang yang datang mencari Dia. Justru ketika banyak orang datang kepada-Nya, Ia tidak menolak mereka. Tuhan Yesus memperlakukan mereka dengan baik dan memberikan solusi atas penyakit mereka. Penyakit yang diderita oleh orang-orang tersebut ialah penyakit yang ditimpakan dengan tujuan memunculkan pertobatan pada diri si penderita. Sebagaimana disampaikan oleh Musa kepada bangsa Israel: “Jika engkau tidak melakukan dengan setia segala perkataan hukum Taurat yang tertulis dalam kitab ini, dan engkau tidak takut akan Nama yang mulia dan dahsyat ini, yakni akan TUHAN, Allahmu,  maka TUHAN akan menimpakan pukulan-pukulan yang ajaib kepadamu, dan kepada keturunanmu, yakni pukulan-pukulan yang keras lagi lama dan penyakit-penyakit yang jahat lagi lama” (Ulangan 28:58-59). Dengan kedatangan Tuhan Yesus ke dunia, misi penyelamatan sudah dimulai. Allah menjadi begitu mudah untuk dicari, mudah untuk disembah, dan diagungkan. Maka nyata bahwa pada saat itu dan sampai sekarang kebaikan Allah begitu limpahnya diterima oleh orang-orang yang sungguh-sungguh mencari Dia. Tuhan sendiri mengatakan, “Carilah Aku maka kamu akan hidup” (Amos 5:4). Perhatikan, setiap orang yang mencari Tuhan tak pernah diberikan jawaban yang sia-sia. Apa maksudnya mencari Tuhan? Ada tiga elemen yang perlu kita lakukan yakni: berdoa, memuja, dan mendengarkan sabda-Nya (Ayub 8:5; Daniel 9:3). Dimana ini dapat terlaksana? Di Gereja atau tempat yang ditunjuk untuk dapat melaksanakan ibadah (Ulangan 12:5, Mzm. 27:4).

Pertanyaannya, mengapa Tuhan Yesus melarang keras roh-roh jahat itu memberitahukan kepada banyak orang tentang siapa Dia? Perlu dipahami dari latar belakang dan kesiapan pemahaman orang Israel tentang “Mesias = Anak Allah = penyelamat”. Pada waktu itu, orang-orang Yahudi berpendapat bahwa Mesias akan menyelamatkan mereka dari penjajahan bangsa Romawi. Jadi pada waktu itu, pemahaman mereka masih bersifat politis. Sedangkan yang sebenarnya ialah, bahwa Tuhan Yesus adalah Mesias secara rohani. Penyelamat manusia dari kebinasaan kekal di neraka. Sungguh ini merupakan masalah yang sangat serius apabila disalah mengerti oleh orang-orang Yahudi pada waktu itu. Kesalahmengertian akan eksistensi Tuhan Yesus sebagai Mesias, dapat menimbulkan pemberontakan. Sebab akan banyak orang menjadikan Tuhan Yesus sebagai raja duniawi dengan kesiapan membentuk pasukan militer. Justru dengan demikian pada akhirnya dapat menggagalkan misi Tuhan Yesus sendiri. Namun terpujilah Tuhan, hal tersebut dapat dihindarkan melalui otoritas ilahi. Selain alasan menghindari kesan politis, ada penafsir juga yang menyatakan bahwa alasannya ialah untuk menghindarkan Tuhan Yesus dari dosa kesombongan. Biarlah berita keselamatan tersebut menyebar secara alamiah dan benar tanpa mengurangi berita yang sesungguhnya. Sehingga pada waktu yang tepat Tuhan Yesus dapat dikenal dan dipuja bukan karena mujizat yang dilakukan seperti nabi yang lain. Namun sebagai Allah dalam segala eksistensinya.

