Senin, 09 Maret 2015

Tanpa Jemu untuk Mencari Tuhan – Markus 3:7-12


Kebaikan yang luar biasa telah dibuat oleh Tuhan Yesus, dengan menyembuhkan orang yang mati sebelah tangannya. Terjadi pada hari Sabat, bahkan ditengah ancaman pembunuhan dari orang-orang Farisi yang tengah bersekongkol dengan orang-orang Herodian. Namun apa yang dilakukan Tuhan Yesus merupakan sebuah keberanian untuk melaksanakan misi-Nya. Memang pada dasarnya ancaman pembunuhan selalu datang menghalangi Tuhan Yesus. Akan tetapi, karena waktunya belum tiba maka rencana pembunuhan itu selalu gagal. Perhatikan, ada keunikan strategi yang dipakai oleh Tuhan Yesus untuk menyebarkan berita keselamatan dan mujizar-Nya. Pertama-tama Tuhan Yesus menyingkir bukan untuk bersantai, namun menyingkir untuk memberikan pelayanan ditempat yang aman.
Ketika Tuhan Yesus menyingkir, menjauhi kerumunan, malah banyak sekali orang-orang yang datang mencari Dia. Justru ketika banyak orang datang kepada-Nya, Ia tidak menolak mereka. Tuhan Yesus memperlakukan mereka dengan baik dan memberikan solusi atas penyakit mereka. Penyakit yang diderita oleh orang-orang tersebut ialah penyakit yang ditimpakan dengan tujuan memunculkan pertobatan pada diri si penderita. Sebagaimana disampaikan oleh Musa kepada bangsa Israel: “Jika engkau tidak melakukan dengan setia segala perkataan hukum Taurat yang tertulis dalam kitab ini, dan engkau tidak takut akan Nama yang mulia dan dahsyat ini, yakni akan TUHAN, Allahmu,  maka TUHAN akan menimpakan pukulan-pukulan yang ajaib kepadamu, dan kepada keturunanmu, yakni pukulan-pukulan yang keras lagi lama dan penyakit-penyakit yang jahat lagi lama” (Ulangan 28:58-59). Dengan kedatangan Tuhan Yesus ke dunia, misi penyelamatan sudah dimulai. Allah menjadi begitu mudah untuk dicari, mudah untuk disembah, dan diagungkan. Maka nyata bahwa pada saat itu dan sampai sekarang kebaikan Allah begitu limpahnya diterima oleh orang-orang yang sungguh-sungguh mencari Dia. Tuhan sendiri mengatakan, “Carilah Aku maka kamu akan hidup” (Amos 5:4). Perhatikan, setiap orang yang mencari Tuhan tak pernah diberikan jawaban yang sia-sia. Apa maksudnya mencari Tuhan? Ada tiga elemen yang perlu kita lakukan yakni: berdoa, memuja, dan mendengarkan sabda-Nya (Ayub 8:5; Daniel 9:3). Dimana ini dapat terlaksana? Di Gereja atau tempat yang ditunjuk untuk dapat melaksanakan ibadah (Ulangan 12:5, Mzm. 27:4).

Pertanyaannya, mengapa Tuhan Yesus melarang keras roh-roh jahat itu memberitahukan kepada banyak orang tentang siapa Dia? Perlu dipahami dari latar belakang dan kesiapan pemahaman orang Israel tentang “Mesias = Anak Allah = penyelamat”. Pada waktu itu, orang-orang Yahudi berpendapat bahwa Mesias akan menyelamatkan mereka dari penjajahan bangsa Romawi. Jadi pada waktu itu, pemahaman mereka masih bersifat politis. Sedangkan yang sebenarnya ialah, bahwa Tuhan Yesus adalah Mesias secara rohani. Penyelamat manusia dari kebinasaan kekal di neraka. Sungguh ini merupakan masalah yang sangat serius apabila disalah mengerti oleh orang-orang Yahudi pada waktu itu. Kesalahmengertian akan eksistensi Tuhan Yesus sebagai Mesias, dapat menimbulkan pemberontakan. Sebab akan banyak orang menjadikan Tuhan Yesus sebagai raja duniawi dengan kesiapan membentuk pasukan militer. Justru dengan demikian pada akhirnya dapat menggagalkan misi Tuhan Yesus sendiri. Namun terpujilah Tuhan, hal tersebut dapat dihindarkan melalui otoritas ilahi. Selain alasan menghindari kesan politis, ada penafsir juga yang menyatakan bahwa alasannya ialah untuk menghindarkan Tuhan Yesus dari dosa kesombongan. Biarlah berita keselamatan tersebut menyebar secara alamiah dan benar tanpa mengurangi berita yang sesungguhnya. Sehingga pada waktu yang tepat Tuhan Yesus dapat dikenal dan dipuja bukan karena mujizat yang dilakukan seperti nabi yang lain. Namun sebagai Allah dalam segala eksistensinya.

