Sabtu, 28 Februari 2015

Mencari untuk Menemukan "Domba" yang Tersesat - Matius 18:12

"Bagaimana pendapatmu? Jika seorang mempunyai seratus ekor domba, dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan dan pergi mencari yang sesat itu? 
Matius 18:12

Sudah menjadi sebuah kebiasaan yang alamiah bagi gembala di Israel, apabila mencari domba kepunyaannya yang tersesat. Bahkan mencarinya sampai menemukannya. Secara jelas Yehezkiel menyampaikan kerinduan hati Allah kepada umat-Nya Israel. Bahwa pada dasarnya Allah mengumpamakan diri sebagai seorang gembala, dan umat israel adalah domba-domba-Nya. Yehezkiel menyampaikan, bahwa: "Dengan sesungguhnya Aku sendiri akan memperhatikan domba-domba-Ku dan akan mencarinya. Seperti seorang gembala  mencari dombanya pada waktu domba itu tercerai dari kawanan dombanya, begitulah Aku akan mencari domba-domba-Ku dan Aku akan menyelamatkan mereka dari segala tempat, ke mana mereka diserahkan pada hari berkabut dan hari kegelapan (Yeh. 34:11-12). Dengan demikian sudah menjadi kebiasaan alamiah, bila seorang gembala mencari dombanya yang tersesat. Meskipun hanya satu saja yang terhilang, seorang gembala akan tetap mencarinya sampai menemukan. Bahkan penggambaran seorang nabi Yesaya tentang hubungan Allah dengan umat-Nya, terlihat sungguh akrab. Dapat dibayangkan bila domba digembalakan dan dihimpun dengan penuh perhatian. Digambarkan seperti anak-anak domba yang dipangku-Nya dan seperti induk-induk domba yang dituntun dengan hat-hati, demikian pula keadaan umat di bawah penggembalan Allah. Betapa indahnya, dan berbahagianya penggembalaan yang dari Allah. Betapa Allah memperhatikan sampai sedetail mungkin kebutuhan pada domba-Nya. Bukan hanya makanan yang menyehatkan tetapi juga kasih sayang Allah berikan bagi umat-Nya. 
Oleh karena kesetiaan Allah terhadap firman-Nya, maka Allah sendiri yang mengambil segala resiko untuk menyelamatkan domba kepunyaan-Nya. Bahkan, pengurbanan Tuhan Yesus di atas kayu salib sungguh membuktikan akan kesetiaan-Nya dalam melindungi kawanan domba-Nya dari kebinasaan maut. Tentu, Allah bukanlah gembala yang biasa namun kenyataannya Ia adalah Gembala Agung. Kendati TUHAN adalah Gembala Agung, tetapi tugas penggembalaan didelegasikan kepada orang-orang pilihan-Nya. Sebagaimana diketahui, dalam Alkitab disebutkan ada para nabi, rasul-rasul, pengajar, penatua bahkan diaken. Semua orang yang termasuk dalam jabatan tersebut, dilantik sendiri oleh Allah. Bukan hanya dilantik, tetapi juga diperlengkapi Allah dengan karunia Roh, bahkan dituntun oleh Roh Kudus. Oleh karenanya, awal mula pengangkatan 7 orang untuk membantu tugas pelayanan para Rasul diserahkan kepada mereka yang dikenal penuh dengan Roh Kudus. Dengan demikian, tugas penggembalaan ini buklanlah inisiatif dari pribadi manusia tetapi karya Roh Allah sendiri. Oleh karena itu, para penggembala yang dilantik oleh Tuhan harus memiliki kehidupan yang erat dengan Tuhan. Kehidupan yang tenggelam dalam doa dan pemahaman Alkitab. Apabila para penggembala memiliki kualitas rohani yang demikian, tentunya firman Allah akan mengalir melalui hidupnya dan memberkati banyak orang. Bahkan Allah sendiri akan menggerakkan orang tersebut untuk mencari yang terhilang. 
Oleh karena itu, Allah tidak sembarangan melantik para pelayan Tuhan. Ada yang benar-benar dilantik dan dekat dengan Allah, namun ada pula yang hanya sekedar menjadi gembala upahan. Menjadi gembala upahan, karena dari mulanya tidak menjalin hubungan baik dengan Allah. Sehingga hatinya pun, jauh dari hati seorang gembala. Seorang gembala beberapa kali digambarkan dalam Alkitab, untuk menunjukkan tugas para hamba Tuhan. Ada pemahaman menarik yang tertulis dalam Matius 18:12. Seorang gembala akan benar-benar meninggalkan 99 ekor dombanya yang tidak tersesat, dan mencari satu saja dombanya yang terhilang. Perhatikan, hanya demi satu dombanya yang terhilang ia siap menempuh berbagai rintangan demi mendapatkan kembali seekor dombanya. Akan tetapi ini bukanlah perbuatan gegabah, ia sudah memastikan keamanan 99 ekor dombanya dan pasti akan pergi untuk menemukan dombanya yang hilang. Ia tidak menunda dengan berbagai alasan untuk mencari yang hilang. Ini adalah sebuah perbuatan dengan sifat segera dilaksanakan. Sungguh ini adalah teladan baik yang diberikan Tuhan Yesus, untuk menggambarkan keberadaan gembala-gembala yang dilantik oleh Tuhan. Baiklah dalam jemaat Tuhan dimunculkan gembala-gembala bagi kawanan domba. Yang tidak menunda untuk mencari yang terhilang, dan tidak melalaikan kawanan. Tetapi yang sungguh menyediakan hati, jiwa dan akal budi untuk dipakai Allah mencari dan menemukan yang terhilang.
           