Rabu, 04 Maret 2015

Pantang Menyerah dalam Melayani - Markus 3:1-6

Mari kita mencermati kehidupan para pelayan Tuhan, baik sejak Perjanjian Lama sampai sekarang ini. Apabila diperhatikan, tidak pernah tidak ditemui adanya penghambat ataupun tantangan dalam perjalanan pelayanan. Mungkin akan ada fitnah, cemoohan, bahkan ada yang selalu mencari-cari kesalahan untuk menjatuhkan. Akan tetapi sikap pantang menyerah senantiasa dimiliki oleh para pelayan Tuhan yang setia. Sehingga tidak sedikit yang akhirnya menjadi para pemenang, bahkan lebih dari seorang pemenang.
Mari kita perhatikan sebuah kisah yang ditulis oleh Markus. Dalam kisah yang ditulis ada tiga tokoh utama yang berperan menjadi pembelajaran iman. Pertama ialah seorang yang "mati sebelah tangannya". Ia adalah seorang yang membutuhkan pemulihan yang dari Tuhan. Ia tetap berangkat untuk beribadah, kelemahannya tidak menghalanginya untuk semangat menghadap Tuhan. Ia taat akan apa yang diperintahkan Tuhan Yesus, dan ia percaya kepada-Nya. Oleh karena perkenanan Tuhan Yesus dan imannya, ia disembuhkan oleh Tuhan. Tokoh kedua, ialah Tuhan Yesus. Tuhan Yesus melaksanakan apa yang menjadi misi-Nya disaat datang ke dunia sebagai manusia. Tugas utamanya ialah menyelamatkan manusia oleh karena janji-Nya. Ia benar-benar memberikan teladan sebagai seorang pemimpin berhati hamba. Hati-Nya digelisahkan oleh kedegilan orang Farisi namun berbelas kasihan kepada yang sakit. Tekad-Nya bulat, tidak dapat diubahkan oleh orang-orang yang mencari kesalahan-Nya. Misi-Nya tidak bisa digagalkan oleh siapapun, bahkan setan sekalipun tidak sanggup menggagalkan misi agung-Nya. Pelayanan-Nya dilaksanakan dengan ketulusan hati meski ada beberapa orang yang mencemooh. Selanjutnya ada sekelompok orang Farisi. Mereka mencari-cari kesalahan Tuhan Yesus untuk menjatuhkan. Bahkan lebih parah lagi, ketika Tuhan Yesus memberikan pertanyaan mereka tetap terdiam sinis. Pertanyaan yang dilontarkan Tuhan Yesus, seharusnya dapat membuka mata hati untuk menerima kebenaran. Namun, mereka tetap bersikukuh untuk menjaga agar mata hatinya tetap buta terhadap kebenaran firman.
Mungkin kita akan menemui ada banyak orang yang membutuhkan pertolongan kita. Di Sekeliling kita, tidak sedikit orang yang membutuhkan pertolongan. Namun, terkadang kita ragu untuk menolong. Kita merasa takut dipersalahkan, bahkan khawatir nama baik kita dilecehkan. Namun, marilah kita meneladani Tuhan Yesus, meskipun ada banyak orang-orang Farisi yang mencari-cari kesalahan-Nya, namun ketulusan dan tekad-Nya untuk berbuat kebaikan tetap dilaksanakan. Jangan bimbang untuk berbuat kebaikan, lakukanlah apa yang baik untuk mempermuliakan Tuhan. Sebab inilah yang menjadi kesaksian kita: yaitu bila kita menolong yang lemah, melakukan kebaikan untuk mempermuliakan Tuhan.

Sabtu, 28 Februari 2015

Mencari untuk Menemukan "Domba" yang Tersesat - Matius 18:12

"Bagaimana pendapatmu? Jika seorang mempunyai seratus ekor domba, dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan dan pergi mencari yang sesat itu? 
Matius 18:12