Rabu, 04 Maret 2015

Berketuhanan Yang Maha Esa

Dapat diketahui bersama bahwa manusia memiliki roh, jiwa, akal budi dan moralitas yang membedakan dengan ciptaan yang lainnya. Hewan dan tumbuhan tidak memiliki jiwa dan akal budi. Sehingga apa yang dilakukannya semata-mata hanya sebatas naluriah saja. Namun berbeda dengan manusia. Ia diciptakan dengan dianugerahi kelengkapan ilahi; yakni roh. Sehingga memungkinkan manusia berkomunikasi dengan Tuhan sang Pencipta. Bahkan ketika manusia meragukan Tuhan sekalipun, ia sebenarnya sudah mengakui bahwa Tuhan itu ada dan nyata. Meragukan keberadaan Tuhan Yang Esa sama halnya dengan mengakui bahwa Tuhan ada namun mencoba untuk menyangkal keberadaan-Nya. Tentu saja ini perbuatan yang sia-sia saja. Meskipun berusaha untuk membuktikan bahwa Tuhan tidak ada, disaat itu pula sebenarnya ia melihat bahwa Tuhan benar-benar ada.
Mari kita perhatikan, apa yang menyebabkan planet dan galaksi ada? Bahkan kalau diperhatikan, siapa sebenarnya yang menopang Bumi ini sehingga dapat bergerak mengelilingi Matahari tanpa ada kebakaran dan benturan antar planet? Tentu yang menyebabkan semua tertata sedemikian rupa ialah Pribadi Yang Maha Kuasa. Berkuasa lebih dari yang memiliki kekuasaan. Memiliki kekekalan, sebab Dialah sumber kekuatan yang menopang. Bukan hanya itu, berdasarkan fakta sejarah manusia. Awal mula manusia bukanlah berasal dari monyet yang berevolusi. Bukan berasal dari binatang atau amoeba. Tetapi berasal dari manusia ciptaan Tuhan. Sehebat apapun seseorang berusaha membuktikan bahwa manusia berasal dari binatang yang berevolusi, tetap tidak merubah fakta bahwa manusia dicipta oleh Tuhan dari debu tanah. Penyangkalan terhadap kebenaran ini sebenarnya semakin membuktikan bahwa semakin bodohnya orang yang menyangkal. Sebab semakin menyangkal maka akan semakin banyak spekulasi yang dibuat. Dengan demikian nyata bahwa penyangkalan terhadap keberadaan Tuhan berarti menyangkal keberadaan diri. Tanpa Tuhan berkenan menciptakan, maka manusia tidak akan ada.
Oleh karena itu, baiklah hendaknya kehidupan kita berketuhanan Yang Maha Esa. Maksudnya ialah bersedia menerima dengan hati bahwa kita diciptakan untuk menyembah dan mempercayakan diri kepada-Nya. Bahwa Ia ada sebagaimana adanya untuk memberikan hidup dan harapan yang lebih baik. Bahwa Ia adalah Tuhan yang kekal dan sempurna. Oleh karena kekekalan dan kesempurnaan-Nya itulah Ia mampu untuk menyempurnakan dan menjadikan kita indah. Semakin sempurna dalam budi pekerti, dan semakin indah dalam menjalani kehidupan di dunia maupun akhirat. Semakin kita mengakui kebesaran-Nya atas hidup kita, maka semakin besar kesediaan kita mewujudkan damai sejahtera di bumi. Dengan demikian, dasar pembangunan pertama untuk bangsa ialah menegakkan Pancasila sila ke-1; Ketuhanan Yang Maha Esa.

