Tampilkan postingan dengan label gereja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gereja. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 Februari 2015

Peranan Penting Majelis dalam Jemaat Tuhan - Kisah Para Rasul 20:28-32

Keindahan Gereja di kota lama Semarang

Dalam perjalanan gereja dari sejak berdirinya sampai saat ini, menunjukkan adanya perkembangan yang signifikan dalam pengorganisasian dan manajemennya. Sungguh sebuah tantangan baru sekaligus jalan menuju pengembangan organisasi. Tatkala muncul permasalahan di dalam jemaat karena para janda tidak terlayani dengan baik. Terjadilah sebuah peristiwa penting yakni, manajemen organisasi yang berkembang (Kis. 6:1-7). Para rasul sebagai pemimpin dalam jemaat, meminta kepada jemaat supaya mengangkat tujuh orang yang penuh dengan Roh Kudus untuk dapat menangani pelayanan kepada para janda miskin. Dengan demikian, para rasul dapat berfokus pada pelayanan firman dan doa. Ketujuh orang yang dipilih jemaat mula-mula ini adalah embrio dari jabatan sebagai penatua yang akhirnya berkembang hingga saat ini. Keberadaan penatua tentunya sangatlah penting bagi jemaat. Oleh karena itu syarat untuk menjadi penatua pun ditentukan dengan ketat (I Tim. 3:1-7; Titus 1:5-9). Tentunya dengan syarat yang tertulis dalam Alkitab, penatua diharapkan dapat menghasilkan penatua yang cakap melalui pemuridan atau penggembalaan. Jadi secara singkatnya dapat dikatakan bahwa penatua hendaknya melahirkan penatua.
Oleh karena itu dalam pesan-pesan rasul Paulus yang terakhir kepada para penatua dari Efesus ditegaskan bahwa: "Karena itu jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan, karena kamulah yang ditetapkan Roh Kudus menjadi penilik untuk menggembalakan jemaat Allah yang diperoleh-Nya dengan darah Anak-Nya sendiri" (Ay. 28). Intinya jelas, bahwa peranan penatua dikelompokkan menjadi dua. Tugas yang pertama ialah menjaga diri – integritas pribadi. Dapat dimengerti bahwa integritas pribadi ini termasuk menjaga iman, kesalehan hidup dan kasih persaudaraan sesuai firman Tuhan. Tugas yang kedua ialah menjaga seluruh kawanan – penggembalaan. Menggembalakan jemaat termasuk didalamnya menyebarluaskan dan menjaga ajaran yang sehat sesuai firman Tuhan. Karena akan banyak serangan yang muncul baik dari luar maupun dari dalam jemaat untuk mencerai-beraikan kawanan domba Allah (Ay. 29-30). Maka peranan penatua dalam jemaat haruslah dilaksanakan dengan baik, supaya jemaat terlindungi dari ajaran yang memutarbalikkan kebenaran firman Allah. Kedua tugas tersebut dapat dikatakan utama dalam gereja. Dalam hal inilah, tugas untuk menjaga kawanan domba Allah dilaksanakan bersama-sama dengan Pendeta jemaat. Disamping itu, tugas pelayanan sosial juga mengiringi tugas penggembalaan. Oleh karena itu, dalam pelaksanaannya dijalankan oleh diaken. Sebagaimana diketahui bahwa Tuhan Yesus dan para rasul senantiasa melayankan firman Tuhan dan juga memberikan pelayanan sosial. Tuhan Yesus berkata: “Kamu harus memberi mereka makan” (Mark. 6:37). Inilah para pelayan Tuhan, ada jabatan sebagai diaken, penatua, dan pendeta. Ketiga jabatan ini bukan jabatan antara karyawan dan atasan. Namun lebih kepada rekan sekerja dengan fungsi masing-masing yang saling mendukung untuk pertumbuhan gereja.

Dalam pemahaman jemaat GITJ, tentunya mengenal tiga jabatan gerejawi ini. Dalam pelaksanaannya disebut sebagai Majelis jemaat. Namun perlu dipertegas kembali bahwa dalam Majelis ada diaken, penatua, dan pendeta. Ketiganya berbeda namun sama-sama kawan sekerja Allah. Allah sendiri yang menetapkannya (Ay.28, 32; bdg. I Kor. 3:9). Dengan memahami ini, maka Majelis jemaat akan dimampukan oleh Allah untuk melaksanakan tugasnya. Tentunya dalam melaksanakan tugas, setiap Majelis membutuhkan dukungan dan doa dari jemaat. Sehingga Allah bekerja secara optimal melalui alat-Nya – Majelis Jemaat. Mari bersama kita mendukung dan mendoakan Majelis yang terpilih. Sebab dalam kemajelisan ada yang menanam, ada yang menyiram, dan ada pula yang memperhatikan dalam jemaat Tuhan.

Kamis, 26 Februari 2015

Berdoa dan Berpuasa bagi Penatua (KPR. 14:23)