Sudah menjadi sebuah kebiasaan yang alamiah bagi gembala di Israel, apabila mencari domba kepunyaannya yang tersesat. Bahkan mencarinya sampai menemukannya. Secara jelas Yehezkiel menyampaikan kerinduan hati Allah kepada umat-Nya Israel. Bahwa pada dasarnya Allah mengumpamakan diri sebagai seorang gembala, dan umat israel adalah domba-domba-Nya. Yehezkiel menyampaikan, bahwa: "Dengan sesungguhnya Aku sendiri akan memperhatikan domba-domba-Ku dan akan mencarinya. Seperti seorang gembala  mencari dombanya pada waktu domba itu tercerai dari kawanan dombanya, begitulah Aku akan mencari domba-domba-Ku dan Aku akan menyelamatkan mereka dari segala tempat, ke mana mereka diserahkan pada hari berkabut dan hari kegelapan (Yeh. 34:11-12). Dengan demikian sudah menjadi kebiasaan alamiah, bila seorang gembala mencari dombanya yang tersesat. Meskipun hanya satu saja yang terhilang, seorang gembala akan tetap mencarinya sampai menemukan. Bahkan penggambaran seorang nabi Yesaya tentang hubungan Allah dengan umat-Nya, terlihat sungguh akrab. Dapat dibayangkan bila domba digembalakan dan dihimpun dengan penuh perhatian. Digambarkan seperti anak-anak domba yang dipangku-Nya dan seperti induk-induk domba yang dituntun dengan hat-hati, demikian pula keadaan umat di bawah penggembalan Allah. Betapa indahnya, dan berbahagianya penggembalaan yang dari Allah. Betapa Allah memperhatikan sampai sedetail mungkin kebutuhan pada domba-Nya. Bukan hanya makanan yang menyehatkan tetapi juga kasih sayang Allah berikan bagi umat-Nya. 
Oleh karena kesetiaan Allah terhadap firman-Nya, maka Allah sendiri yang mengambil segala resiko untuk menyelamatkan domba kepunyaan-Nya. Bahkan, pengurbanan Tuhan Yesus di atas kayu salib sungguh membuktikan akan kesetiaan-Nya dalam melindungi kawanan domba-Nya dari kebinasaan maut. Tentu, Allah bukanlah gembala yang biasa namun kenyataannya Ia adalah Gembala Agung. Kendati TUHAN adalah Gembala Agung, tetapi tugas penggembalaan didelegasikan kepada orang-orang pilihan-Nya. Sebagaimana diketahui, dalam Alkitab disebutkan ada para nabi, rasul-rasul, pengajar, penatua bahkan diaken. Semua orang yang termasuk dalam jabatan tersebut, dilantik sendiri oleh Allah. Bukan hanya dilantik, tetapi juga diperlengkapi Allah dengan karunia Roh, bahkan dituntun oleh Roh Kudus. Oleh karenanya, awal mula pengangkatan 7 orang untuk membantu tugas pelayanan para Rasul diserahkan kepada mereka yang dikenal penuh dengan Roh Kudus. Dengan demikian, tugas penggembalaan ini buklanlah inisiatif dari pribadi manusia tetapi karya Roh Allah sendiri. Oleh karena itu, para penggembala yang dilantik oleh Tuhan harus memiliki kehidupan yang erat dengan Tuhan. Kehidupan yang tenggelam dalam doa dan pemahaman Alkitab. Apabila para penggembala memiliki kualitas rohani yang demikian, tentunya firman Allah akan mengalir melalui hidupnya dan memberkati banyak orang. Bahkan Allah sendiri akan menggerakkan orang tersebut untuk mencari yang terhilang. 
Oleh karena itu, Allah tidak sembarangan melantik para pelayan Tuhan. Ada yang benar-benar dilantik dan dekat dengan Allah, namun ada pula yang hanya sekedar menjadi gembala upahan. Menjadi gembala upahan, karena dari mulanya tidak menjalin hubungan baik dengan Allah. Sehingga hatinya pun, jauh dari hati seorang gembala. Seorang gembala beberapa kali digambarkan dalam Alkitab, untuk menunjukkan tugas para hamba Tuhan. Ada pemahaman menarik yang tertulis dalam Matius 18:12. Seorang gembala akan benar-benar meninggalkan 99 ekor dombanya yang tidak tersesat, dan mencari satu saja dombanya yang terhilang. Perhatikan, hanya demi satu dombanya yang terhilang ia siap menempuh berbagai rintangan demi mendapatkan kembali seekor dombanya. Akan tetapi ini bukanlah perbuatan gegabah, ia sudah memastikan keamanan 99 ekor dombanya dan pasti akan pergi untuk menemukan dombanya yang hilang. Ia tidak menunda dengan berbagai alasan untuk mencari yang hilang. Ini adalah sebuah perbuatan dengan sifat segera dilaksanakan. Sungguh ini adalah teladan baik yang diberikan Tuhan Yesus, untuk menggambarkan keberadaan gembala-gembala yang dilantik oleh Tuhan. Baiklah dalam jemaat Tuhan dimunculkan gembala-gembala bagi kawanan domba. Yang tidak menunda untuk mencari yang terhilang, dan tidak melalaikan kawanan. Tetapi yang sungguh menyediakan hati, jiwa dan akal budi untuk dipakai Allah mencari dan menemukan yang terhilang.
           

Kamis, 26 Februari 2015

Dimerdekakan oleh Roh Kudus

Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut (Roma 8:2)

Apabila diperhatikan, ternyata ada sesuatu yang senantiasa mengancam keselamatan jiwa manusia. Ancaman tersebut adalah "hukum dosa dan maut." Keberadaannya akan selalu membayangi dan menarik orang jatuh ke dalam dosa dan kematian rohani. Itu berasal dari dosa keturunan sejak dilahirkan oleh dosa. Sebagaimana dialami oleh para keturunan Adam didunia. Adapun proses dilahirkan kembali secara rohani oleh Roh Kudus tidak menghapus masalah ini, karena prinsip ini masih beroperasi dalam alam kemanusiaan kita (kedagingan). Selain itu, - yang perlu diwaspadai - menjadi anak Allah tidak lantas membuat obat-Nya terus-menerus tersedia bagi kita.
Obat dari Tuhan untuk "hukum dosa dan maut" haruslah lebih tinggi dan berprinsip lebih kuat. Hukum itu ialah "hukum Roh kehidupan dalam Kristus Yesus." Prinsip yang lebih tinggi ini melibatkan Roh Kudus dan menjadikan Tuhan Yesus sebagai sumber kehidupan bagi setiap kita yang ada di dalam-Nya. Prinsip ini beroperasi dalam kehidupan ciptaan baru di dalam Kristus, yang tidak berjalan "menurut daging, tetapi [berjalan/hidup] menurut Roh" (Rom_8: 4). Dengan hidup menurut pimpinan Roh Kudus, semakin dapat membebaskan kita dari kecenderungan nafsu internal yang menjatuhkan setiap aspek kehidupan kita.
Bahkan (sebagaimana telah kita catat sebelumnya), ini adalah satu-satunya jalan dan harapan bagi kita untuk bertumbuh di dalam kesalehan. Bahwa hukum itu memberikan tuntunan bagi setiap kita untuk melaksanakannya (Rom. 8: 4). Hidup kitalah yang menjadi ukuran, apakah kita saleh atau tidak dihadapan Tuhan. Adapun kesalehan kita itu terwujud karena Kristus-lah yang bekerja melalui kita. Inilah kebenarannya bahwa Tuhan Yesus adalah satu-satunya pribadi yang pernah bisa hidup di dunia dengan sepenuhnya menyenangkan Bapa. Tuhan Yesus berkata, "Aku selalu melakukan hal-hal yang menyenangkan-Nya" (Yoh. 8: 29).
          Dengan demikian, untuk menerima pengalaman Kristen yang berkemenangan, kita perlu hidup sebagai mana Tuhan Yesus ada di dunia. Marilah kita hidup di dalam Kristus dan Kristus ada di dalam kita melalui karya Roh Kudus. Kita perlu hukum yang lebih tinggi ("hukum Roh: kehidupan dalam Kristus Yesus") untuk membebaskan kita dari hukum yang lebih rendah ("hukum dosa dan hukum maut").
          Sekali lagi, apa tanggung jawab kita dalam hal ini? Kita harus berhubungan dengan Tuhan dalam kerendahan hati dan iman. Dengan kerendahan hati, mengakui bahwa kita terus diserang hukum dosa dan maut namun kita diselamatkan melalui iman – inilah hukum Roh. Dan tentunya iman berkata dengan penuh keyakinan yang kudus bahwa "hukum Roh kehidupan dalam Kristus Yesus telah membuat saya bebas dari hukum dosa dan kematian."