Peranan Penting Majelis dalam Jemaat Tuhan - Kisah Para Rasul 20:28-32

Keindahan Gereja di kota lama Semarang

Dalam perjalanan gereja dari sejak berdirinya sampai saat ini, menunjukkan adanya perkembangan yang signifikan dalam pengorganisasian dan manajemennya. Sungguh sebuah tantangan baru sekaligus jalan menuju pengembangan organisasi. Tatkala muncul permasalahan di dalam jemaat karena para janda tidak terlayani dengan baik. Terjadilah sebuah peristiwa penting yakni, manajemen organisasi yang berkembang (Kis. 6:1-7). Para rasul sebagai pemimpin dalam jemaat, meminta kepada jemaat supaya mengangkat tujuh orang yang penuh dengan Roh Kudus untuk dapat menangani pelayanan kepada para janda miskin. Dengan demikian, para rasul dapat berfokus pada pelayanan firman dan doa. Ketujuh orang yang dipilih jemaat mula-mula ini adalah embrio dari jabatan sebagai penatua yang akhirnya berkembang hingga saat ini. Keberadaan penatua tentunya sangatlah penting bagi jemaat. Oleh karena itu syarat untuk menjadi penatua pun ditentukan dengan ketat (I Tim. 3:1-7; Titus 1:5-9). Tentunya dengan syarat yang tertulis dalam Alkitab, penatua diharapkan dapat menghasilkan penatua yang cakap melalui pemuridan atau penggembalaan. Jadi secara singkatnya dapat dikatakan bahwa penatua hendaknya melahirkan penatua.
Oleh karena itu dalam pesan-pesan rasul Paulus yang terakhir kepada para penatua dari Efesus ditegaskan bahwa: "Karena itu jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan, karena kamulah yang ditetapkan Roh Kudus menjadi penilik untuk menggembalakan jemaat Allah yang diperoleh-Nya dengan darah Anak-Nya sendiri" (Ay. 28). Intinya jelas, bahwa peranan penatua dikelompokkan menjadi dua. Tugas yang pertama ialah menjaga diri – integritas pribadi. Dapat dimengerti bahwa integritas pribadi ini termasuk menjaga iman, kesalehan hidup dan kasih persaudaraan sesuai firman Tuhan. Tugas yang kedua ialah menjaga seluruh kawanan – penggembalaan. Menggembalakan jemaat termasuk didalamnya menyebarluaskan dan menjaga ajaran yang sehat sesuai firman Tuhan. Karena akan banyak serangan yang muncul baik dari luar maupun dari dalam jemaat untuk mencerai-beraikan kawanan domba Allah (Ay. 29-30). Maka peranan penatua dalam jemaat haruslah dilaksanakan dengan baik, supaya jemaat terlindungi dari ajaran yang memutarbalikkan kebenaran firman Allah. Kedua tugas tersebut dapat dikatakan utama dalam gereja. Dalam hal inilah, tugas untuk menjaga kawanan domba Allah dilaksanakan bersama-sama dengan Pendeta jemaat. Disamping itu, tugas pelayanan sosial juga mengiringi tugas penggembalaan. Oleh karena itu, dalam pelaksanaannya dijalankan oleh diaken. Sebagaimana diketahui bahwa Tuhan Yesus dan para rasul senantiasa melayankan firman Tuhan dan juga memberikan pelayanan sosial. Tuhan Yesus berkata: “Kamu harus memberi mereka makan” (Mark. 6:37). Inilah para pelayan Tuhan, ada jabatan sebagai diaken, penatua, dan pendeta. Ketiga jabatan ini bukan jabatan antara karyawan dan atasan. Namun lebih kepada rekan sekerja dengan fungsi masing-masing yang saling mendukung untuk pertumbuhan gereja.