Dalam sebuah Jemaat dari zaman Perjanjian Baru telah dikenal adanya jabatan gerejawi yang disebut penatua. Jabatan tersebut tentu dibedakan dari jabatan Pendeta dan Diaken. Kamus Besar Bahasa Indonesia menjelaskan bahwa, penatua adalah anggota pengurus gereja untuk membantu tugas Pendeta. Dalam Kisah Para Rasul, disebutkan bahwa penatua merupakan sekelompok orang pilihan yang memimpin dalam jemaat lokal, seperti jemaat Anthiokia (KPR. 11:30), jemaat Efesus (KPR. 20:17), jemaat Yerusalem (KPR. 21:18), dan lainnya. Namun pertanyaannya, mengapa dalam jemaat Kristen jabatan penatua tetap ada? Karena keberadaan penatua dalam gereja begitu penting, yakni turut serta menggembalakan kawanan domba Allah (I Petrus 5:1-4). Lebih lanjut, Jan S. Aritonang menuliskan bahwa penatua memuliki tugas untuk memperhatikan kehidupan jemaat dan menasihati bahkan menegur dengan firman Tuhan. Oleh karena itu, penatua dalam jabatan gerejawi tetap diperlukan demi kelangsungan penggembalaan umat Allah di dunia.
Secara tegas rasul Petrus menyatakan bahwa seorang penatua memiliki tugas penting dalam jemaat. Adapun tugas itu ialah menggembalakan kawanan domba Allah bukan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah, dan bukan pula karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri. Dalam kepemimpinanpun ditegaskan: “Janganlah kamu berbuat seolah-olah kamu mau memerintah atas mereka yang dipercayakan kepadamu, tetapi hendaklah kamu menjadi teladan bagi kawanan domba itu.” Demikian frman Tuhan yang disampaikan kepada rasul Petrus untuk para penatua. Oleh karenanya, jemaat diminta untuk dapat menghormati para penatua dalam tugas dan tanggungjawabnya. Kendati tugas sebagai penatua bukanlah sebuah jabatan yang mudah, namun panggilan pelayanan ini adalah mulia. Sebab Gembala Agung akan menganugerahkan mahkota kemuliaan yang tidak dapat layu kepada setiap para penatua yang bersedia menerima tugasnya. Sebuah kehormatan, apabila kita dilayakkan untuk melayani sang Gembala Agung; Tuhan Yesus Kristus.
Dalam waktu dekat, di bulan Februari gereja kita akan melaksanakan pemilihan penatua gereja. Baiklah bersama kita dalam kerendahan hati berdoa dan berpuasa untuk gereja kita. Dengan demikian Tuhan berkenan memanggil dan memperlengkapi setiap penatua yang akan terpilih untuk menerima tugas gerejawi bagi kemuliaan Tuhan (KPR. 14:23). Menjadi penatua bukanlah tugas yang dikatakan mudah, namun dengan mengandalkan Tuhan sukacita besar akan dirasakan. Mari bersama-sama berdoa dan berpuasa bagi penatua dan calon penatua gereja kita. Demi pertumbuhan iman dan pertambahan orang-orang percaya bagi kemuliaan Tuhan.


Iringan Musik dalam Gereja: Musik Band ataukah Klasik?


Pembahasan yang belum ada titik temunya kadang kala menjemukan. Perdebatan yang kian meruncing, bisa jadi menimbulkan perpecahan gereja. Bahkan ada kalanya, pelayanan gereja menjadi mandeg  hanya karena ketidak selarasan pendapat dalam hal musik. Ada yang berpendapat bahwa musik band (drum, gitar bass, gitar elektrik, keyboard, singers, dll) lebih bersemangat dan mendatangkan sukacita di hati. Ada pula yang menyatakan bahwa iringan musik klasik (piano, orgel, biola, paduan suara) merupakan iringan musik yang membawa jemaat menikmati keteduhan bersama Tuhan. Apabila ditanya, saya lebih memilih iringan musik yang kedua. Mengapa demikian? Alasan saya sederhana saja. Sebab dalam ibadah memerlukan suasana yang teduh, khidmat dan teratur. Oleh karenanya saya lebih suka iringam musik klasik dalam gereja. Apabila demikian, bagaimana dengan iringan musik band? Apakah musik tersebut tidak cocok untuk dipakai dalam ibadah gerejawi?. Tentu ada yang berpendapat bahwa iringan musik band lebih cocok untuk mengiringi dalam sebuah ibadah. Namun dapat diketahui bersama, bahwa dalam menggunakan musik band sebagai pengiring ibadah akan memerlukan kerja keras untuk mewujudkan suasana teduh, khidmat dan teratur.
Namun demikian, bukan berarti musik band itu tidak bisa dipakai untuk memuji Tuhan. Sebenarnya bisa, asalkan tetap memegang kaidah-kaidah dalam mengiringi pujian gerejawi. Sebagai contoh, menghindari iringan aliran rock. Tentu alasannya sangat jelas, musik rock tidak akan pernah membuat perasaan kita tenang ataupun teduh. Justru sebaliknya, adrenalin kita dipacu dan jantung akan berdetak dengan cepat. Memang bagi sebagian orang, musik rock akan memberikan semangat pada dirinya untuk tetap terjaga. Secara pribadi, saya tidak anti mendengarkan musik rock. Sebagaimana bila dalam perjalanan jauh, saya membutuhkan pemicu adrenalin saya agar tetap semangat. Maka salah satu caranya, saya perdengarkan musik rock. Tentu tidak sembarang musik rock. Sebab ada band musik rock yang tidak jelas syairnya dan cara bermain musik yang hanya seperti luapan amarah. Kalau musik Indonesia, saya suka beberapa lagu God Bless dan Gong 2000. Tidak semuanya saya suka, hanya beberapa. Mengapa? Karena tidak semua lagu memiliki ritme dan aransemen yang memacu semangat. Kemudian, bagaimana keterkaitan dengan ibadah? Tentu saja dalam ibadah, kita tidak sedang meluapkan amarah, ataupun meneriaki Tuhan (awit Gusti mboten sare). Namun sebaliknya, kita sedang menyembah Tuhan dan bersuka di hadapan Tuhan. Oleh karenanya, musik band bisa dipakai mengiringi ibadah asalkan menghindari aliran rock; yang hanya mencari semangat sampai terkadang melupakan penyembahan dan kesukaan yang kudus dihadapan Tuhan. Kalau hanya untuk menambah semangat musik rock bisa menjadi alternatif, namun bila ingin menemukan kesegaran dan pemulihan jiwa; keteduhan musik klasik dapat memberikannya.
Selanjutnya bagaimana dengan aliran dangdut? Sebenarnya tidak ada masalah dengan musik dangdut. Akan tetapi prinsipnya sama, ketika musik dangdut menjamin tidak akan membuat orang bergoyang dengan begitu seksi dan menggairahkan dalam ibadah, maka sah-sah saja. Tetapi kenyataannya, ketika musik dangdut diperdengarkan maka keinginan bergoyang pun akan muncul. Adapula musik dangdut yang tidak menstimulasi orang untuk bergoyang, namun iransemennya menyayat hati. Tetap saja, iringan musik dangdut tidak pas jika dipakai dalam ibadah. Tentu dapat dimengerti bersama bahwa dalam ibadah, kita tidak sedang menstimulasi hawa nafsu duniawi kita. Dalam ibadah itupun tidak sedang mempertontonkan keseronokan tubuh melalui goyang pinggul. Maka, alangkah baiknya bila hasrat yang kudus itu memenuhi hati ketika beribadah kepada Tuhan. Dengan demikian, esensinya jelas.
Akhirnya kita perlu sebuah iringan musik yang mengkondisikan suasana ibadah kudus dihadapan Tuhan. Tentunya bukan aliran musik rock, bukan juga musik dangdut ataupun musik lainnya yang mengurangi kekudusan. Dengan menggunakan musik klasik dalam ibadah, tentu semua gairah yang tidak kudus serta amarah dapat dikendalikan. Nasihatnya sederhana saja, pakailah musik yang mengkondisikan jemaat untuk menyembah kepada Tuhan. Bukan untuk meluapkan amarah, kesombongan, ataupun keseronokan hawa nafsu, tetapi penyembahan yang kudus dihadapan Tuhan.


