Kamis, 26 Februari 2015

Pengampunan

Teks     : Matius 18:21-35


I.               Pendahuluan
Injil Matius ditulis oleh Matius murid Tuhan Yesus sekitar tahun 60-an TM. Matius sendiri lahir sebagai orang  Yahudi dan lebih dikenal sebagai “pemungut cukai”. Oleh karena panggilan dari Tuhan Yesus, maka ditinggalkannya semua keberadaan yang bersangkut paut dengan rumah cukai. Berkenaan dengan Injil yang ditulis, Matius termasuk seorang penulis Injil dan saksi yang dapat dipercaya. Sebab Matius melihat dan mengetahui peristiwa-peristiwa penting dari baptisan Yohanes sampai hari Tuhan Yesus terangkat ke sorga (Kis. 1:21-22). Secara menyeluruh, dapat diketahui bersama bahwa Injil yang ditulis oleh Matius ingin mengungkapkan serta memberitakan bahwa Tuhan Yesus Raja Mesianis. Sehingga fokus tulisannya ialah memberitakan karya dan Kerajaan sang Raja Mesianis. Hal ini dapat dicermati dari karya pelayanan, hukum dan etika Kerajaan Allah yang difirmankan oleh Tuhan Yesus. Demikian pula secara khusus pada pasal 18:1-35, dituliskan bahwa Tuhan Yesus mendidik para murid supaya rendah hati (1-5), bijaksana dalam berinteraksi dengan sesama (6-20), dan bersedia mengampuni orang yang bersalah (21-35). Apa yang difirmankan Tuhan Yesus kepada para murid ini menegaskan bahwa, warga Kerajaan Allah harus meneladani sikap sang Raja. Khususnya dalam memberikan pengampunan yang tuntas dan tanpa batas.
Akan tetapi dalam kenyataan sehari-hari, dapat ditemukan bahwa seseorang sulit sekali untuk memberikan pengampunan. Kadang ada yang hanya menahan, dan mencari waktu yang baik untuk membalas dendam. Ada pula yang hanya setengah mengampuni, mengatakan bersedia untuk mengampuni namun tidak bersedia untuk berkomunikasi sehingga hubungan menjadi jauh dari harmonis. Bahkan ada yang melampiaskan dendam bukan kepada orang yang bersalah, tetapi dengan melempar gelas atau memukul sesuatu dengan harapan dendamnya bisa reda. Namun semua usaha tersebut tentunya sia-sia. Karena tanpa menyadari akan karya Tuhan, seseorang hanya mampu menahan dendam; seperti seorang anak kecil yang menahan pipis. Di mana akhirnya selalu ada pelampiasan yang merugikan diri sendiri ataupun orang lain.
Oleh karena itu, guna memperoleh pengampunan Tuhan, untuk menghindarkan keluarga dari kehancuran. Demi menyelamatkan keutuhan jemaat dari perpecahan. Maka, diperlukan sebuah kerelaan untuk mengampuni sesama.

II.            Penjelasan
Kata mengampuni dalam ayat 21, menggunakan kata aphiēmi  yang berarti membuang, mengabaikan, meninggalkan jauh di belakang. Dengan maksud, membuang, mengabaikan dan meninggalkan dendam ataupun kegeraman yang ditimbulkan oleh kesalahan sesama terhadap kita. Bila disingkat, ialah memberikan pengampunan dengan tulus tanpa sisa. Dalam ayat 21 dijelaskan bahwa Petrus memiliki pemahaman tersendiri untuk dapat mengampuni seseorang dengan tulus hanya dalam 7 kali pengampunan. Selebihnya, orang bisa membalas kejahatan dengan perlakuan setipal. Akan tetapi Tuhan Yesus menegaskan kepada setiap orang percaya, bahwa pengampunan itu diberikan kepada sesama sebanyak 70 x 7 kali (ay.22). Dapat ditafsirkan – memberikan pengampunan tanpa batas dan tuntas.