Dalam pemahaman jemaat GITJ, tentunya mengenal tiga jabatan gerejawi ini. Dalam pelaksanaannya disebut sebagai Majelis jemaat. Namun perlu dipertegas kembali bahwa dalam Majelis ada diaken, penatua, dan pendeta. Ketiganya berbeda namun sama-sama kawan sekerja Allah. Allah sendiri yang menetapkannya (Ay.28, 32; bdg. I Kor. 3:9). Dengan memahami ini, maka Majelis jemaat akan dimampukan oleh Allah untuk melaksanakan tugasnya. Tentunya dalam melaksanakan tugas, setiap Majelis membutuhkan dukungan dan doa dari jemaat. Sehingga Allah bekerja secara optimal melalui alat-Nya – Majelis Jemaat. Mari bersama kita mendukung dan mendoakan Majelis yang terpilih. Sebab dalam kemajelisan ada yang menanam, ada yang menyiram, dan ada pula yang memperhatikan dalam jemaat Tuhan.

Kamis, 26 Februari 2015

Dimerdekakan oleh Roh Kudus

Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut (Roma 8:2)

Apabila diperhatikan, ternyata ada sesuatu yang senantiasa mengancam keselamatan jiwa manusia. Ancaman tersebut adalah "hukum dosa dan maut." Keberadaannya akan selalu membayangi dan menarik orang jatuh ke dalam dosa dan kematian rohani. Itu berasal dari dosa keturunan sejak dilahirkan oleh dosa. Sebagaimana dialami oleh para keturunan Adam didunia. Adapun proses dilahirkan kembali secara rohani oleh Roh Kudus tidak menghapus masalah ini, karena prinsip ini masih beroperasi dalam alam kemanusiaan kita (kedagingan). Selain itu, - yang perlu diwaspadai - menjadi anak Allah tidak lantas membuat obat-Nya terus-menerus tersedia bagi kita.
Obat dari Tuhan untuk "hukum dosa dan maut" haruslah lebih tinggi dan berprinsip lebih kuat. Hukum itu ialah "hukum Roh kehidupan dalam Kristus Yesus." Prinsip yang lebih tinggi ini melibatkan Roh Kudus dan menjadikan Tuhan Yesus sebagai sumber kehidupan bagi setiap kita yang ada di dalam-Nya. Prinsip ini beroperasi dalam kehidupan ciptaan baru di dalam Kristus, yang tidak berjalan "menurut daging, tetapi [berjalan/hidup] menurut Roh" (Rom_8: 4). Dengan hidup menurut pimpinan Roh Kudus, semakin dapat membebaskan kita dari kecenderungan nafsu internal yang menjatuhkan setiap aspek kehidupan kita.
Bahkan (sebagaimana telah kita catat sebelumnya), ini adalah satu-satunya jalan dan harapan bagi kita untuk bertumbuh di dalam kesalehan. Bahwa hukum itu memberikan tuntunan bagi setiap kita untuk melaksanakannya (Rom. 8: 4). Hidup kitalah yang menjadi ukuran, apakah kita saleh atau tidak dihadapan Tuhan. Adapun kesalehan kita itu terwujud karena Kristus-lah yang bekerja melalui kita. Inilah kebenarannya bahwa Tuhan Yesus adalah satu-satunya pribadi yang pernah bisa hidup di dunia dengan sepenuhnya menyenangkan Bapa. Tuhan Yesus berkata, "Aku selalu melakukan hal-hal yang menyenangkan-Nya" (Yoh. 8: 29).
          Dengan demikian, untuk menerima pengalaman Kristen yang berkemenangan, kita perlu hidup sebagai mana Tuhan Yesus ada di dunia. Marilah kita hidup di dalam Kristus dan Kristus ada di dalam kita melalui karya Roh Kudus. Kita perlu hukum yang lebih tinggi ("hukum Roh: kehidupan dalam Kristus Yesus") untuk membebaskan kita dari hukum yang lebih rendah ("hukum dosa dan hukum maut").
          Sekali lagi, apa tanggung jawab kita dalam hal ini? Kita harus berhubungan dengan Tuhan dalam kerendahan hati dan iman. Dengan kerendahan hati, mengakui bahwa kita terus diserang hukum dosa dan maut namun kita diselamatkan melalui iman – inilah hukum Roh. Dan tentunya iman berkata dengan penuh keyakinan yang kudus bahwa "hukum Roh kehidupan dalam Kristus Yesus telah membuat saya bebas dari hukum dosa dan kematian."