Makna Paskah bagi Orang Percaya



Setiap Negara memiliki upacara untuk memperingati sebuah peristiwa penting yang terjadi di Negara tersebut. Semua warga diwajibkan untuk mengikuti upacara, supaya warga negaranya tidak lupa akan arti penting yang terkandung dalam upacara tersebut. Misalnya, upacara 17 Agustus di Indonesia; yang merupakan tonggak sejarah kemerdekaan Republik Indonesia. Demikian pula halnya dengan paskah yang diperingati setiap tahunnya. Setiap kita sebagai orang percaya mengadakan ibadah khusus untuk memperingati paskah. Namun, arti penting dalam paskah tidak boleh dilupakan oleh setiap orang percaya, karena dari situlah tonggak sejarah kemerdekaan setiap orang percaya dari perbudakan maut.
Namun, peristiwa paskah pertama kali terjadi pada zaman Perjanjian Lama. Di mana arti dari paskah tersebut berbeda dengan apa yang ada dalam Perjanjian Baru, namun memiliki konsep yang sama. Pembeda antara arti PL dan PB hanyalah bahwa peristiwa paskah dalam PL merupakan bayangan atau perlambang dari apa yang terjadi pada paskah dalam PB. Sebagaimana setiap lambang dalam upacara memiliki arti penting bagi setiap individu yang mengikuti, demikian juga paskah dalam PL. Upacara paskah dalam PL menjadi lambang paskah dalam PB yang memiliki arti penting bagi setiap orang percaya. Salah satu bagian Alkitab yang menceritakan tentang paskah pertama kali adalah kitab Keluaran.
Kitab Keluaran ditulis oleh Musa; seorang Ibrani yang dipakai Allah untuk memimpin bangsa Israel keluar dari tanah Mesir, dan ditulis sekitar tahun 1445 – 1405 SM. Sedangkan kata ‘keluaran’ sendiri diambil dari kata Yunani exodus (Judul dari Septuaginta; Perjanjian Lama dalam bahasa Yunani) yang artinya ‘keluaran’ atau “keberangkatan.” Dalam kitab Keluaran diceritakan tentang karya Allah untuk memberikan pembebasan bangsa Israel secara luar biasa dari penghambaan di Mesir, dan keberangkatan bangsa Israel untuk menjadi bangsa pilihan Allah. Secara khusus ditandai dengan adanya paskah yang ditulis dalam pasal 12:1 – 13:16.
Mencermati kitab Keluaran 12:1-28, kita dapat menemukan beberapa perlambang yang memiliki makna penting dalam kehidupan kekristenan kita. Perlambang tersebut antara lain:
1.      Allah Mengeluarkan Bangsa Israel Dari Tanah Mesir
Allah membawa keluar bangsa Israel dari tanah perbudakan di Mesir bukan karena layak atau kebaikan mereka, melainkan kasih karunia Allah sendiri berdasarkan janji-Nya (Ulangan 7:7-10). Demikian pula dengan kehidupan kekal di Sorga diberikan oleh Allah melalui penebusan Yesus Kristus atas dasar kasih karunia (Efesus 2:8-10; Titus 3:4-5).
      2.      Darah Dipercikkan Pada Tiang Pintu dan Ambang Atasnya (Kel. 12:13,23,27)
Darah yang dipercikkan pada setiap tiang dan ambang di atasnya dimaksudkan untuk menyelamatkan anak sulung dalam keluarga bangsa Israel dari kematian. Darah tersebut melambangkan darah Kristus yang tercurah saat disalib, dengan tujuan utama menyelamatkan orang percaya dari maut akibat murka Allah terhadap dosa (Ibrani 9:22).
     3.      Anak domba Paskah adalah sebuah kurban (Kel. 12:27)
Anak domba paskah adalah sebuah kurban yang berfungsi sebagai pengganti anak sulung. Hal ini melambangkan kematian Kristus Yesus sebagai ganti orang yang percaya. Rasul Paulus secara tegas menuliskan bahwa Kristus anak domba Paskah yang dikurbankan demi setiap orang percaya (I Kor. 5:7)
     4.      Anak domba jantan tanpa cacat (Kel. 12:5)
Anak domba jantan yang disembelih haruslah tanpa cacat, anak domba itu melambangkan Kristus sebagai Anak Domba Allah yang tanpa dosa, kudus dan sempurna (Yoh. 8:46; Ibr. 4:15).
     5.      Makan daging anak domba Paskah
Makan daging anak domba Paskah itu melambangkan pemannunggalan orang-orang Israel dengan kematian anak domba paskah, yakni kematian anak domba yang menyelamatkan mereka dari kematian jasmaniah. Dalam kehidupan Perjanjian Baru, hal tersebut melambangkan keikutsertaan orang percaya dalam Perjamuan Kudus. Di mana Perjamuan Kudus melambangkan keikutsertaan orang percaya dalam kematian Kristus, sehingga terselamatkan dari kematian rohani (I Kor. 10:16-17;11; 24-26). Sebagaimana halnya dengan Paskah dilaksanakan sebagai peristiwa penting yang kemudian diperingati. Demikian juga dalam Perjamuan Kudus; diadakan sebagai suatu peringatan akan kematian Kristus untuk menebus orang percaya (I Kor. 11:24).
     6.      Melakukan Paskah dengan iman dan taat (Kel. 12:28)
Pemercikan darah pada tiang pintu dan ambang di atasnya harus dilaksanakan dengan iman dan taat. Hal ini melambangkan bahwa keselamatan melalui darah Kristus didapat hanya melalui ketaatan yang sebabkan oleh iman. (Rm.1:5; 16:26).
      7.      Makan roti tidak beragi (Kel. 12:8)
Adanya roti tidak beragi yang dimakan bersamaan dengan daging darah Anak Domba Paskah melambangkan pemisahan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir, yakni dari keduniawian dan dosa. Hal tersebut didasarkan pada Alkitab yang melambangkan ragi sebagai dosa atau kecemaran (Mat. 16:6; Mrk. 8:15)