Mengapa sebagai orang percaya harus memberikan pengampunan tanpa batas dan tuntas? Ada tiga alasan, mengapa orang percaya harus mengampuni sesama tanpa batas dan tuntas. Alasan pertama yakni:
A.    Karena kita memiliki terlalu banyak kesalahan kepada Tuhan (23-25).
Dalam penjelasan ayat 23-25, dapat dipahami bahwa “hutang” sama dengan dosa atau kesalahan. Ditulis bahwa ada seorang hamba berhutang 10000 talenta. Pada umumnya satu Talenta bernilai 60 Mina atau 6000 Dirham. 1 Dinar = 2 Dirham. 1 Dinar adalah upah pekerja 1 hari (Mat. 20:2,13). Kalau upah minimal 1 hari sekarang adalah Rp. 25.000, maka 1Talenta = Rp. 75.000.000. dengan demikian, hutang hamba itu adalah Rp. 750.000.000.000.
Betapa besarnya hutang hamba tersebut. Demikian pula kita, segala yang kita perbuat pada awalnya hanyalah seumpama kain yang tidak berguna. Sehingga kita hanya menjadi pabrik dari dosa (Yesaya 64:6, Rom. 3:23).

B.     Karena Tuhan bersedia mengampuni kita (26-27)
Akan tetapi, hamba itu selamat. Ia mendapatkan pengampunan ketika ia memohon ampun kepada sang Raja. Dengan penuh penyesalan ia datang kepada sang Raja dan memohon belaskasihan. Demikian pula Allah kita, ketika kita datang kepada-Nya dengan hati yang hancur dan penuh penyesalan, Tuhan bersedia mengampuni dan memulihkan hidup kita. Sebagaimana yang dialami Daud, dan menuliskannya dalam Mazmur 32:1-7.

C.     Karena tanpa mengampuni kita tidak diampuni Tuhan (28-35)
Dalam ayat 28-34, dijelaskan bahwa ada hukuman bagi setiap orang yang tidak bersedia mengampuni. Ia akan diserahkan kepada algojo-algojo. Demikian dapat kita mengerti bahwa, ada akibat buruk yang diterima oleh setiap orang yang menolak untuk mengampuni. Bisa berupa penderiataan secara psikologis, dapat pula berupa kehancuran hidup, bahkan sakit penyakit akibat tertekan.

III.        Kesimpulan

Karena kita adalah ciptaan Allah, dan diciptakan untuk memuliakan Allah, marilah kita bersedia untuk mengampuni sesama yang memiliki kesalahan terhadap kita. Tuhan terlebih dahulu telah mengampuni kita dengan tuntas dan tulus, marilah kita menjadi seorang kristen yang mengampuni sesama kita dengan tuntas dan tulus. Pengampun itu lebih baik daripada pendendam.

Konflik dan Penyelesaiannya (part 2)

Penyelesaian dan Akibatnya
Setelah mengetahui masalah tersebut, akhirnya majelis mengadakan kunjungan dan klarifikasi dengan Pak To. Dalam beberapa kunjungan dan klarifikasi oleh majelis, akhirnya membuat Pak To mengakui kesalahannya dan sebenarnya bersedia untuk mengembalikan uang yang dikorupsi kepada gereja. Namun, setelah ada pengakuan atas kesalahan beliau, ada beberapa anggota majelis (termasuk sekretaris umum) yang bermaksud memenjarakan beliau. Akhirnya timbullah konflik intern majelis dan meluas hingga ke jemaat. Ada kubu yang berpendapat untuk menyelesaikan masalah secara kekeluargaan, namun ada juga yang bersikeras menyelesaikan di pengadilan. Akan tetapi ada pula jemaat yang tidak peduli dengan masalah tersebut. Akhirnya, majelis sepakat untuk mengadakan rapat jemaat dan mencari jalan keluar terbaik. Akan tetapi, pengambilan keputusan dilakukan secara voting sehingga memutuskan bahwa masalah korupsi tersebut dibawa ke ranah pengadilan. Adapun pihak sinode pada waktu itu belum dapat berbuat banyak dalam penyelesaian konflik ini. Sehingga keputusan untuk menyelesaikan konflik di pengadilan tetap berjalan.
Keputusan tersebut akhirnya memaksa gereja untuk membiayai jalannya proses pengadilan sampai tuntas. Dari proses pengadilan, diputuskan bahwa Pak To harus menjalani masa tahanan dan mengembalikan dana sekitar 300 juta. Dalam keadaan demikian, akhirnya menimbulkan akibat kerugian yang tidak sedikit di pihak keluarga Pak To. Mobil dan rumah beliau terpaksa di jual. Istri beliau, serta dua anaknya yang masih berusia 10 dan 5 tahun harus meninggalkan rumah. Oleh karena Pak To masih dipenjara, maka istrinya harus pergi bekerja sebagai TKW di Arab Saudi sampai sekarang. Sedangkan Pak To, setelah bebas dari penjara merantau entah kemana tanpa ada kabar berita. Bahkan sampai ketika ayahnya meninggal dunia pada bulan Maret 2014, beliau tidak terlihat hadir dalam upacara pemakaman.