Doa

Ya Tuhan Yesus, Dikau sendiri dapat menyediakan kehidupan saya dipanggil untuk hidup. Saya dengan rendah hati setuju dengan perkataan Dikau. Dengan senang hati saya percaya Roh Kudus-Mu ada untuk semakin membebaskan saya dari kekalahan saya melawan kedagingan saya. Saya berterimakasih kepada Dikau dengan cara Dikau yang ajaib menjawab doa ini. Tuhan Yesus, hidup di dalam dan melalui saya dengan kuasa Roh Kudus, Amin.

Bahan Pendadaran Perjamuan Kudus - 5 s/d 6 Mei 2014


Teks     : Lukas 15:11-32
Tema   : Bahagianya Menerima Pengampunan

Pendahuluan:
Dalam Alkitab Perjanjian Baru, pengertian tentang pengampunan dapat dimengerti dari kata apoluo yang artinya membebaskan (Luk. 13:12). Pertanyaannya, dibebaskan dari apakah orang yang telah diampuni? Orang yang telah diampuni, dibebaskan dari belenggu maut, hutang, maupun kutuk. Akan tetapi pemahaman ini dapat disalah mengerti oleh pribadi yang kurang merasa mendapat anugerah. Oleh karena merasa telah diampuni, maka ia bebas untuk berbuat kejahatan. Namun berbeda dengan pribadi yang merasa mendapat anugerah pengampunan. Ia merasa bahagia karena telah menerima pengampunan, dan menjalani kehidupan sesuai perintah Sang Juruselamat. Dalam Lukas 15:11-32, dapat dimengerti bersama bahwa, ada kebahagiaan tersendiri bagi anak yang mengetahui bahwa dirinya telah diampuni oleh bapanya. Bukan hanya bapanya yang berbahagia, namun juga anak yang telah berbuat kesalahan (ay. 32). Kebahagiaan yang diterima, bukanlah bersifat seremonial namun benar-benar lahir dari hati.
Transisi:
Sebagai jiwa yang merasa berdosa dihadapan Allah, pasti kita semua memiliki kerinduan untuk merasakan kebahagiaan karena telah diampuni dosanya oleh Tuhan Yesus. Pertanyaannya, apa saja syarat yang hendaknya dipenuhi agar kita dapat merasakan kebahagiaan karena diampuni Tuhan?
Alkitab mencatat ada 6 langkah, seseorang dapat merasakan kebahagiaan karena diampuni dosanya, yakni:
1.      Menyadari kesalahan (ay. 17)
2.      Percaya bahwa Tuhan Yesus bersedia mengampuni (Kis. 10:43,26:18)
3.      Mengakui kesalahan (ay. 18, Mazmur 32:5)
4.      Berani datang kepada Tuhan, karena percaya (ay. 20)
5.      Berdoa, merendahkan diri dihadapan Allah (ay. 21, II Taw. 7:14)
6.      Berkomitmen meninggalkan dosa (II Taw. 7:14)
Undangan:

Ketika kita berbuat kesalahan, Allah telah berkomitmen untuk menunggu dengan sabar pertobatan kita (2Petrus 3:9). Oleh karena itu, marilah bersama kita menguji diri apakah kita taat dan setia kepada Tuhan, ataukah sebaliknya? Apabila ada kedapatan kesalahan dalam hidup kita, marilah kita melaksanakan 6 langkah yang membawa kepada kebahagiaan. Ketika kita memiliki keyakinan akan pengampunan oleh darah Kristus, maka kita berbahagia. Sebagaimana pemazmur menyatakan dirinya berbahagian, sebab kasih karunia Allah melimpah dalam kehidupannya. Dosa yang begitu keji telah diperbuat, namun melalui pertobatan yang sungguh-sungguh Allah berkenan memberikan damai sejahtera. Betapa luar biasa kasih Allah bagi setiap orang percaya. Sebab kita diberikan kesempatan untuk menghadap ke hadirat Tuhan, untuk memohon ampunan melalui pertobatan di dalam Kristus (Ibrani 10:19-22). Dengan iman dan kerendahan hati, marilah kita bersama-sama mempersiapkan diri untuk mengikuti Perjamuan Kudus. 