Demikianlah beberapa perlambang yang dapat kita dapati dari peristiwa Paskah. Di mana Paskah sendiri memiliki arti penting bagi iman orang percaya. Dapat diketahui bersama bahwa tanpa kelahiran Kristus, maka harapan akan datangnya Juruselamat tak tergenapi. Demikian juga bila tanpa kematian Kristus, maka tidak satupun manusia selamat. Selain itu, tanpa kebangkitan Kristus, maka pemberitaan Injil menjadi sia-sia. Olehkarenanya, betapa pentingnya makna Paskah bagi setiap orang percaya, karena dari situlah sumber kehidupan rohani orang percaya.

Rabu, 25 Februari 2015

Mensyukuri Pertumbuhan Gereja Kis. 2:41-47

Pertumbuhan jemaat dapat dipandang dari sisi jumlah dan kerohanian Akan tetapi dalam pertumbuhan jemaat, yang paling penting ialah pertumbuhan kerohanian. Diceritakan dalam Kisah Para Rasul , banyak ditemukan bahwa para Rasul , pengajar, dan penatua tak henti-hentinya untuk memuridkan.  Apabia dicermati dalam perkembangannya, dari 120 rang Kis. 1:15) menjadi 3000 orang  Kis 2:4), kemudian menjadi 5000 orang Kis 4:4), dan akhirnya beripat kai ganda jumah mereka Kis 5:14) Pertanyaannya, mengapa Tuhan berkenan menambahkan jumah mereka sampai beribu-ribu jiwa?
Ada pola yang dapat dipelajari dari kehidupan jemaat mula-mula, sebagai bahan perenungan kita dalam memahami alasan adanya pertumbuhan jemaat.  Pertama, mereka bersedia untuk dimuridkan dan memuridkan melaui pengajaran tentang firman Tuhan (ay. 42) Kedua, mereka bersedia tekun beribadah bersama (ay. 42) Ketiga, mereka bersedia untuk saling mendoakan, memuji Allah dan berbagi makanan maupun harta (ay. 42, 45- 46) Keempat, mereka memberitakan Injil dan diteguhkan melaui mujizat dan tanda ilahi. Dari keempat poIa inilah, Tuhan berkenan menambahkan jumah mereka dengan orang yang diselamatkan (ay 47)

Begitu sederhana apa yang dilakukan jemaat mula-mula.  Mereka dekat dengan Allah, dan Roh Kudus menumbuhkan kerohanian dan menambahkan jumah orang percaya. Bagi jemaat Kristen, saat  ini adalah waktu yang menorehkan sejarah pertumbuhan jemaat. Saat yang menjadi kebanggaan tersendiri, namun juga menjadi perenungan bagi setiap pribadi Bersyukur untuk penyertaan Tuhan, sehingga sampai saat ini, penyertaan Tuhan senantiasa dirasakan.  Dalam  mensyukuri nikmat Tuhan ini, marilah juga kita sejenak mengevaluasi diri. Dapat dipahami bersama bahwa ketika jemaat bersedia bertumbuh dalam kerohanian melaui 4 poIa tersebut, maka akan berpengaruh terhadap pertambahan jemaat  Marilah kita senantiasa bertumbuh dan tak lelah untuk bertumbuh dalam kerohanian.  Sebab dengan demikian, kita akan disebut sebagai jemaat yang mensyukuri pertumbuhan gereja. 