Pantang Menyerah dalam Melayani - Markus 3:1-6

Mari kita mencermati kehidupan para pelayan Tuhan, baik sejak Perjanjian Lama sampai sekarang ini. Apabila diperhatikan, tidak pernah tidak ditemui adanya penghambat ataupun tantangan dalam perjalanan pelayanan. Mungkin akan ada fitnah, cemoohan, bahkan ada yang selalu mencari-cari kesalahan untuk menjatuhkan. Akan tetapi sikap pantang menyerah senantiasa dimiliki oleh para pelayan Tuhan yang setia. Sehingga tidak sedikit yang akhirnya menjadi para pemenang, bahkan lebih dari seorang pemenang.
Mari kita perhatikan sebuah kisah yang ditulis oleh Markus. Dalam kisah yang ditulis ada tiga tokoh utama yang berperan menjadi pembelajaran iman. Pertama ialah seorang yang "mati sebelah tangannya". Ia adalah seorang yang membutuhkan pemulihan yang dari Tuhan. Ia tetap berangkat untuk beribadah, kelemahannya tidak menghalanginya untuk semangat menghadap Tuhan. Ia taat akan apa yang diperintahkan Tuhan Yesus, dan ia percaya kepada-Nya. Oleh karena perkenanan Tuhan Yesus dan imannya, ia disembuhkan oleh Tuhan. Tokoh kedua, ialah Tuhan Yesus. Tuhan Yesus melaksanakan apa yang menjadi misi-Nya disaat datang ke dunia sebagai manusia. Tugas utamanya ialah menyelamatkan manusia oleh karena janji-Nya. Ia benar-benar memberikan teladan sebagai seorang pemimpin berhati hamba. Hati-Nya digelisahkan oleh kedegilan orang Farisi namun berbelas kasihan kepada yang sakit. Tekad-Nya bulat, tidak dapat diubahkan oleh orang-orang yang mencari kesalahan-Nya. Misi-Nya tidak bisa digagalkan oleh siapapun, bahkan setan sekalipun tidak sanggup menggagalkan misi agung-Nya. Pelayanan-Nya dilaksanakan dengan ketulusan hati meski ada beberapa orang yang mencemooh. Selanjutnya ada sekelompok orang Farisi. Mereka mencari-cari kesalahan Tuhan Yesus untuk menjatuhkan. Bahkan lebih parah lagi, ketika Tuhan Yesus memberikan pertanyaan mereka tetap terdiam sinis. Pertanyaan yang dilontarkan Tuhan Yesus, seharusnya dapat membuka mata hati untuk menerima kebenaran. Namun, mereka tetap bersikukuh untuk menjaga agar mata hatinya tetap buta terhadap kebenaran firman.
Mungkin kita akan menemui ada banyak orang yang membutuhkan pertolongan kita. Di Sekeliling kita, tidak sedikit orang yang membutuhkan pertolongan. Namun, terkadang kita ragu untuk menolong. Kita merasa takut dipersalahkan, bahkan khawatir nama baik kita dilecehkan. Namun, marilah kita meneladani Tuhan Yesus, meskipun ada banyak orang-orang Farisi yang mencari-cari kesalahan-Nya, namun ketulusan dan tekad-Nya untuk berbuat kebaikan tetap dilaksanakan. Jangan bimbang untuk berbuat kebaikan, lakukanlah apa yang baik untuk mempermuliakan Tuhan. Sebab inilah yang menjadi kesaksian kita: yaitu bila kita menolong yang lemah, melakukan kebaikan untuk mempermuliakan Tuhan.

Sabtu, 28 Februari 2015

Mencari untuk Menemukan "Domba" yang Tersesat - Matius 18:12

"Bagaimana pendapatmu? Jika seorang mempunyai seratus ekor domba, dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan dan pergi mencari yang sesat itu? 
Matius 18:12