Bahan Pendadaran Perjamuan Kudus


Tgl.      : 15-16 Desember 2014
Teks     : I Korintus 11: 23-31
Tema   : Bersiap Menerima Perjamuan Allah

Pendahuluan
Tuhan Yesus pernah memberikan sebuah perumpamaan mengenai perjamuan kawin (Mat. 22:1-14). Dalam perumpamaan tersebut, diceritakan bahwa ada seorang raja yang menyuruh para hambanya untuk memanggil semua orang yang menerima undangan untuk menghadiri perjamuan kawin. Akan tetapi, orang-orang yang telah menerima undangan tersebut menolak untuk hadir. Bahkan ada yang dengan sengaja membunuh utusan raja yang menyampaikan pesan. Akhirnya raja murka, dan membinasakan orang-orang yang membunuh utusan raja. Karena semua sudah tersedia namun tidak ada yang hadir ke perjamuan, maka raja memberi perintah untuk memanggil semua orang yang ada di jalan-jalan; orang jahat maupun orang baik. Tetapi ditengah-tengah perjamuan, raja melihat ada seorang yang tidak memakai pakaian pesta. Oleh karena keadaan yang demikian, raja murka dan menghukum orang tersebut dalam kegelapan yang gelap, penuh ratapan dan kertak gigi.
Melalui perumpamaan tersebut, kita dapat mengambil sebuah prinsip bahwa “Setiap orang yang akan menerima perjamuan Tuhan, haruslah bersiap.” Sebab bila tidak bersiap, maka akan menimbulkan hukuman (I Kor. 11:29). Sebagaimana seorang raja menginginkan peserta perjamuan bersiap dengan memakai pakaian pesta, demikian pula kita dalam mengikuti perjamuan kudus. Allah menginginkan kita supaya bersiap. Apa yang dimaksud dengan bersiap disini? Untuk dapat memahami, marilah kita telaah mengenai apa yang disampaikan rasul Paulus kepada jemaat di Korintus. Ada beberapa prinsip yang harus kita pegang dan laksanakan sehingga kita disebut sebagai umat yang bersiap merima perjamuan Allah, yakni:
a.       Menjaga kemurnian iman (ay.26)
Latar belakang Paulus menuliskan surat yang pertama ke Jemaat Korintus, salah satunya ialah untuk menyadarkan tanggung jawab jemaat untuk tetap menjaga kemurnian iman. Jangan sampai, perjamuan yang kudus itu dijadikan tempat untuk menyombongkan diri, mengandalkan diri sendiri dan meremehkan kekudusan Tuhan. Sebab, kemurnian iman jemaat akan menjadi berita bagi seluruh dunia sampai Tuhan datang kembali. Oleh karenanya, rasul Paulus menegaskan: “Sebab setiap kali kamu makan roti dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang”. Dengan demikian, marilah kita bersama menyadari tanggung jawab kita untuk menjaga kemurnian iman. Sebab kemurnian iman kita adalah berita yang layak disebarkan samapi Tuhan datang kembali.
b.      Menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru (ay.28)
Selanjutnya ditekakankan pula bahwa, setiap orang yang mengikuti Perjamuan Kudus haruslah bertekad untuk hidup kudus. Sebab, sebagaimana diketahui bersama maksud diadakannya Perjamuan Kudus ialah untuk melawan dosa. Sehingga dimohon dengan tegas, agar setiap jemaat bersedia dengan rendah hati menelusuri, apakah ada dosa yang diperbuat diwaktu yang lampau dan belum diselesaikan? Bila ada baiklah memohon ampun secara terbuka dalam doa kepada Tuhan dan berkomitmen untuk tidak melakukannya kembali. Dalam beberapa suratnya, rasul Paulus juga menyampaikan kebenaran firman Tuhan supaya menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru di dalam Kristus. Secara jelas dituliskan beberapa dosa yang harus dihindari dan beberapa sikap yang harus dilakukan. (baca Efesus 4:22-24 & 32-32). Dengan demikian jelas bahwa, setiap jemaat yang bersedia ikut dalam Perjamuan Kudus haruslah bersedia menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru.
c.       Menyadari bahwa kita akan menerima Perjamuan Allah di Sorga (ay.31-32)
Terakhir, sebenarnya Perjamuan Kudus diadakan bukan hanya untuk mengingat akan pengurbanan Tuhan Yesus bagi kita. Bukan juga hanya untuk melawan dosa. Tetapi juga untuk mengingatkan kita bahwa nantinya kita juga akan mengikuti Perjamuan Kudus di Sorga yang dipimpin langsung oleh Tuhan Yesus. Ketika kita mengikuti Perjamuan Kudus, sebenarnya kita diingatkan untuk menerima Perjamuan di Sorga, sehingga kita tidak dibinasakan bersama-sama dengan dunia fana (ay.31-32). Ditengah-tengah kedegilan bangsa Israel nabi Zefanya menyerukan supaya bangsa Israel bersiap diundang Tuhan ikut serta dalam perjamua-Nya di Sorga. Secara tegas disampaikan: “Berdiam dirilah di hadapan Tuhan ALLAH! Sebab hari TUHAN sudah dekat. Sungguh TUHAN telah menyediakan perjamuan korban dan telah menguduskan para undangan-Nya.”( Zefanya 1:7). Demikian pula kepada Yohanes, Tuhan Allah menyampaikan bahwa orang-orang yang diundang masuk dalam Perjamuan Allah akan menerima kebahagiaan yang tak terkatakan  (Wahyu 19:9). Maka persiapkanlah diri kita untuk menerima Perjamuan Kudus di dunia saat ini, sebab akan tiba waktunya kita akan menerima Perjamuan Kudus bersama Tuhan Allah di Sorga disertai kebahagiaan yang luar biasa.