Pendapat Penulis:
Mengupayakan Penyelesaian Konflik Gereja Melalui Cara Kekeluargaan
Berdasarkan data sumber konflik yang telah dipaparkan, penulis memiliki pendapat berbeda dalam cara penyelesaian konflik. Penulis lebih memilih untuk mengupayakan penyelesaian konflik melalui cara kekeluargaan, dengan tetap menjunjung nilai-nilai kristiani. Dengan demikian menghindari penyelesaian masalah di pengadilan. Sebab bagi orang Kristen, jalan keluar atas penyelesaian masalah organisasi gerejawi ialah dengan mengedepankan kasih persaudaraan (Galatia 6:1-2; Roma 12:21).
Apabila kasih persaudaraan dipakai sebagai landasan dalam penyelesaian konflik, maka ada langkah-langkah yang hendaknya diperhatikan antara lain sebagai berikut:
1.      Sebagai antisipasi, jemaat hendaknya memilih majelis sebagai pelayan Tuhan dengan memiliki kualifikasi yang tertulis dalam Kisah Para Rasul 6:3-4 dan Titus 1:5-9. Dengan demikian, konflik dalam organisasi gerejawi dapat diminimalisir.
2.      Mengadakan rapat intern majelis (kecuali bendahara gereja), dengan berpegang pada penyelesaian secara kekeluargaan. Sehingga, apapun pendapat yang mencoba untuk membawa permasalahan ke pengadilan harus dicegah. Sebagaimana Amsal 22:10 tertulis demikian: “Usirlah si pencemooh, maka lenyaplah pertengkaran, dan akan berhentilah perbantahan dan cemooh.”
3.      Mengadakan pertemuan antara majelis dengan bendahara gereja. Adapun dalam pertemuan tersebut, majelis menyampaikan kepada bendahara gereja untuk mengembalikan uang hasil sewa yang dipakai dalam batas waktu yang disepakati dan sewajarnya. Adapun setiap pengembalian uang hasil sewa, diumumkan secara terbuka kepada jemaat oleh majelis gereja.
4.      Memberikan pamerdi kepada bendahara gereja dan mempersilakan untuk mengakui kesalahan serta memohon maaf secara terbuka dihadapan jemaat. Dengan demikian, tugas sebagai bendahara gereja di-non aktifkan.
5.      Memberikan pastoral konseling kepada Pak To, sampai akhirnya beliau mengalami pertobatan yang benar dan siap menjadi jemaat yang bertanggungjawab kepada Tuhan.
6.      Memberikan bimbingan rohani kepada jemaat gereja, istri dan anak-anak dari Pak To, sehingga jemaat serta keluarga bersedia menerima sekaligus mengampuni Pak To.

Demikianlah langkah-langkah yang penulis dapat kemukakan. Dengan berharap bahwa gereja dapat menghindari penyelesaian masalah gerejawi melalui pengadilan.