Sudah menjadi sebuah kebiasaan yang alamiah bagi gembala di Israel, apabila mencari domba kepunyaannya yang tersesat. Bahkan mencarinya sampai menemukannya. Secara jelas Yehezkiel menyampaikan kerinduan hati Allah kepada umat-Nya Israel. Bahwa pada dasarnya Allah mengumpamakan diri sebagai seorang gembala, dan umat israel adalah domba-domba-Nya. Yehezkiel menyampaikan, bahwa: "Dengan sesungguhnya Aku sendiri akan memperhatikan domba-domba-Ku dan akan mencarinya. Seperti seorang gembala  mencari dombanya pada waktu domba itu tercerai dari kawanan dombanya, begitulah Aku akan mencari domba-domba-Ku dan Aku akan menyelamatkan mereka dari segala tempat, ke mana mereka diserahkan pada hari berkabut dan hari kegelapan (Yeh. 34:11-12). Dengan demikian sudah menjadi kebiasaan alamiah, bila seorang gembala mencari dombanya yang tersesat. Meskipun hanya satu saja yang terhilang, seorang gembala akan tetap mencarinya sampai menemukan. Bahkan penggambaran seorang nabi Yesaya tentang hubungan Allah dengan umat-Nya, terlihat sungguh akrab. Dapat dibayangkan bila domba digembalakan dan dihimpun dengan penuh perhatian. Digambarkan seperti anak-anak domba yang dipangku-Nya dan seperti induk-induk domba yang dituntun dengan hat-hati, demikian pula keadaan umat di bawah penggembalan Allah. Betapa indahnya, dan berbahagianya penggembalaan yang dari Allah. Betapa Allah memperhatikan sampai sedetail mungkin kebutuhan pada domba-Nya. Bukan hanya makanan yang menyehatkan tetapi juga kasih sayang Allah berikan bagi umat-Nya. 
Oleh karena kesetiaan Allah terhadap firman-Nya, maka Allah sendiri yang mengambil segala resiko untuk menyelamatkan domba kepunyaan-Nya. Bahkan, pengurbanan Tuhan Yesus di atas kayu salib sungguh membuktikan akan kesetiaan-Nya dalam melindungi kawanan domba-Nya dari kebinasaan maut. Tentu, Allah bukanlah gembala yang biasa namun kenyataannya Ia adalah Gembala Agung. Kendati TUHAN adalah Gembala Agung, tetapi tugas penggembalaan didelegasikan kepada orang-orang pilihan-Nya. Sebagaimana diketahui, dalam Alkitab disebutkan ada para nabi, rasul-rasul, pengajar, penatua bahkan diaken. Semua orang yang termasuk dalam jabatan tersebut, dilantik sendiri oleh Allah. Bukan hanya dilantik, tetapi juga diperlengkapi Allah dengan karunia Roh, bahkan dituntun oleh Roh Kudus. Oleh karenanya, awal mula pengangkatan 7 orang untuk membantu tugas pelayanan para Rasul diserahkan kepada mereka yang dikenal penuh dengan Roh Kudus. Dengan demikian, tugas penggembalaan ini buklanlah inisiatif dari pribadi manusia tetapi karya Roh Allah sendiri. Oleh karena itu, para penggembala yang dilantik oleh Tuhan harus memiliki kehidupan yang erat dengan Tuhan. Kehidupan yang tenggelam dalam doa dan pemahaman Alkitab. Apabila para penggembala memiliki kualitas rohani yang demikian, tentunya firman Allah akan mengalir melalui hidupnya dan memberkati banyak orang. Bahkan Allah sendiri akan menggerakkan orang tersebut untuk mencari yang terhilang. 
Oleh karena itu, Allah tidak sembarangan melantik para pelayan Tuhan. Ada yang benar-benar dilantik dan dekat dengan Allah, namun ada pula yang hanya sekedar menjadi gembala upahan. Menjadi gembala upahan, karena dari mulanya tidak menjalin hubungan baik dengan Allah. Sehingga hatinya pun, jauh dari hati seorang gembala. Seorang gembala beberapa kali digambarkan dalam Alkitab, untuk menunjukkan tugas para hamba Tuhan. Ada pemahaman menarik yang tertulis dalam Matius 18:12. Seorang gembala akan benar-benar meninggalkan 99 ekor dombanya yang tidak tersesat, dan mencari satu saja dombanya yang terhilang. Perhatikan, hanya demi satu dombanya yang terhilang ia siap menempuh berbagai rintangan demi mendapatkan kembali seekor dombanya. Akan tetapi ini bukanlah perbuatan gegabah, ia sudah memastikan keamanan 99 ekor dombanya dan pasti akan pergi untuk menemukan dombanya yang hilang. Ia tidak menunda dengan berbagai alasan untuk mencari yang hilang. Ini adalah sebuah perbuatan dengan sifat segera dilaksanakan. Sungguh ini adalah teladan baik yang diberikan Tuhan Yesus, untuk menggambarkan keberadaan gembala-gembala yang dilantik oleh Tuhan. Baiklah dalam jemaat Tuhan dimunculkan gembala-gembala bagi kawanan domba. Yang tidak menunda untuk mencari yang terhilang, dan tidak melalaikan kawanan. Tetapi yang sungguh menyediakan hati, jiwa dan akal budi untuk dipakai Allah mencari dan menemukan yang terhilang.
           