Doa

Ya Tuhan Yesus, Dikau sendiri dapat menyediakan kehidupan saya dipanggil untuk hidup. Saya dengan rendah hati setuju dengan perkataan Dikau. Dengan senang hati saya percaya Roh Kudus-Mu ada untuk semakin membebaskan saya dari kekalahan saya melawan kedagingan saya. Saya berterimakasih kepada Dikau dengan cara Dikau yang ajaib menjawab doa ini. Tuhan Yesus, hidup di dalam dan melalui saya dengan kuasa Roh Kudus, Amin.

Dan Akhirnya Bersyukurlah (Kol. 3:15)


Ada sebuah  kabar menyedihkan pada akhir tahun 2014 dan awal tahun 2015. Berbagai berita musibah memilukan telah menghiasi berbagai media elektronik. Terjadi tanah longsor di Banjarnegara di Provinsi Jawa Tengah. Demikian pula banjir melanda  Kabupaten Bandung di Provinsi Aceh, dan belum lama ini tanah longsor menerpa Desa Tugu Utara, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor. Bahkan berita mengejutkan, pesawat AirAsia QZ8501 jatuh dan menimbulkan banyak korban di sekitar kawasan Selat Krimata. Demikian keberadaan Indonesia, kendati banyak orang-orang bersukaria di tahun baru namun adapula saudara-saudara yang berdukacita dalam memasuki tahun baru 2015.
Kendati seseorang berada dalam keadaan berceria-ria ataupun diizinkan berdukacita, satu hal yang hendaknya diingat ialah tetap bersyukur kepada Tuhan. Yakni bersyukur untuk waktu-waktu yang terlewati atas pertolongan Tuhan yang tanpa berhenti. Meskipun pertolongan Tuhan begitu besar, dalam kenyataannya banyak orang dapat dengan mudah menyatakan syukur bila menerima sesuatu yang menyenangkan dari Tuhan. Namun bagaimana bila terjadi sesuatu yang kurang menyenangkan? Masihkah ada kemampuan untuk bersyukur? Memang benar bahwa sebuah musibah tidak untuk disyukuri, tetapi dijadikan tempat bagi pribadi untuk berbenah. Sehingga pada akhirnya, ungkapan syukur itu tetaplah dihaturkan kepada Tuhan. Bagi orang percaya, apapun keadaannya rasa syukur tetaplah dinaikkan bagi Tuhan. Sebab dengan kesadaran sepenuhnya, Tuhan senantiasa ada dibalik setiap peristiwa yang kita alami untuk mendatangkan kebaikan bagi kita yang mengasihi-Nya.

Sebagai contoh teladan kehidupan ialah rasul Paulus. Ia telah mengalami apa itu kesusahan dan memahami betul seperti apa itu sukacita di dalam Tuhan. Penderitaan penjara dan sukacita kelimpahan telah dirasakannya. Dan satu hal yang dimengerti, bahwa Tuhan senantiasa menyertai dan merancangkan kebaikan bagi umat-Nya. Oleh karena itu rasul Paulus menyampaikan firman Tuhan “Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah”(Kol. 3:15). Dengan demikian, pertama-tama dapat diketahui bersama bahwa damai sejahtera Kristus haruslah yang memerintah dalam hati kita- bukan keegoisan, nafsu duniawi, atau kesedihan. Selanjutnya, hendaklah kita memahami diri sebagai anggota tubuh Kristus. Sehingga ketika kita sakit dalam rohani maupun jasmani, maka Kristuslah yang jadi penyembuh, pemulih dan penyemangat kita. Dengan memahami dua hal ini, maka kita dimampukan untuk bersyukur dalam keadaan apapun. Tentu dalam mengungkapkan rasa syukur itu bukan dengan pesta pora, namun melalui doa. Bukan pula dengan tangisan yang menyayat hati, namun melalui penyembahan dihadapan Tuhan Yesus Kristus. 