Catatan Singkat: Dogma Mennonite dalam Tata Gereja GITJ (part 2)

sambungan...
Dogma Tentang Ketetapan dalam Perjanjian Baru
Dalam sebuah tulisan mengenai teologi mennonite, disebutkan bahwa: Perjamuan Kudus lebih dipahami sebagai sebuah peringatan, daripada sebagai ritual-magis Kristen seperti yang dilakukan oleh Gereja Katolik Roma.[1] Diketahui bersama bahwa dalam Sakramen Perjamuan Kudus, Gereja Katolik Roma menganut paham transubstansiasi (perubahan roti dan anggur menjadi daging dan darah saat melaksanakan sakramen sedang berlangsung). Selain itu, Gereja Katolik Roma mengakui ada tujuh[2] sakramen. Dalam pemahaman kaum mennonite, sakramen yang benar hanya dua yakni sakramen baptisan dan Perjamuan Kudus. Dengan alasan bahwa, dua sakramen tersebut langsung dilembagakan oleh Tuhan Yesus sendiri. Adapun pentahbisan pemimpin gereja, penyerahan anak, pernikahan, dan pertobatan dilaksanakan melalui sebuah ibadah khusus saja. Pengajaran tersebut tertuang dalam pasal 15 tentang pelayanan peribadatan.

Dogma Tentang Kesalehan

Ciri khas pengajaran mennonite adalah Injili, yakni pengajaran yang menuntun kepada kesalehan hidup. Dalam arti pengajaran yang menuntun umat untuk hidup berpadanan dengan Injil Kristus. Aplikasi dari pemahaman tentang kesalehan tertuang dalam Tata Gereja GITJ pasal 5 tentang usaha gereja untuk menyatakan tanda-tanda Kerajaan Allah di bumi; termasuk menyatakan kesalehan. Selanjutnya pada pasal 17, yang berbicara tentang mendidik anggota jemaat dalam kesalehan. Selain itu pada pasal 18 yang juga mengindikasikan wujud nyata dari ajaran kesalehan yakni melalui pekabaran Injil. Terakhir pada pasal 34, juga mengindikasikan adanya upaya untuk mewujudkan kesalehan dalam kehidupan bernegara, demi mensejahterakan masyarakat melalui yayasan berbadan hukum.

Dogma Tentang Larangan Bersumpah
Menurut pengakuan iman Schleitheim, umat Tuhan dilarang bersumpah karena Tuhan Yesus melarang pengambilan sumpah maupun bersumpah. Adapun bersaksi tidakperlu bersumpah, yang terpenting adalah mengatakan ‘ya’ bila ‘ya’ dan ‘tidak’ bila pada kenyataannya tidak. Dalam kenyataannya, Tata Gereja GITJ mengatur bahwa dalam pelantikan Pendeta, BPH Sinode, BPH Klasis, ataupun majelis tidak diminta untuk bersumpah.

Dogma Tentang Anti Kekerasan
Kiblat pengajaran mennonite juga terpengaruh oleh Pengakuan iman Schleitheim, bahwa: Kekerasan tidak boleh digunakan dalam situasi apapun. Cara anti kekerasan berpola pada teladan Kristus yang tidak pernah menunjukkan kekerasan dalam menghadapi penganiayaan. Seorang Kristen tidak boleh menghakimi dalam perselisihan duniawi. Hal ini tidak sesuai untuk seorang Kristen untuk melayani sebagai hakim, hakim bertindak sesuai dengan aturan dari dunia, tidak sesuai dengan aturan langit, senjata mereka duniawi, tetapi senjata seorang Kristen adalah roh.[3] Dogma tentang anti kekerasan ini tertuang dalam Tata Gereja GITJ pasal 11, dalam mana dapat dipahami bahwa semua pelayan baik Tua-tua, diaken dan pengajar harus memenuhi syarat yang tertulis dalam I Tim. 3:1-13 dan Titus 1:5-16. Namun pendisiplinan tetap harus dijalankan demi kelangsungan pelayanan gerejawi yang kudus sebagaiman tertuang dalam pasal 24 (Matius 18:15-18).

 Pemerintahan dalam Tata Gereja GITJ
Azas pemerintahan GITJ, dipengaruhi oleh dogma mennonite sehingga bentuk pemerintahannya adalah Konggregasional Sinodal (pasal 7, & 26). Sehingga berpengaruh terhadap pelaksanaan pengambilan keputusan dan pelantikan majelis, yakni melibatkan anggota gereja dewasa untuk memberikan pendapat melalui rapat anggota gereja (Pasal 12, ay. 1). Demikian pula dalam tingkat Sinode, baik pelantikan pengurus maupun pengambilan keputusan dilaksanakan melalui rapat bersama yang dihadiri oleh wakil dari gereja-gereja anggota Sinode (ps.27,35,36 dan 43)


[1] Dikutip dari http://en.wikipedia.org/wiki/Mennonite, accessed 10 Februari 2014
[2] 7 sakramen tersebut ialah: pembaptisan, penguatan, ekaristi, tobat, pengurapan orang sakit, pentahbisan imam, dan perkawinan.
[3] Diterjemahkan bebas dari http://en.wikipedia.org/wiki/Schleitheim_Confession, accessed 10 Februari 2014.