Konflik dan Penyelesaiannya (part 1)


Apabila dicermati dalam sebuah perkumpulan dari individu-individu ber-pemikiran dinamis, kadang rentan terjadi konflik. Oleh karena itu konflik dalam sebuah organisasi dapat memajukan atau bahkan memecah kesatuan dalam organisasi tersebut. Apabila konflik dapat diselesaikan, maka kemajuan organisasi dapat dicapai. Dengan demikian, upaya penyelesaian konflik hendaknya diusahakan. Berkenaan dengan topik kajian tentang konflik dan penyelesaiannya, penulis mengemukakan sebuah konflik yang menjadi kajian dan mengemukakan penyelesaiannya. Adapun dalam penulisan, penulis membagi menjadi tiga bagian yakni: Konflik, Penyelesaian dan Akibatnya, serta Pendapat Penulis.

Sumber Konflik:
Kasus Korupsi oleh Bendahara Gereja
Adapun konflik yang akan dikaji ialah, masalah kasus korupsi oleh bendahara Gereja. Kasus korupsi ini terjadi ketika penulis masih menjadi anggota jemaat gereja tersebut. Kasus ini diawali oleh seorang bendahara gereja yang kaya karena menjadi juragan beras, sebutlah Pak To. Beliau dipilih menjadi bendahara gereja karena jemaat berpendapat bahwa: Orang yang dipandang kaya, layak menjadi bendahara gereja. Pada periode pertama (selama 5 tahun), beliau menunjukkan sikap yang baik dan mudah memberi bantuan materi kepada jemaat yang membutuhkan. Oleh karena sikap dan pelayanan yang dipandang baik inilah, akhirnya beliau dipilih kembali untuk menjadi bendahara gereja dalam periode selanjutnya.
Akan tetapi, dalam periode yang baru inilah kelalaian beliau dalam hal keuangan terbongkar. Dengan kepemimpinan majelis yang lebih tegas dalam hal keuangan, kasus penyelewengan keuangan ini mulai tercium oleh anggota majelis yang lain. Kadang terjadi penggembungan dana untuk diakonia. Padahal setelah dicek di lapangan ternyata berbeda dengan laporan sesungguhnya. Semisal anggaran untuk diakonia dilaporkan sebesar tiga juta, akan tetapi ketika dicek ternyata realisasinya tidak sebesar keuangan yang dilaporkan. Setelah diselidiki, ternyata sebagian dana dipakai untuk pembelian seragam majelis. Akhirnya dari pihak majelis bersepakat bahwa masalah tersebut ditutup dengan konsekuensi meralat dan mengumumkan kembali laporan keuangan di depan jemaat.
Oleh karena tidak ada pertobatan dalam masalah keuangan tersebut, maka penyelewengan dana yang lebih besar terjadi. Masalahnya adalah berkenaan dengan sewa-menyewa aset gereja. Pak To sebagai bendahara gereja sekaligus berpengalaman di bidang sewa-menyewa sawah dan tambak, akhirnya diberi kepercayaan untuk menjadi  ketua panitia lelang sewa. Dari beberapa tanah yang disewakan, Pak To dengan sengaja mengupayakan agar beberapa tambak tidak diikutsertakan dalam lelang sewa. Upaya tersebut berhasil, kemudian secara diam-diam beliau menyewakan tambak tersebut dengan keuntungan sekitar tiga ratus juta rupiah. Diketahui dikemudian hari bahwa keuntungan tersebut dipakai untuk membeli mobil Suzuki APV dan merenovasi rumah. Kasus tersebut akhirnya diketahui oleh majelis jemaat selang lima bulan sejak terjadinya transaksi, setelah ada laporan masuk mengenai kasus tersebut dari penyewa.

Iringan Musik dalam Gereja: Musik Band ataukah Klasik?