Pengampunan

Teks     : Matius 18:21-35


I.               Pendahuluan
Injil Matius ditulis oleh Matius murid Tuhan Yesus sekitar tahun 60-an TM. Matius sendiri lahir sebagai orang  Yahudi dan lebih dikenal sebagai “pemungut cukai”. Oleh karena panggilan dari Tuhan Yesus, maka ditinggalkannya semua keberadaan yang bersangkut paut dengan rumah cukai. Berkenaan dengan Injil yang ditulis, Matius termasuk seorang penulis Injil dan saksi yang dapat dipercaya. Sebab Matius melihat dan mengetahui peristiwa-peristiwa penting dari baptisan Yohanes sampai hari Tuhan Yesus terangkat ke sorga (Kis. 1:21-22). Secara menyeluruh, dapat diketahui bersama bahwa Injil yang ditulis oleh Matius ingin mengungkapkan serta memberitakan bahwa Tuhan Yesus Raja Mesianis. Sehingga fokus tulisannya ialah memberitakan karya dan Kerajaan sang Raja Mesianis. Hal ini dapat dicermati dari karya pelayanan, hukum dan etika Kerajaan Allah yang difirmankan oleh Tuhan Yesus. Demikian pula secara khusus pada pasal 18:1-35, dituliskan bahwa Tuhan Yesus mendidik para murid supaya rendah hati (1-5), bijaksana dalam berinteraksi dengan sesama (6-20), dan bersedia mengampuni orang yang bersalah (21-35). Apa yang difirmankan Tuhan Yesus kepada para murid ini menegaskan bahwa, warga Kerajaan Allah harus meneladani sikap sang Raja. Khususnya dalam memberikan pengampunan yang tuntas dan tanpa batas.
Akan tetapi dalam kenyataan sehari-hari, dapat ditemukan bahwa seseorang sulit sekali untuk memberikan pengampunan. Kadang ada yang hanya menahan, dan mencari waktu yang baik untuk membalas dendam. Ada pula yang hanya setengah mengampuni, mengatakan bersedia untuk mengampuni namun tidak bersedia untuk berkomunikasi sehingga hubungan menjadi jauh dari harmonis. Bahkan ada yang melampiaskan dendam bukan kepada orang yang bersalah, tetapi dengan melempar gelas atau memukul sesuatu dengan harapan dendamnya bisa reda. Namun semua usaha tersebut tentunya sia-sia. Karena tanpa menyadari akan karya Tuhan, seseorang hanya mampu menahan dendam; seperti seorang anak kecil yang menahan pipis. Di mana akhirnya selalu ada pelampiasan yang merugikan diri sendiri ataupun orang lain.
Oleh karena itu, guna memperoleh pengampunan Tuhan, untuk menghindarkan keluarga dari kehancuran. Demi menyelamatkan keutuhan jemaat dari perpecahan. Maka, diperlukan sebuah kerelaan untuk mengampuni sesama.

II.            Penjelasan
Kata mengampuni dalam ayat 21, menggunakan kata aphiēmi  yang berarti membuang, mengabaikan, meninggalkan jauh di belakang. Dengan maksud, membuang, mengabaikan dan meninggalkan dendam ataupun kegeraman yang ditimbulkan oleh kesalahan sesama terhadap kita. Bila disingkat, ialah memberikan pengampunan dengan tulus tanpa sisa. Dalam ayat 21 dijelaskan bahwa Petrus memiliki pemahaman tersendiri untuk dapat mengampuni seseorang dengan tulus hanya dalam 7 kali pengampunan. Selebihnya, orang bisa membalas kejahatan dengan perlakuan setipal. Akan tetapi Tuhan Yesus menegaskan kepada setiap orang percaya, bahwa pengampunan itu diberikan kepada sesama sebanyak 70 x 7 kali (ay.22). Dapat ditafsirkan – memberikan pengampunan tanpa batas dan tuntas.