Undangan

Marilah bersama-sama kita mengikuti Perjamuan Kudus dengan kesiapan diri. Marilah kita menjaga kemurnian iman kita, menanggalkan perbuatan manusia lama dan mengenakan manusia baru yang dikuduskan Tuhan. Serta menyadari bahwa ketika kita mengikuti Perjamuan Kudus di dunia dengan iman dan kekudusan, maka sebenarnya kita telah menerima undangan untuk ikut serta dalam Perjamuan Kudus di Sorga. Marilah kita bersiap menerima Perjamuan Kudus sampai Tuhan Yesus datang kembali.

Gesang Kita Kedah Kaenggalaken - Yohanes 3:1-21; Rum 12:2 (part 3)

Salajengipun perkawis kayekten ingkang kedah kita ugemi inggih punika, bilih gesang kita saged kaenggalaken namung:
1.                  Awit saking pitados dhumateng Gusti Yesus
Penjelasan:
Saged dipun panggihi wonten ing ayat 15, Yokanan 3:15: “supaya saben wong kang pracaya marang panjenengane oleh urip langgeng”. Ing ayat punika kaserat tembung “pracaya/pitados”, miturut ayat punika tembung “pitados” nggadahi teges: mitayakaken lan masrahaken gesang sakwetahipun dhumateng Putraning Manungsa, Gusti Yesus Kristus. Kanthi makaten saged dipun mangertos bilih tembung pitados punika mratelakaken gesang ingkang nggadahi pangarep-arep, langkung malih anggenipun mitayakaken lan masrahaken gesang sawetahipun dhumateng Gusti Yesus.  Pitados dhumateng Gusti punika boten ateges kita pasif utawi kendel kemawon. Nanging, kita tansah masrahaken gesang kita dhumateng Gusti Yesus, kang ateges kita setya lan sedya dhumateng pangandikanipun Allah ingkang sampun kaserat wonten ing Alkitab.
Penggambaran:
            Jemaat ingkang kinasih, nalika kula sakit lan berobat wonten RS. Pantiwilasa Citarum, Pak Dokter maringi kula resep obat. Piyambakipun ngendikan: Pak Adi.. untuk mengobati sakitnya saya telah membuat resep obat yang paling bagus. Bapak harus minum sesuai dosis dan istirahat yang cukup, saya jamin Bapak akan segera sembuh. Lajeng kula saged saras malih saksampunipun ngombe obat miturut dosis lan cekap istirahat. Ibu, Bapak, para saderek, kula pitados bilih Pak Dokter punika mboten ngapusi kula, pramila kula sedya ngestokaken ngendikanipun dokter lan ing pungkasanipun kula nampi kasarasan.