Peranan Penting Majelis dalam Jemaat Tuhan - Kisah Para Rasul 20:28-32

Keindahan Gereja di kota lama Semarang

Dalam perjalanan gereja dari sejak berdirinya sampai saat ini, menunjukkan adanya perkembangan yang signifikan dalam pengorganisasian dan manajemennya. Sungguh sebuah tantangan baru sekaligus jalan menuju pengembangan organisasi. Tatkala muncul permasalahan di dalam jemaat karena para janda tidak terlayani dengan baik. Terjadilah sebuah peristiwa penting yakni, manajemen organisasi yang berkembang (Kis. 6:1-7). Para rasul sebagai pemimpin dalam jemaat, meminta kepada jemaat supaya mengangkat tujuh orang yang penuh dengan Roh Kudus untuk dapat menangani pelayanan kepada para janda miskin. Dengan demikian, para rasul dapat berfokus pada pelayanan firman dan doa. Ketujuh orang yang dipilih jemaat mula-mula ini adalah embrio dari jabatan sebagai penatua yang akhirnya berkembang hingga saat ini. Keberadaan penatua tentunya sangatlah penting bagi jemaat. Oleh karena itu syarat untuk menjadi penatua pun ditentukan dengan ketat (I Tim. 3:1-7; Titus 1:5-9). Tentunya dengan syarat yang tertulis dalam Alkitab, penatua diharapkan dapat menghasilkan penatua yang cakap melalui pemuridan atau penggembalaan. Jadi secara singkatnya dapat dikatakan bahwa penatua hendaknya melahirkan penatua.
Oleh karena itu dalam pesan-pesan rasul Paulus yang terakhir kepada para penatua dari Efesus ditegaskan bahwa: "Karena itu jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan, karena kamulah yang ditetapkan Roh Kudus menjadi penilik untuk menggembalakan jemaat Allah yang diperoleh-Nya dengan darah Anak-Nya sendiri" (Ay. 28). Intinya jelas, bahwa peranan penatua dikelompokkan menjadi dua. Tugas yang pertama ialah menjaga diri – integritas pribadi. Dapat dimengerti bahwa integritas pribadi ini termasuk menjaga iman, kesalehan hidup dan kasih persaudaraan sesuai firman Tuhan. Tugas yang kedua ialah menjaga seluruh kawanan – penggembalaan. Menggembalakan jemaat termasuk didalamnya menyebarluaskan dan menjaga ajaran yang sehat sesuai firman Tuhan. Karena akan banyak serangan yang muncul baik dari luar maupun dari dalam jemaat untuk mencerai-beraikan kawanan domba Allah (Ay. 29-30). Maka peranan penatua dalam jemaat haruslah dilaksanakan dengan baik, supaya jemaat terlindungi dari ajaran yang memutarbalikkan kebenaran firman Allah. Kedua tugas tersebut dapat dikatakan utama dalam gereja. Dalam hal inilah, tugas untuk menjaga kawanan domba Allah dilaksanakan bersama-sama dengan Pendeta jemaat. Disamping itu, tugas pelayanan sosial juga mengiringi tugas penggembalaan. Oleh karena itu, dalam pelaksanaannya dijalankan oleh diaken. Sebagaimana diketahui bahwa Tuhan Yesus dan para rasul senantiasa melayankan firman Tuhan dan juga memberikan pelayanan sosial. Tuhan Yesus berkata: “Kamu harus memberi mereka makan” (Mark. 6:37). Inilah para pelayan Tuhan, ada jabatan sebagai diaken, penatua, dan pendeta. Ketiga jabatan ini bukan jabatan antara karyawan dan atasan. Namun lebih kepada rekan sekerja dengan fungsi masing-masing yang saling mendukung untuk pertumbuhan gereja.