Mengapa sebagai orang percaya harus memberikan pengampunan tanpa batas dan tuntas? Ada tiga alasan, mengapa orang percaya harus mengampuni sesama tanpa batas dan tuntas. Alasan pertama yakni:
A.    Karena kita memiliki terlalu banyak kesalahan kepada Tuhan (23-25).
Dalam penjelasan ayat 23-25, dapat dipahami bahwa “hutang” sama dengan dosa atau kesalahan. Ditulis bahwa ada seorang hamba berhutang 10000 talenta. Pada umumnya satu Talenta bernilai 60 Mina atau 6000 Dirham. 1 Dinar = 2 Dirham. 1 Dinar adalah upah pekerja 1 hari (Mat. 20:2,13). Kalau upah minimal 1 hari sekarang adalah Rp. 25.000, maka 1Talenta = Rp. 75.000.000. dengan demikian, hutang hamba itu adalah Rp. 750.000.000.000.
Betapa besarnya hutang hamba tersebut. Demikian pula kita, segala yang kita perbuat pada awalnya hanyalah seumpama kain yang tidak berguna. Sehingga kita hanya menjadi pabrik dari dosa (Yesaya 64:6, Rom. 3:23).

B.     Karena Tuhan bersedia mengampuni kita (26-27)
Akan tetapi, hamba itu selamat. Ia mendapatkan pengampunan ketika ia memohon ampun kepada sang Raja. Dengan penuh penyesalan ia datang kepada sang Raja dan memohon belaskasihan. Demikian pula Allah kita, ketika kita datang kepada-Nya dengan hati yang hancur dan penuh penyesalan, Tuhan bersedia mengampuni dan memulihkan hidup kita. Sebagaimana yang dialami Daud, dan menuliskannya dalam Mazmur 32:1-7.

C.     Karena tanpa mengampuni kita tidak diampuni Tuhan (28-35)
Dalam ayat 28-34, dijelaskan bahwa ada hukuman bagi setiap orang yang tidak bersedia mengampuni. Ia akan diserahkan kepada algojo-algojo. Demikian dapat kita mengerti bahwa, ada akibat buruk yang diterima oleh setiap orang yang menolak untuk mengampuni. Bisa berupa penderiataan secara psikologis, dapat pula berupa kehancuran hidup, bahkan sakit penyakit akibat tertekan.

III.        Kesimpulan

Karena kita adalah ciptaan Allah, dan diciptakan untuk memuliakan Allah, marilah kita bersedia untuk mengampuni sesama yang memiliki kesalahan terhadap kita. Tuhan terlebih dahulu telah mengampuni kita dengan tuntas dan tulus, marilah kita menjadi seorang kristen yang mengampuni sesama kita dengan tuntas dan tulus. Pengampun itu lebih baik daripada pendendam.

Menghormati Hadirat Allah - I Korintus 11:17-32

Pendahuluan
Mengikuti sakramen Perjamuan Kudus, sebenarnya menjadikan seseorang menerima berkat Allah. Akan tetapi, terkadang apa yang terjadi bukanlah demikian. Sebagaimana yang terjadi pada jemaat di Korintus. Permasalahannya ialah, jemaat pada waktu itu tidak lagi menghormati hadirat Allah dalam Perjamuan Kudus (ay. 17, 21). Sehingga mendatangkan kesusahan dalam hidup mereka sendiri (ay. 30). Oleh karena itu, sikap menghormati hadirat Allah dalam perjamuan Kudus adalah penting. Sebab dengan sikap demikian, Allah berkenan melimpahkan berkat-Nya bagi setiap orang percaya.

        Apabila demikian, apa yang dapat kita lakukan? Supaya diri kita kedapatan menghormati hadirat Allah dalam mengikuti sakramen Perjamuan Kudus? Yang pertama ialah:

1.           Mengingat akan Pengurbanan Kristus (ay.25)
Dengan mengingat pengurbanan Kristus di kayu salib, kita dituntun untuk mengerti siapa sejatinya diri kita. Pada hakekatnya kita adalah umat yang ditebus oleh Tuhan melalui pengurbanan Kristus. Tanpa pengurbanan Kristus, mustahil kita dapat diselamatkan. Dengan pengurbanan Kristus, kita dapat diangkat menjadi anak-anak Allah. Sehingga segala janji berkat dalam Kristus, dilimpahkan bagi setiap kita yang mengasihi-Nya (Rom. 8:17). Perlu diingat bahwa dalam Perjamuan Kudus, berita tentang penebusan oleh Kristus senantiasa diwartakan. Berita tentang penebusan oleh Kristus mengingatkan akan keselamatan yang tercurah bagi kita. Berita tentang keselamatan yang telah dilimpahkan kepada kita, bukanlah berita biasa namun luar biasa penting. Dengan mengingat akan pengurbanan Kristus bagi kita, maka tidak ada alasan lagi untuk tidak menghormati hadirat Allah dalam Perjamuan Kudus. Seorang anak senantiasa bersikap hormat kepada orang tuanya. Dikarenakan, anak ini mengingat akan usaha keras orang tuanya demi mencukupi kebutuhan keluarga. Demikian juga kita akan bersikap khidmat dan menyadari kehadiran Allah, dalam mengikuti sakramen Perjamuan Kudus. Karena kita senantiasa mengingat, bahwa kita ini adalah umat Allah yang sudah ditebus dengan darah Kristus Yesus.