Pembahasan yang belum ada titik temunya kadang kala menjemukan. Perdebatan yang kian meruncing, bisa jadi menimbulkan perpecahan gereja. Bahkan ada kalanya, pelayanan gereja menjadi mandeg  hanya karena ketidak selarasan pendapat dalam hal musik. Ada yang berpendapat bahwa musik band (drum, gitar bass, gitar elektrik, keyboard, singers, dll) lebih bersemangat dan mendatangkan sukacita di hati. Ada pula yang menyatakan bahwa iringan musik klasik (piano, orgel, biola, paduan suara) merupakan iringan musik yang membawa jemaat menikmati keteduhan bersama Tuhan. Apabila ditanya, saya lebih memilih iringan musik yang kedua. Mengapa demikian? Alasan saya sederhana saja. Sebab dalam ibadah memerlukan suasana yang teduh, khidmat dan teratur. Oleh karenanya saya lebih suka iringam musik klasik dalam gereja. Apabila demikian, bagaimana dengan iringan musik band? Apakah musik tersebut tidak cocok untuk dipakai dalam ibadah gerejawi?. Tentu ada yang berpendapat bahwa iringan musik band lebih cocok untuk mengiringi dalam sebuah ibadah. Namun dapat diketahui bersama, bahwa dalam menggunakan musik band sebagai pengiring ibadah akan memerlukan kerja keras untuk mewujudkan suasana teduh, khidmat dan teratur.
Namun demikian, bukan berarti musik band itu tidak bisa dipakai untuk memuji Tuhan. Sebenarnya bisa, asalkan tetap memegang kaidah-kaidah dalam mengiringi pujian gerejawi. Sebagai contoh, menghindari iringan aliran rock. Tentu alasannya sangat jelas, musik rock tidak akan pernah membuat perasaan kita tenang ataupun teduh. Justru sebaliknya, adrenalin kita dipacu dan jantung akan berdetak dengan cepat. Memang bagi sebagian orang, musik rock akan memberikan semangat pada dirinya untuk tetap terjaga. Secara pribadi, saya tidak anti mendengarkan musik rock. Sebagaimana bila dalam perjalanan jauh, saya membutuhkan pemicu adrenalin saya agar tetap semangat. Maka salah satu caranya, saya perdengarkan musik rock. Tentu tidak sembarang musik rock. Sebab ada band musik rock yang tidak jelas syairnya dan cara bermain musik yang hanya seperti luapan amarah. Kalau musik Indonesia, saya suka beberapa lagu God Bless dan Gong 2000. Tidak semuanya saya suka, hanya beberapa. Mengapa? Karena tidak semua lagu memiliki ritme dan aransemen yang memacu semangat. Kemudian, bagaimana keterkaitan dengan ibadah? Tentu saja dalam ibadah, kita tidak sedang meluapkan amarah, ataupun meneriaki Tuhan (awit Gusti mboten sare). Namun sebaliknya, kita sedang menyembah Tuhan dan bersuka di hadapan Tuhan. Oleh karenanya, musik band bisa dipakai mengiringi ibadah asalkan menghindari aliran rock; yang hanya mencari semangat sampai terkadang melupakan penyembahan dan kesukaan yang kudus dihadapan Tuhan. Kalau hanya untuk menambah semangat musik rock bisa menjadi alternatif, namun bila ingin menemukan kesegaran dan pemulihan jiwa; keteduhan musik klasik dapat memberikannya.
Selanjutnya bagaimana dengan aliran dangdut? Sebenarnya tidak ada masalah dengan musik dangdut. Akan tetapi prinsipnya sama, ketika musik dangdut menjamin tidak akan membuat orang bergoyang dengan begitu seksi dan menggairahkan dalam ibadah, maka sah-sah saja. Tetapi kenyataannya, ketika musik dangdut diperdengarkan maka keinginan bergoyang pun akan muncul. Adapula musik dangdut yang tidak menstimulasi orang untuk bergoyang, namun iransemennya menyayat hati. Tetap saja, iringan musik dangdut tidak pas jika dipakai dalam ibadah. Tentu dapat dimengerti bersama bahwa dalam ibadah, kita tidak sedang menstimulasi hawa nafsu duniawi kita. Dalam ibadah itupun tidak sedang mempertontonkan keseronokan tubuh melalui goyang pinggul. Maka, alangkah baiknya bila hasrat yang kudus itu memenuhi hati ketika beribadah kepada Tuhan. Dengan demikian, esensinya jelas.
Akhirnya kita perlu sebuah iringan musik yang mengkondisikan suasana ibadah kudus dihadapan Tuhan. Tentunya bukan aliran musik rock, bukan juga musik dangdut ataupun musik lainnya yang mengurangi kekudusan. Dengan menggunakan musik klasik dalam ibadah, tentu semua gairah yang tidak kudus serta amarah dapat dikendalikan. Nasihatnya sederhana saja, pakailah musik yang mengkondisikan jemaat untuk menyembah kepada Tuhan. Bukan untuk meluapkan amarah, kesombongan, ataupun keseronokan hawa nafsu, tetapi penyembahan yang kudus dihadapan Tuhan.