Dalam pemahaman jemaat GITJ, tentunya mengenal tiga jabatan gerejawi ini. Dalam pelaksanaannya disebut sebagai Majelis jemaat. Namun perlu dipertegas kembali bahwa dalam Majelis ada diaken, penatua, dan pendeta. Ketiganya berbeda namun sama-sama kawan sekerja Allah. Allah sendiri yang menetapkannya (Ay.28, 32; bdg. I Kor. 3:9). Dengan memahami ini, maka Majelis jemaat akan dimampukan oleh Allah untuk melaksanakan tugasnya. Tentunya dalam melaksanakan tugas, setiap Majelis membutuhkan dukungan dan doa dari jemaat. Sehingga Allah bekerja secara optimal melalui alat-Nya – Majelis Jemaat. Mari bersama kita mendukung dan mendoakan Majelis yang terpilih. Sebab dalam kemajelisan ada yang menanam, ada yang menyiram, dan ada pula yang memperhatikan dalam jemaat Tuhan.

Kamis, 26 Februari 2015

Dimerdekakan oleh Roh Kudus

Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut (Roma 8:2)

Apabila diperhatikan, ternyata ada sesuatu yang senantiasa mengancam keselamatan jiwa manusia. Ancaman tersebut adalah "hukum dosa dan maut." Keberadaannya akan selalu membayangi dan menarik orang jatuh ke dalam dosa dan kematian rohani. Itu berasal dari dosa keturunan sejak dilahirkan oleh dosa. Sebagaimana dialami oleh para keturunan Adam didunia. Adapun proses dilahirkan kembali secara rohani oleh Roh Kudus tidak menghapus masalah ini, karena prinsip ini masih beroperasi dalam alam kemanusiaan kita (kedagingan). Selain itu, - yang perlu diwaspadai - menjadi anak Allah tidak lantas membuat obat-Nya terus-menerus tersedia bagi kita.
Obat dari Tuhan untuk "hukum dosa dan maut" haruslah lebih tinggi dan berprinsip lebih kuat. Hukum itu ialah "hukum Roh kehidupan dalam Kristus Yesus." Prinsip yang lebih tinggi ini melibatkan Roh Kudus dan menjadikan Tuhan Yesus sebagai sumber kehidupan bagi setiap kita yang ada di dalam-Nya. Prinsip ini beroperasi dalam kehidupan ciptaan baru di dalam Kristus, yang tidak berjalan "menurut daging, tetapi [berjalan/hidup] menurut Roh" (Rom_8: 4). Dengan hidup menurut pimpinan Roh Kudus, semakin dapat membebaskan kita dari kecenderungan nafsu internal yang menjatuhkan setiap aspek kehidupan kita.
Bahkan (sebagaimana telah kita catat sebelumnya), ini adalah satu-satunya jalan dan harapan bagi kita untuk bertumbuh di dalam kesalehan. Bahwa hukum itu memberikan tuntunan bagi setiap kita untuk melaksanakannya (Rom. 8: 4). Hidup kitalah yang menjadi ukuran, apakah kita saleh atau tidak dihadapan Tuhan. Adapun kesalehan kita itu terwujud karena Kristus-lah yang bekerja melalui kita. Inilah kebenarannya bahwa Tuhan Yesus adalah satu-satunya pribadi yang pernah bisa hidup di dunia dengan sepenuhnya menyenangkan Bapa. Tuhan Yesus berkata, "Aku selalu melakukan hal-hal yang menyenangkan-Nya" (Yoh. 8: 29).
          Dengan demikian, untuk menerima pengalaman Kristen yang berkemenangan, kita perlu hidup sebagai mana Tuhan Yesus ada di dunia. Marilah kita hidup di dalam Kristus dan Kristus ada di dalam kita melalui karya Roh Kudus. Kita perlu hukum yang lebih tinggi ("hukum Roh: kehidupan dalam Kristus Yesus") untuk membebaskan kita dari hukum yang lebih rendah ("hukum dosa dan hukum maut").
          Sekali lagi, apa tanggung jawab kita dalam hal ini? Kita harus berhubungan dengan Tuhan dalam kerendahan hati dan iman. Dengan kerendahan hati, mengakui bahwa kita terus diserang hukum dosa dan maut namun kita diselamatkan melalui iman – inilah hukum Roh. Dan tentunya iman berkata dengan penuh keyakinan yang kudus bahwa "hukum Roh kehidupan dalam Kristus Yesus telah membuat saya bebas dari hukum dosa dan kematian."