       Selain mengingat akan pengurbanan Kristus, apa yang harus kita lakukan supaya kedapatan menghormati hadirat Allah dalam mengikuti sakramen Perjamuan Kudus? Selanjutnya ialah:


2.           Menguji Diri (ay. 28)
        Kata ‘menguji’ pada ayat 28, menggunakan kata dokimazo yang berarti: menguji, memeriksa, membuktikan, meneliti dengan cermat (untuk melihat apakah suatu hal itu asli atau tidak). Pengertian kata ‘menguji’ pada ayat 28, juga memiliki hubungan dengan II Korintus 13:5, demikian: “Ujilah diri Saudara. Apakah Saudara benar-benar orang Kristen? Apakah Saudara lulus dalam ujian itu? Apakah Saudara makin lama makin merasakan kehadiran dan kuasa Kristus di dalam Saudara? Atau apakah Saudara hanya berpura-pura saja menjadi orang Kristen, padahal sebenarnya Allah sudah menolak Saudara?”(Terj. Alkitab Firman Allah Yang Hidup). Dengan memperhatikan kedua ayat tersebut, maka dapat dipahami bersama bahwa “menguji diri” berarti memeriksa kemurnian iman dalam diri prbadi. Apakah iman kita murni dihadapan Allah? Apakah kita masih mempercayakan diri kepada Tuhan Yesus? Ataukah kita sudah menyangkal Tuhan Yesus melalui perbuatan kita?
Perlu diingat, setiap orang yang percaya dengan sungguh-sungguh mengakui bahwa Allah hadir dalam sakramen Perjamuan Kudus. Pemahaman demikian bukanlah hal mistis, tetapi merupakan  keyakinan iman bahwa Allah berkenan hadir dalam ibadah yang kudus.
        Ada seseorang yang mengadakan syukuran. Dia telah mengundang banyak tamu untuk hadir dalam acara yang dibuatnya. Untuk menghormati tamu yang diundang, dia pasti mempersiapkan diri (mandi, memakai pakaian yang santun) dan memeriksa semuanya sebelum acara dimulai. Demikian juga kita dalam menghormati kehadiran Allah di sakramen Perjamuan Kudus. Kita pasti mempersiapkan diri sebaik mungkin dengan memeriksa  kehidupan diri dan memperbaiki kekurangannya. Dengan demikian, marilah kita bersama-sama menguji diri kita. Apakah perbuatan dan hidup kita menunjukkan bahwa kita adalah orang percaya? Apabila perbuatan sehari-hari kita sudah menunjukkan adanya kasih, marilah kita bersyukur. Apabila belum, marilah kita menghadap Tuhan dan memohon pengampunan-Nya. Apabila kita masih berseteru dengan sesama kita, marilah kita berdamai dan memohon pengampunan Tuhan. Hendaklah kita menguji diri kita.

Undangan:

Mengikuti Perjamuan Kudus bukanlah sekedar makan roti dan minum anggur lambang daging dan darah Kristus. Oleh karena itu, marilah bersama-sama kita mengikuti Perjamuan Kudus dengan sikap hati yang menghormati hadirat Allah. Dengan cara mengingat akan pengurbanan Kristus dan juga menguji diri. 

Persembahan Terbaik Bagi Tuhan 2 Tawarikh 5:6


Raja Salomo mendapatkan anugerah dari Tuhan yang begitu luar biasa. Anugerah itu berupa kebijaksanaan dan pengertian sebagai pemimpin atas bangsa Israel. Namun tak hanya itu, Tuhan Allah juga memberikan kekayaan, harta benda dan kemuliaan yang melebihi raja-raja sebelum ataupun sesudah raja Salomo (2 Taw 1:11-12). Sebuah anugerah yang begitu besar telah diterima raja Salomo, namun ia selalu ingat bahwa anugerah yang dierikan Tuhan kepadanya memiliki tujuan. Tujuan utamanya ialah menggenapi perjanjian antara Daud dengan Allah untuk membangun bait suci. Dengan alasan bahwa Daud- ayahnya, dipandang tidak layak untuk membangun bait Allah yang suci.
Oleh karena kebaikan yang dirasakan oleh Salomo, ia bukan hanya membangun bait suci, tetapi juga mempersembahkan harta miliknya yang tidak terhitung jumlahnya dan tak terbilang banyaknya (ay. 6). Perlu diperhatikan bahwa raja Salomo mempersembahkan harta miliknya kepada Tuhan bukan karena kesombongannya namun karena ketulusannya. Ini adalah bukti imannya kepada Tuhan. Bahkan dapat diketahui sebuah kisah yang mengharukan yang ditulis oleh Markus. Dalam sejarahnya ditulis bahwa, ada seorang perempuan yang oleh imannya kepada Tuhan Yesus, maka ia berkeinginan untuk menyatakan kasihnya. Dengan tidak segan-segan ia mengurapi kepala Tuhan Yesus dengan minyak narwastu. Sebuah persembahan yang terbaik. Sebab dapat diketahui bahwa harga dari minyak narwastu tersebut 300 Dinar lebih. Saat itu, upah sehari adalah 1 dinar. Betapa luar biasanya persembahan itu (Markus 10:3-9). Demikian pula yang terjadi pada raja Salomo pada waktu itu, karena imannya yang begitu sungguh-sungguh kepada Tuhan, maka ia mempersembahkan yang terbaik kepada Tuhan. Oleh karenanya, Allah sungguh berkenan atas persembahan tersebut sebab disertai dengan ketulusan dan iman kepada Tuhan. (2Taw 7:12, bdg 2Kor.9:6-7).
Dengan demikian, hendaklah kita sebagai umat Tuhan mempersembahkan yang terbaik dari apa yang dimiliki bagi Tuhan. Tentunya disertai dengan ketulusan atas dasar iman kepada Tuhan. Sebab dengan demikian Tuhan berkenan dan akan memberkati persembahan bagi umat-Nya. Sebagaimana Tuhan telah menyatakan janji-Nya demikian: “Hormatilah TUHAN dengan mempersembahkan kepada-Nya yang terbaik dari segala harta milik dan hasil tanahmu, maka lumbung-lumbungmu akan penuh gandum, dan air anggurmu akan berlimpah-limpah sehingga tidak cukup tempat untuk menyimpannya.” (Amsal 3:9-10). Berbahagialah kita yang mempersembahkan segala sesuatu terbaik bagi Tuhan.