Catatan Singkat: Dogma Mennonite dalam Tata Gereja GITJ (part 1)

Teologi yang dianut oleh sebuah gereja, secara langsung maupun tidak akan mempengaruhi bentuk pemerintahan dan pelayanan yang berlangsung di dalamnya. Oleh karena itu, antar denominasi gereja terkadang berbeda dalam hal pengajaran, pelayanan dan bentuk organisasi. Demikian juga, GITJ memiliki kekhususan dalam hal dogma. Adapun dogma yang dianut oleh GITJ ialah mennonite. Dengan demikian dogma mennonite mempengaruhi pengajaran, pelayanan dan bentuk pemerintahan sebagaimana tertuang dalam Tata Gereja GITJ. Adapun dogma mennonite yang tertuang dalam Tata Gereja GITJ antara lain sebagai berikut:

Dogma Tentang Alkitab
Ajaran mennonite mengakui bahwa Alkitab adalah firman Allah. Diinspirasikan oleh Allah melalui Roh Kudus, untuk menuntun dalam keselamatan dan memimpin dalam kebenaran. Sebagai pedoman kebenaran iman Kristen dalam kehidupan sehari-hari.[1] Pemahaman tersebut selaras dengan Tata Gereja pada bab II, pasal 4, bahwa : “GITJ Mengakui bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat serta Kepala Gereja berdasarkan Alkitab yang adalah firman Allah.”

Dogma Tentang Roh Kudus
Berkenaan dengan dogma mennonite tentang Roh Kudus, dapat diketahui bersama melalui tulisan Menno Simons, demikian:
“Ya, saudara-saudaraku, dari penjelasan Alkitab, kesaksian dan referensi, dan banyak teks berbobot lain yang terlalu panjang untuk disebutkan,... Ia menuntun kita ke dalam seluruh kebenaran, Ia membenarkan kita, Ia membersihkan, menguduskan, menenangkan, menegur, bersorak-sorai dan meyakinkan kita, Ia bersaksi dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah... Kami percaya Roh Kudus dengan sepenuhnya, bahwa Roh Kudus adalah Allah, yang menghiasi kami dengan hadiah surgawi dan ilahi-Nya, dan melalui inspirasi, sesuai dengan anugerah Bapa, membebaskan kita dari dosa, membuat kita ceria, damai, saleh, memenuhi hati dan pikiran kami, dan membuat kami kudus dalam Kristus Yesus.”[2]
Selaras dengan pemahaman tersebut, Tata Gereja GITJ bab II pasal 4  menerangkan bahwa Alkitab adalah firman Allah yang diinspirasikan. Selanjutnya pada pasal 5 menunjukkan bahwa gereja menyatakan tanda-tanda Kerajaan Allah di bumi. Dengan demikian dapat diketahui bersama bahwa, GITJ mengakui bahwa Roh Kudus bekerja ketika Alkitab ditulis dan mengakui bahwa Roh Kudus memampukan gereja untuk menyatakan tanda-tanda Kerajaan Allah di bumi melalui kononia, marturia, dan diakonia.



[1] Conffesion of Faith in Mennonite Perspective,( Herald Press: Scottdale, 1995) page 21
[2] Terjemahan bebas dari: The complete works of Menno Simon (Elkhart: Ind., 1871), page 187 http://www.mennosimons.net/holyghost.html, accessed 10 Februari 2014

Jumat, 30 Mei 2014

Pentingnya Keterlibatan Jemaat dalam Pelayanan bagi Pertumbuhan Gereja




Setiap hamba Tuhan menghendaki adanya pertumbuhan terjadi dalam gereja yang dipimpin. Namun demikian, untuk mewujudkan pertumbuhan gereja bukanlah pekerjaan mudah untuk dilaksanakan. Perlu ketekunan dalam doa, kerja keras, dan kekompakan diaken untuk peduli terhadap jiwa-jiwa. Bahkan kondisi buruk dapat terjadi dalam sebuah gereja. Akan tetapi kondisi buruk dalam sebuah gereja dapat diubahkan menjadi baik, bila ditangani dengan cara yang tepat. Sebagaimana nasihat C.H Spurgeon, bahwa:
“Adalah baik bila seorang yang masih muda mulai dengan prospek yang buruk karena dengan cara bekerja yang tepat, pasti kemudian muncul perbaikan. Bila kapel itu sama sekali kosong ketika Anda pergi ke sana, jangan sampai keadaannya kemudian memburuk. Mungkin Anda akan menjadi alat untuk membawa beberapa orang ke gereja itu dengan demikian keadaannya akan lebih baik”[1]
Mencermati pendapat tersebut, maka dapat diketahui bahwa selalu ada cara untuk membawa pertumbuhan dalam gereja. Namun pertumbuhan gereja bukan karena pekerjaan individual, tetapi hasil kasih karunia Allah dan pekerjaan sebuah tim. Oleh karenanya dalam gereja harus ada jemaat yang bersedia komitmen mengambil bagian dalam pelayanan.
Membawa jemaat untuk ambil bagian dalam pelayanan demi pertumbuhan jemaat memerlukan kesabaran. Langkah pertama yang mungkin diperlukan adalah menyampaikan harapan kepada jemaat, baik melalui persekutuan doa maupun dalam khotbah. Apabila langkah tersebut masih kurang mendapat respon, rekrutlah beberapa orang diantara jemaat yang memiliki kerohanian lebih, dan ajaklah untuk menjadi pendoa bagi pelayan gereja, pertumbuhan jemaat, dan jiwa-jiwa yang lemah imannya. Selanjutnya jagalah agar pertemuan doa dapat berlangsung dengan baik seterusnya. Dan jadikanlah Alkitab sebagai penuntun dan penguat bagi para pendoa. Akhirnya dapat dimengerti bahwa pertumbuhan jemaat bukanlah hasil usaha manusia. Akan tetapi pemberian Allah bagi orang-orang yang mendedikasikan diri bagi pekerjaan pelayanan Allah.
Dengan demikian masihkah terbesit dalam benak, bahwa pertumbuhan gereja itu sulit diwujudkan? Sebenarnya tidak. Sebab ketika banyak jemaat aktif dalam pertemuan doa,  bersungguh-sungguh berdoa, dan memperhatikan jiwa-jiwa, maka pertumbuhan itu akan terlaksana dengan sendirinya. Siapakah yang memberikan pertumbuhan pada tanaman padi? Apakah petani? Tidak, tetapi Tuhan. Lalu, mungkinkah petani yang malas akan mendapatkan bulir padi yang baik? Tidak. Seorang petani harus bekerja dengan semangat, membentuk tim kerja, dan bergantung pada Tuhan untuk mendapatkan padi yang baik.