Menghormati Hadirat Allah - I Korintus 11:17-32

Pendahuluan
Mengikuti sakramen Perjamuan Kudus, sebenarnya menjadikan seseorang menerima berkat Allah. Akan tetapi, terkadang apa yang terjadi bukanlah demikian. Sebagaimana yang terjadi pada jemaat di Korintus. Permasalahannya ialah, jemaat pada waktu itu tidak lagi menghormati hadirat Allah dalam Perjamuan Kudus (ay. 17, 21). Sehingga mendatangkan kesusahan dalam hidup mereka sendiri (ay. 30). Oleh karena itu, sikap menghormati hadirat Allah dalam perjamuan Kudus adalah penting. Sebab dengan sikap demikian, Allah berkenan melimpahkan berkat-Nya bagi setiap orang percaya.

        Apabila demikian, apa yang dapat kita lakukan? Supaya diri kita kedapatan menghormati hadirat Allah dalam mengikuti sakramen Perjamuan Kudus? Yang pertama ialah:

1.           Mengingat akan Pengurbanan Kristus (ay.25)
Dengan mengingat pengurbanan Kristus di kayu salib, kita dituntun untuk mengerti siapa sejatinya diri kita. Pada hakekatnya kita adalah umat yang ditebus oleh Tuhan melalui pengurbanan Kristus. Tanpa pengurbanan Kristus, mustahil kita dapat diselamatkan. Dengan pengurbanan Kristus, kita dapat diangkat menjadi anak-anak Allah. Sehingga segala janji berkat dalam Kristus, dilimpahkan bagi setiap kita yang mengasihi-Nya (Rom. 8:17). Perlu diingat bahwa dalam Perjamuan Kudus, berita tentang penebusan oleh Kristus senantiasa diwartakan. Berita tentang penebusan oleh Kristus mengingatkan akan keselamatan yang tercurah bagi kita. Berita tentang keselamatan yang telah dilimpahkan kepada kita, bukanlah berita biasa namun luar biasa penting. Dengan mengingat akan pengurbanan Kristus bagi kita, maka tidak ada alasan lagi untuk tidak menghormati hadirat Allah dalam Perjamuan Kudus. Seorang anak senantiasa bersikap hormat kepada orang tuanya. Dikarenakan, anak ini mengingat akan usaha keras orang tuanya demi mencukupi kebutuhan keluarga. Demikian juga kita akan bersikap khidmat dan menyadari kehadiran Allah, dalam mengikuti sakramen Perjamuan Kudus. Karena kita senantiasa mengingat, bahwa kita ini adalah umat Allah yang sudah ditebus dengan darah Kristus Yesus.

       Selain mengingat akan pengurbanan Kristus, apa yang harus kita lakukan supaya kedapatan menghormati hadirat Allah dalam mengikuti sakramen Perjamuan Kudus? Selanjutnya ialah:


2.           Menguji Diri (ay. 28)
        Kata ‘menguji’ pada ayat 28, menggunakan kata dokimazo yang berarti: menguji, memeriksa, membuktikan, meneliti dengan cermat (untuk melihat apakah suatu hal itu asli atau tidak). Pengertian kata ‘menguji’ pada ayat 28, juga memiliki hubungan dengan II Korintus 13:5, demikian: “Ujilah diri Saudara. Apakah Saudara benar-benar orang Kristen? Apakah Saudara lulus dalam ujian itu? Apakah Saudara makin lama makin merasakan kehadiran dan kuasa Kristus di dalam Saudara? Atau apakah Saudara hanya berpura-pura saja menjadi orang Kristen, padahal sebenarnya Allah sudah menolak Saudara?”(Terj. Alkitab Firman Allah Yang Hidup). Dengan memperhatikan kedua ayat tersebut, maka dapat dipahami bersama bahwa “menguji diri” berarti memeriksa kemurnian iman dalam diri prbadi. Apakah iman kita murni dihadapan Allah? Apakah kita masih mempercayakan diri kepada Tuhan Yesus? Ataukah kita sudah menyangkal Tuhan Yesus melalui perbuatan kita?
Perlu diingat, setiap orang yang percaya dengan sungguh-sungguh mengakui bahwa Allah hadir dalam sakramen Perjamuan Kudus. Pemahaman demikian bukanlah hal mistis, tetapi merupakan  keyakinan iman bahwa Allah berkenan hadir dalam ibadah yang kudus.
        Ada seseorang yang mengadakan syukuran. Dia telah mengundang banyak tamu untuk hadir dalam acara yang dibuatnya. Untuk menghormati tamu yang diundang, dia pasti mempersiapkan diri (mandi, memakai pakaian yang santun) dan memeriksa semuanya sebelum acara dimulai. Demikian juga kita dalam menghormati kehadiran Allah di sakramen Perjamuan Kudus. Kita pasti mempersiapkan diri sebaik mungkin dengan memeriksa  kehidupan diri dan memperbaiki kekurangannya. Dengan demikian, marilah kita bersama-sama menguji diri kita. Apakah perbuatan dan hidup kita menunjukkan bahwa kita adalah orang percaya? Apabila perbuatan sehari-hari kita sudah menunjukkan adanya kasih, marilah kita bersyukur. Apabila belum, marilah kita menghadap Tuhan dan memohon pengampunan-Nya. Apabila kita masih berseteru dengan sesama kita, marilah kita berdamai dan memohon pengampunan Tuhan. Hendaklah kita menguji diri kita.

Undangan:

Mengikuti Perjamuan Kudus bukanlah sekedar makan roti dan minum anggur lambang daging dan darah Kristus. Oleh karena itu, marilah bersama-sama kita mengikuti Perjamuan Kudus dengan sikap hati yang menghormati hadirat Allah. Dengan cara mengingat akan pengurbanan Kristus dan juga menguji diri. 