Doa

Ya Tuhan Yesus, Dikau sendiri dapat menyediakan kehidupan saya dipanggil untuk hidup. Saya dengan rendah hati setuju dengan perkataan Dikau. Dengan senang hati saya percaya Roh Kudus-Mu ada untuk semakin membebaskan saya dari kekalahan saya melawan kedagingan saya. Saya berterimakasih kepada Dikau dengan cara Dikau yang ajaib menjawab doa ini. Tuhan Yesus, hidup di dalam dan melalui saya dengan kuasa Roh Kudus, Amin.

Bahan Pendadaran Perjamuan Kudus - 5 s/d 6 Mei 2014


Teks     : Lukas 15:11-32
Tema   : Bahagianya Menerima Pengampunan

Pendahuluan:
Dalam Alkitab Perjanjian Baru, pengertian tentang pengampunan dapat dimengerti dari kata apoluo yang artinya membebaskan (Luk. 13:12). Pertanyaannya, dibebaskan dari apakah orang yang telah diampuni? Orang yang telah diampuni, dibebaskan dari belenggu maut, hutang, maupun kutuk. Akan tetapi pemahaman ini dapat disalah mengerti oleh pribadi yang kurang merasa mendapat anugerah. Oleh karena merasa telah diampuni, maka ia bebas untuk berbuat kejahatan. Namun berbeda dengan pribadi yang merasa mendapat anugerah pengampunan. Ia merasa bahagia karena telah menerima pengampunan, dan menjalani kehidupan sesuai perintah Sang Juruselamat. Dalam Lukas 15:11-32, dapat dimengerti bersama bahwa, ada kebahagiaan tersendiri bagi anak yang mengetahui bahwa dirinya telah diampuni oleh bapanya. Bukan hanya bapanya yang berbahagia, namun juga anak yang telah berbuat kesalahan (ay. 32). Kebahagiaan yang diterima, bukanlah bersifat seremonial namun benar-benar lahir dari hati.
Transisi:
Sebagai jiwa yang merasa berdosa dihadapan Allah, pasti kita semua memiliki kerinduan untuk merasakan kebahagiaan karena telah diampuni dosanya oleh Tuhan Yesus. Pertanyaannya, apa saja syarat yang hendaknya dipenuhi agar kita dapat merasakan kebahagiaan karena diampuni Tuhan?
Alkitab mencatat ada 6 langkah, seseorang dapat merasakan kebahagiaan karena diampuni dosanya, yakni:
1.      Menyadari kesalahan (ay. 17)
2.      Percaya bahwa Tuhan Yesus bersedia mengampuni (Kis. 10:43,26:18)
3.      Mengakui kesalahan (ay. 18, Mazmur 32:5)
4.      Berani datang kepada Tuhan, karena percaya (ay. 20)
5.      Berdoa, merendahkan diri dihadapan Allah (ay. 21, II Taw. 7:14)
6.      Berkomitmen meninggalkan dosa (II Taw. 7:14)
Undangan:

Ketika kita berbuat kesalahan, Allah telah berkomitmen untuk menunggu dengan sabar pertobatan kita (2Petrus 3:9). Oleh karena itu, marilah bersama kita menguji diri apakah kita taat dan setia kepada Tuhan, ataukah sebaliknya? Apabila ada kedapatan kesalahan dalam hidup kita, marilah kita melaksanakan 6 langkah yang membawa kepada kebahagiaan. Ketika kita memiliki keyakinan akan pengampunan oleh darah Kristus, maka kita berbahagia. Sebagaimana pemazmur menyatakan dirinya berbahagian, sebab kasih karunia Allah melimpah dalam kehidupannya. Dosa yang begitu keji telah diperbuat, namun melalui pertobatan yang sungguh-sungguh Allah berkenan memberikan damai sejahtera. Betapa luar biasa kasih Allah bagi setiap orang percaya. Sebab kita diberikan kesempatan untuk menghadap ke hadirat Tuhan, untuk memohon ampunan melalui pertobatan di dalam Kristus (Ibrani 10:19-22). Dengan iman dan kerendahan hati, marilah kita bersama-sama mempersiapkan diri untuk mengikuti Perjamuan Kudus. 

Say No to Divorce !

If we pay attention to the divorce statistics in Indonesia, we may be interested in the facts. According to data from the Director General o...