[1] C. H. Spurgeon, Cara Memenangkan Jiwa, (Andi: Yogyakarta, 2010), hal, 128

Selasa, 20 Mei 2014

Aktivitas Gereja yang Bertumbuh: Bertekun dalam Pelayanan



Kis. 2:44-45; I Kor. 15:58
Jemaat yang terkasih di dalam Tuhan Yesus, apabila kita cermati bersama, keberadaan jemaat mula-mula mengalami begitu banyak kesulitan. Baik dari dalam maupun luar. Dari luar mereka mendapatkan tekanan dari pemerintah dan orang-orang Yahudi yang membeci mereka. Sedangkan dari dalam mereka harus bergumul untuk bagaimana dapat bertahan hidup, bagaimana supaya tetap menjaga kesatuan, mereka berusaha untuk melakukan firman Tuhan yang diajarkan oleh para rasul. Tetapi mereka menghadapi semua pergumulan itu dengan sukacita (ay. 46). Perhatikan, meskipun tekanan datang dari dalam dan dari luar jemaat, mereka tetap bersatu hati untuk tetap bersedia melayani (ay. 44). Dari antara mereka tetap berada dalam persekutuan dan bersedia ikut ambil bagian dalam pelayanan. Kita melihat (ay.45), ada dari mereka yang menjual harta miliknya untuk dibagi-bagikan kepada saudara-saudara yang membutuhkan. Yang patut kita tiru adalah semangat mereka yang saling memberikan perhatian. Dalam 1Timotius 5:16 tertulis demikian Jika seorang laki-laki atau perempuan yang percaya mempunyai anggota keluarga yang janda, hendaklah ia membantu mereka sehingga mereka jangan menjadi beban bagi jemaat. Dengan demikian jemaat dapat membantu mereka yang benar-benar janda. Jadi jemaat yang benar-benar membutuhkanlah yang diberi perhatian. Perhatikan, mengapa jemaat mula-mula bertumbuh imannya dan bertambah jumlah jemaatnya? Dalam hal pelayanan, inilah yang jemaat mula-mula laksanakan:
1.   Mereka tetap bersatu, tidak menghindar ketika melihat ada pekerjaan Tuhan yang harus dilaksanakan.Mereka tidak menghindari pelayanan. Malah dengan kemauan sendiri mereka ikut ambil bagian dalam pelayanan.
2.              Mereka bersemangat dan bersukacita ketika ikut ambil bagian dalam pelayanan.
Jemaat yang terkasih...
Ilustrasi
Pada suatu hari ada seorang Bapak yang sudah berumur 38 tahun, sebutlah namanya Pak Min. Pekerjaannya adalah sebagai buruh tani, demikian pula sebagian besar tetangga-tetangganya. Ia dan keluarganya harus ikut program transmigrasi karena desanya akan ditenggelamkan, untuk pembuatan waduk yang dapat dipakai sebagai sarana irigasi dan pembangkit listrik. Pak Min hanya ikut saja, karena ia mau menjadi warga negara yang baik. Kemudian ia menerima sebuah rumah serta tanah seluas 2 hektar. Singkatnya, bapak yang memiliki seorang istri dan dua anak ini telah berada di lingkungan yang baru, suasana, tempat, dan tanah yang baru. Kebutuhan hidup untuk empat bulan ke depan masih ditanggung oleh pemerintah, namun ia sadar bahwa ia harus bekerja keras demi masa depan keluarganya.
Ketika malam tiba, seperti biasa Pak Min sekeluarga berdoa sebelum tidur. Setelah berdoa bersama, anak-anak dan istrinya diminta untuk istirahat terlebih dahulu. Bapak ini senang sekali, karena ia melihat anak-anak dan istrinya bahagia. Sebagai seorang buruh tani, ia pun senang karena baru kali ini mendapatkan rumah serta tanah seluas 2 hektar. Setelah agak larut, Ia pun ikut tertidur bersama anak serta istrinya. Ia terlelap dan memimpikan tanah disekitar rumahnya itu subur. Apapun yang ia tanam, selalu tumbuh baik dan hasilnya bisa dijual sehingga kebutuhan keluarganya dicukupkan. Ia bermimpi anaknya bisa kuliah dan hidupnya makmur sejahtera. Pak Min menjadi tenang dan nyenyak dalam tidurnya karena mimpinya yang begitu indah..
Ketika ayam berkokok, jam di dinding menunjukkan pukul 4.30. Pak Min pun bangun bersama anak-anaknya dan mulai berdoa bersama. Mereka bersukacita sekali. Setelah berdoa, ibu dan anak-anak mempersiapkan sarapan pagi, sedangkan Pak Min mempersiapkan peralatan pertanian untuk memulai menggarap tanahnya. Setelah sarapan siap mereka bersama sarapan pagi, dan setelah itu bersiap untuk melaksanakan aktivitas masing-masing. Akhirnya, bapak ini berangkat untuk melihat tanahnya yang memiliki luas 2 hektar. Untuk pertama kalinya ia mengitari tanah miliknya. Ia melihat-lihat dan semakin jauh ia melangkah, semakin ia berputus asa dan sedih. Karena sepanjang kakinya melangkah, didapati bahwa tanah yang diinjaknya begitu tandus dan gersang. Hanya rumput setinggi tumitlah yang tumbuh. Untuk hari pertama itu, ia hanya duduk terdiam sedih di tanah yang luasnya 2 hektar. Ia sedih karena apa yang dia lihat tak sesuai mimpinya tadi malam. Tak sanggup rasanya menceritakan keadaan tanah 2 hektar itu kepada anak-anak dan istrinya. Hari telah sore, ia pulang dan dalam perjalanan pulang ia berpikir dan berniat untuk menjual tanah 2 hektar itu. Tetapi, ia masih bergumul tentang itu.
Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan rekan-rekan sesama transmigran dan menemukan masalah yang sama. Kemudian mereka berembug bersama. Dalam rembug bersama itu ada yang mengusulkan untuk demo, ada juga yang mengusulkan untuk melapor ke kepolisian, tetapi masih ada yang mengusulkan untuk tetap mengelola tanah mereka. Ditengah-tengah perbincangan yang semakin memanas,  ada seorang bapak yang sudah dianggap sesepuh di desa itu berkata:
“Saudara-saudaraku, mengapa kita semua menjadi takut? Bukankan ketika kita berada disini karena Tuhan menyertai kita? Bukankah Tuhan akan membuka jalan bagi setiap orang yang berdoa dan bekerja? Bukankah kita akan dikenang oleh anak cucu kita, bila kita bersedia berjuang untuk kemajuan tempat kita berada ini? Dan bukankah orang-orang di luar desa kita akan mengatakan bahwa kita ini pengecut bila kita lari dari desa ini, menjual tanah yang diberikan pemerintah, dan kembali menjadi buruh? ... ditengah keheningan, Pak tua itu melanjutkan perkataannya.... “Saudara-saudara, saya merasakan apa yang saudara-saudara semua rasakan, tetapi mari kita bangun desa ini, tolong jangan keluar dari desa ini. Di lereng gunung dekat tanah saya ada sumber mata air yang cukup banyak. Kita bisa alirkan air itu untuk menyuburkan tanah kita bersama... mari kita bekerja untuk kemajuan desa ini”
Akhirnya mereka setuju untuk tetap tinggal dan bekerja bersama-sama, demi kemajuan desa tempat mereka berada. Karena saking senangnya, mendapat informasi bahwa ada sumber air, maka sore itu juga mereka bersama-sama pergi ke sumber air itu untuk memastikan keberadaan sumber mata air. Setelah melihat keberadaan sumber mata air itu, mereka merencanakan untuk membuat saluran air dengan bambu. Akhirnya mereka pulang dengan tenang, dan kesokan harinya mereka bergotong-royong membuat saluran air melalui bambu. Oleh karena ada air yang disalurkan untuk mengairi begitu banyak, tanah mereka menjadi tidak tandus lagi. Hasil ladang penduduk melimpah. Bahkan mereka bisa membuat peternakan kambing yang menyokong pengasilan para petani. Setiap tiga bulan sekali, para petani bergotong –royong memperbaiki saluran air itu. Sampai akhirnya, seiring berjalannya waktu saluran bambu itu diganti dengan pralon besar, dan mereka menggunakan teknologi pertanian yang maju. Sehingga desa mereka dikenal maju. Mereka hidup bersama-sama saling menopang satu dengan yang lain, menjaga kerukunan, dan bersama-sama giat bekerja untuk kemajuan desa mereka. Sedangkan Pak Min sendiri hidupnya bahagia, dan anak-anaknya bisa kuliah karena pertaniannya yang berhasil.
Aplikasi:
Jemaat yang dikasihi oleh Tuhan, mari kita perhatikan ketakutan, keragu-raguan, dan kemarahan penduduk desa yang berada di tanah gersang itu. Dan mari kita bandingkan dengan keyakinan dan kerja keras dari sesepuh yang memberikan motivasi itu. Kadang kala dalam kehidupan bergereja, ketika mendapatkan tugas untuk pelayanan ada yang ketakutan, ada juga yang ragu-ragu atas kemampuannya, dan mungkin ada yang marah karena merasa tidak cocok dengan  tugas pelayanan yang ada. Tetapi masih ada juga yang yakin dan bersedia untuk bekerja keras.
Ibu, bapak, saudara yang terkasih,  Gereja yang bertumbuh, berisi orang-orang yang bersedia  ikut melayani sesuai dengan kemampuan yang Tuhan berikan.
Dan apabila kita perhatikan, desa tadi bisa menjadi desa yang makmur dan berkembang bukan karena Sesepuh desa itu, tetapi karena semua penduduknya bersatu bergotong-royong dan bekerja keras. Demikian juga dalam gereja, gereja dapat bertumbuh bukan karena hasil pekerjaan satu orang saja, tetapi semua jemaat yang tergabung dalam gereja itu.

Lalu pertanyaannya,
Bila kita sudah turut ambil bagian dalam pelayanan, apakah ada keuntungannya bagi kita? Firman Tuhan melalui rasul Paulus dalam I Korints 15:58 tertulis demikian:
“Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.”

Dan mari kita lihat, bagaimanakah nasib orang yang giat selalu dalam pekerjaan Tuhan?
Wahyu 14:13 menuliskan demikian:
“Dan aku mendengar suara dari sorga berkata: Tuliskan: "Berbahagialah orang-orang mati yang mati dalam Tuhan, sejak sekarang ini." "Sungguh," kata Roh, "supaya mereka boleh beristirahat dari jerih lelah mereka, karena segala perbuatan mereka menyertai mereka."

Saya yakin kita semua berharap gereja ini terus bertumbuh. Dan saya yakin Tuhan memenuhi gereja ini dengan jemaat  yang giat dalam pelayanan. Bersama-sama marilah kita giat dan bersemangat dalam pekerjaan Tuhan.

Say No to Divorce !

If we pay attention to the divorce statistics in Indonesia, we may be interested in the facts. According to data from the Director General o...