Penegasan:
Mekaten ugi kula lan panjenengan. Gesang kita saged kaenggalaken matemah nampi karahayon lan kayekten ingkang saking Gusti. Ananging kita kedah pitados dhumateng Gusti Yesus, kanthi setya lan sedya ngestokaken sabdanipun Gusti. Boten namung dinten punika kemawon setya lan sedya ngestokaken sabdanipun Gusti, ananging ngantos Gusti nimbali kula lan panjenengan.
Penerapan
Jemaat kagunganipun Gusti, sumanggan kita sesarengan setya ngugemi janjinipun Gusti lan sedya ngestokaken dhawuhipun. Lajeng, saking pundi saged manggihi janji lan dhawuhipun Gusti? Ing Alkitab, sedaya punika sampun kaserat. Pramila sampun ngantos kendhat anggen kita ndedongan lan maos Alkitab ing padintenan.
Transisi:
Ingkang pungkasan, gesang kita saged kaenggalaen punika namung:
2.                  Awit saking batos ingkang kaenggalaken (Transformasi)
Penjelasan:
Wonten ing Rum 12:2, wonten tembung “Budi utawi nous” menika nggadahi padanan kaliyan ati, batin utawi batos. Wonten ing batin Allah makarya, lan Allah ndamel batos tiyang pitados wanuh marang suwantenipun Allah (Yeh. 36:26-27). Ingkang dados pitakenanipun, kenging punapa rasul Paulus ngatag supados sedaya tiyang pitados kedah kaengalaken wonten ing pambudinipun? Amargi kita punika katitahaken dening Allah dados ciptaan ingkang enggal. Kang lawas sampun sirna dipun gantos kaliyan gesang enggal wonten ing tuntunan Roh Suci. Lan kita katitahaken dening Allah supados dados umat ingkang ngluhuraken Allah mboten namung ing lathi, ananging kanthi pagesangan kita ingkang ngluhuraken asmanipun Allah. Kados dene ingkang kaserat wonten ing Titus 3:1-5.
Penggambaran:
Sumangga dipunpirsani wonten ing Sekolah Minggu, lajeng sekolah-sekolah Kristen, lan ing perguruan tinggi. Pendidikan budi pekerti dipundadosaken pelajaran pokok, kangge para peserta didik. Mekaten ugi jemaat mennonite ing jamanipun Menno Simon, sedaya jemaat dipuntransformasi lumantar pendalaman Alkitab lan persekutuan kang raket sanget. Matemah, kelompok mennonite punika kasebat tiyang pitados ingkang mursid.
Penegasan:
Jemaat ingkang kinasih, batos kita kedah kaenggalaken. Menawi kita mbikak manah kita kagem pakaryaning Roh Suci, kita aturi Roh Suci dados panguwaos ing batos kita. Kanthi mekaten gesang kita saged kaenggalaken, awit batos ingkang kaenggalaken nuwuhaken pakaryan ingkang mulya (kamursidan), balik batos ingkang dereng kaenggalaken dening Roh Suci punika nuwuhaken bebendu saking Allah.
Penerapan:
Menawi kita sami ngaken bilih Roh Suci wonten ing gesang kita, sumangga kita masrahaken dhiri dhumateng Roh Suci; ampun ngantos masrahaken diri dhumateng mbah dukun. Sumangga kita nyumanggakaken Roh Suci makarya ing manah/ batos kita, matemah kita saged memuji Gusti kanthi sukarena, mbiyantu sesami kanthi bungah, lan mungkasi konflik kanthi katresnan.
Visualisasi:
Sumangga kita mirsani bayi ingkang kababar, piyambakipun mbetahaken tetedan lumantar ASI lan menawi sampun balita, tetedanipun sampun mawi bubur lan tetedan sanesipun. Ananing sak sampunipun saged mlampah lan wicara piyambakipun mbutuhaken pendidikan. Ngantos dumugi SMA, wonten ingkang nglajengaken wonten ing universitas. Sak sampunipun lulus, piyambakipun kedah nyambut damel, lan sak lajengipun ngraosaken endahing sesemahan ing kaluwarga enggal. Mekaten ugi kita, nalika kita sampun dipun lairaken malih dening Roh Suci, kita kedah tuwuh. Gesang kita kedah kaenggalaken lumantar pawartos Injil ingkang kita ugemi. Gesang kita ugi kedah kaenggalaken kanthi pitados dhumateng Gusti, lan masrahaken diri dhumateng pakaryan Roh Suci wonten ing batos kita.
Tindakan:

            Jemaat ingkang kinasih, sumangga kita dados kados bayi ingkang sangsaya mindak umur sangsaya kaenggalaken badan, budi, lan rejekinipun. Sumangga kita sami ngugemi pawartos Injil ingkang sampun kita tampi, setya lan sedya nindakaken dhawuh sabdanipun Gusti kanthi maos Alkitab ing padintenan. Matemah kula lan panjenengan saged dados umat ingkang saleh, umat ingkang gesangipun kaenggalaken dening Roh Suci. 

Gesang Kita Kedah Kaenggalaken Yohanes 3:1-21; Rum 12:2 (part 2)

Miturut punapa ingkang sampun kita waos sesarengan ing Yokanan 3:1-21 lan Rum 12:2; kita saged manggihi dhasar kapitadosan kita bilih gesang kita saged kaenggalaken namung:
1.                  Krana pakaryaning Roh Suci lumantar Injil ingkang kawartakaken
Penjelasan:
Wonten ing Yokanan 3: 5-8 ngatingalaken bilih Roh Suci nggadahi andil wonten satengahing gesang ingkang kaenggalaken….wonten ing ayat punika maringi gambaran babagan kados dene hukum reproduksi. Hukum reproduksi punika “menghasilkan sesuai dengan jenisnya”, kados dene cempe mesthi nglairaken cempe, lan ibu-ibu inggih mbabarken bayi. Lan Roh Suci nuwuhaken babagan roh; inggih punika gesang ingkang kalairaken dening Roh, katuntun dening Roh lan ngrembaka awit saking Roh. Wondene Roh Suci punika kados “angin” kang saged dipun pirengaken sumiyute, ananging boten saged dipunpirsani pinangkanipun lan paranipun. Mekaten ugi, pakaryaning Roh Suci, boten saged dipun tliti wonten ing akal ananging saged dipunpirsani wohipun. Kados ingkang sampun kaserat wonten ing I Korintus 2: 15 “balik wong kasukman iku niti priksa samubarang kabeh, nanging awake dewe ora katiti dening liyan” – Wong sing kadunungan Rohe Gusti Allah kuwi ngerti samubarang, nanging ora ana wong sing bisa nliti marang dheweke- (Basa Padintenan).
Penggambaran:
Kados dene pasamuwan wiwitan, Rasul Petrus sak sampunipun kebak ing Roh Suci wantun martakaken Injil, lan 3000 tiyang pitados dumateng Gusti Yesus, mratobat lan kabaptis; sadaya punika awit saking pakaryan Roh Suci (LPR pasal 2). Makaten ugi jemaat ingkang katedak dening Roh Suci punika pagesanganipun terus kaenggalaken. Pramila gesangipun jemaat wiwitan kebak ing katresnan, ngantepi piwulange para rasul, mempeng ing pandonga, lan saiyeg ing pangibadah (LKP 2: 24-27).
Penegasan:
Amargi pakaryan Roh Suci ingkang endah lumantar Injil ingkang kawartakaken, sadoyo tiyang saged kaenggalaken pagesanganipun. Pramila, bilih gesang kita sampun kaenggalaken dening pakaryan Roh Suci lumantar Injil ingkang kita pirengaken, sumonggo kita ugi dados pawartos Injil kagem saderek-saderek kita ingkang dereng wanuh kaliyan gesang ingkang nuwuhaken kayekten lan karahayon (Rum 10:14-15)
Penerapan:
Gesang kita kaenggalaken awit saking pakaryan Roh Suci lumantar Injil ingkang kita tampi. Lan namung srana pakaryan Roh Suci lumantar Injil ingkang kawartaaken, gesang kita kaenggalaken wonten ing padintenan. Pramila sumangga kita tansah ngugemi Injil ingkang sampun kita tampi, lan martosaken Injil ingkang kita ugemi, awit Roh Suci nunggil kita ingkang kaenggalaken wonten ing Gusti Yesus.

Say No to Divorce !

If we pay attention to the divorce statistics in Indonesia, we may be interested in the facts. According to data from the Director General o...