Setyawan Adi Nugroho

Persembahkanlah yang Terbaik (Maleakhi 1:14)

Nabi Maleakhi menuliskan firman Allah untuk menegur bangsa Israel, sekitar tahun 430-420 SM. Pada tahun tersebut, bangsa Israel telah dimerdekakan dari penjajahan bangsa Persia. Akan tetapi yang menjadi permasalahannya adalah iman dari bangsa Israel. Iman dari orang-orang Israel mengalami kemunduran. Sehingga berakibat pada penyembahan kepada Allah yang acuh tak acuh. Dalam kehidupan sebagai umat Allah, bangsa Israel telah meragukan Firman Allah, mengabaikan ibadah yang berkenan, dan memberikan persembahan yang tidak layak. Perasaan hormat dan kasih kepada Allah telah memudar. Oleh karena itu melalui nabi Maleakhi, Allah berfirman kepada bangsa Israel untuk kembali kepada Tuhan dan memegang perjanjian-Nya dengan hati yang tulus serta taat. Salah satu peringatan keras dari Tuhan ialah berkenaan dengan persembahan.
Bangsa Israel pada waktu itu, menghaturkan persembahan kepada Tuhan tanpa hormat. Kepada bupati, mereka memberikan yang terbaik sebagai upeti atau hadiah (1:8). Namun, kepada Allah mereka memberikan persembahan yang cacat. Bukan kawanan domba jantan yang terbaik, namun seekor binatang buta, timpang, dan sakit. Melihat perbuatan tersebut Allah begitu murka, sehingga memberikan peringatan keras kepada bangsa Israel. Dengan menyampaikan firman: “Terkutuklah penipu, yang mempunyai seekor binatang jantan di antara kawanan ternaknya, yang dinazarkannya, tetapi ia mempersembahkan binatang yang cacat kepada Tuhan(ay.14). Bahkan dalam pasal 3:9, Tuhan menyatakan bahwa bangsa Israel sudah kena kutuk oleh karena penipuan dalam hal persembahan. Hal serupa juga pernah terjadi pada masa para rasul ketika mendidik jemaat dalam hal persembahan. Peristiwa yang tercatat ialah Ananias dan Safira, kedua orang tersebut meninggal seketika oleh karena ketidakjujuran dalam hal persembahan kepada Allah (Kis.5:1-10). Ketika seseorang dikatakan kena kutuk, berarti hidupnya jauh dari berkat Allah. Bahkan lautan api neraka menjadi bagiannya (Wahyu 21:8).

Melalui teguran nabi Maleakhi terhadap bangsa Israel, kita mendapatkan pengajaran berharga dalam hal persembahan. Persembahan bagi Tuhan haruslah terbaik menurut rezeki yang Tuhan telah limpahkan pada masing-masing pribadi. Sebab berkat yang terbaik telah diberikan bagi kita, yakni keselamatan melalui iman kepada Tuhan Yesus. Bahkan Allah akan tetap mencukupi kebutuhan sehari-hari (Mzm 11:5) dan mengasihi bagaikan bapa mengasihi anak yang melayaninya (3:17). Marilah kita menghaturkan persembahan terbaik bagi Tuhan bukan karena takut dikutuk, tetapi karena kita mengasihi dan menghormati Allah. Karena persembahan terbaik bukan hanya dinilai dari jumlahnya yang sesuai dengan rezeki, namun juga ketulusan hati dari kita yang mempersembahkan. Diberkatilah kita yang bersedia mempersembahkan persembahan terbaik bagi Tuhan.

Say No to Divorce !

If we pay attention to the divorce statistics in Indonesia, we may be interested in the facts. According to data from the Director General o...