Makna Paskah bagi Orang Percaya



Setiap Negara memiliki upacara untuk memperingati sebuah peristiwa penting yang terjadi di Negara tersebut. Semua warga diwajibkan untuk mengikuti upacara, supaya warga negaranya tidak lupa akan arti penting yang terkandung dalam upacara tersebut. Misalnya, upacara 17 Agustus di Indonesia; yang merupakan tonggak sejarah kemerdekaan Republik Indonesia. Demikian pula halnya dengan paskah yang diperingati setiap tahunnya. Setiap kita sebagai orang percaya mengadakan ibadah khusus untuk memperingati paskah. Namun, arti penting dalam paskah tidak boleh dilupakan oleh setiap orang percaya, karena dari situlah tonggak sejarah kemerdekaan setiap orang percaya dari perbudakan maut.
Namun, peristiwa paskah pertama kali terjadi pada zaman Perjanjian Lama. Di mana arti dari paskah tersebut berbeda dengan apa yang ada dalam Perjanjian Baru, namun memiliki konsep yang sama. Pembeda antara arti PL dan PB hanyalah bahwa peristiwa paskah dalam PL merupakan bayangan atau perlambang dari apa yang terjadi pada paskah dalam PB. Sebagaimana setiap lambang dalam upacara memiliki arti penting bagi setiap individu yang mengikuti, demikian juga paskah dalam PL. Upacara paskah dalam PL menjadi lambang paskah dalam PB yang memiliki arti penting bagi setiap orang percaya. Salah satu bagian Alkitab yang menceritakan tentang paskah pertama kali adalah kitab Keluaran.
Kitab Keluaran ditulis oleh Musa; seorang Ibrani yang dipakai Allah untuk memimpin bangsa Israel keluar dari tanah Mesir, dan ditulis sekitar tahun 1445 – 1405 SM. Sedangkan kata ‘keluaran’ sendiri diambil dari kata Yunani exodus (Judul dari Septuaginta; Perjanjian Lama dalam bahasa Yunani) yang artinya ‘keluaran’ atau “keberangkatan.” Dalam kitab Keluaran diceritakan tentang karya Allah untuk memberikan pembebasan bangsa Israel secara luar biasa dari penghambaan di Mesir, dan keberangkatan bangsa Israel untuk menjadi bangsa pilihan Allah. Secara khusus ditandai dengan adanya paskah yang ditulis dalam pasal 12:1 – 13:16.
Mencermati kitab Keluaran 12:1-28, kita dapat menemukan beberapa perlambang yang memiliki makna penting dalam kehidupan kekristenan kita. Perlambang tersebut antara lain:
1.      Allah Mengeluarkan Bangsa Israel Dari Tanah Mesir
Allah membawa keluar bangsa Israel dari tanah perbudakan di Mesir bukan karena layak atau kebaikan mereka, melainkan kasih karunia Allah sendiri berdasarkan janji-Nya (Ulangan 7:7-10). Demikian pula dengan kehidupan kekal di Sorga diberikan oleh Allah melalui penebusan Yesus Kristus atas dasar kasih karunia (Efesus 2:8-10; Titus 3:4-5).
      2.      Darah Dipercikkan Pada Tiang Pintu dan Ambang Atasnya (Kel. 12:13,23,27)
Darah yang dipercikkan pada setiap tiang dan ambang di atasnya dimaksudkan untuk menyelamatkan anak sulung dalam keluarga bangsa Israel dari kematian. Darah tersebut melambangkan darah Kristus yang tercurah saat disalib, dengan tujuan utama menyelamatkan orang percaya dari maut akibat murka Allah terhadap dosa (Ibrani 9:22).
     3.      Anak domba Paskah adalah sebuah kurban (Kel. 12:27)
Anak domba paskah adalah sebuah kurban yang berfungsi sebagai pengganti anak sulung. Hal ini melambangkan kematian Kristus Yesus sebagai ganti orang yang percaya. Rasul Paulus secara tegas menuliskan bahwa Kristus anak domba Paskah yang dikurbankan demi setiap orang percaya (I Kor. 5:7)
     4.      Anak domba jantan tanpa cacat (Kel. 12:5)
Anak domba jantan yang disembelih haruslah tanpa cacat, anak domba itu melambangkan Kristus sebagai Anak Domba Allah yang tanpa dosa, kudus dan sempurna (Yoh. 8:46; Ibr. 4:15).
     5.      Makan daging anak domba Paskah
Makan daging anak domba Paskah itu melambangkan pemannunggalan orang-orang Israel dengan kematian anak domba paskah, yakni kematian anak domba yang menyelamatkan mereka dari kematian jasmaniah. Dalam kehidupan Perjanjian Baru, hal tersebut melambangkan keikutsertaan orang percaya dalam Perjamuan Kudus. Di mana Perjamuan Kudus melambangkan keikutsertaan orang percaya dalam kematian Kristus, sehingga terselamatkan dari kematian rohani (I Kor. 10:16-17;11; 24-26). Sebagaimana halnya dengan Paskah dilaksanakan sebagai peristiwa penting yang kemudian diperingati. Demikian juga dalam Perjamuan Kudus; diadakan sebagai suatu peringatan akan kematian Kristus untuk menebus orang percaya (I Kor. 11:24).
     6.      Melakukan Paskah dengan iman dan taat (Kel. 12:28)
Pemercikan darah pada tiang pintu dan ambang di atasnya harus dilaksanakan dengan iman dan taat. Hal ini melambangkan bahwa keselamatan melalui darah Kristus didapat hanya melalui ketaatan yang sebabkan oleh iman. (Rm.1:5; 16:26).
      7.      Makan roti tidak beragi (Kel. 12:8)
Adanya roti tidak beragi yang dimakan bersamaan dengan daging darah Anak Domba Paskah melambangkan pemisahan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir, yakni dari keduniawian dan dosa. Hal tersebut didasarkan pada Alkitab yang melambangkan ragi sebagai dosa atau kecemaran (Mat. 16:6; Mrk. 8:15)

Demikianlah beberapa perlambang yang dapat kita dapati dari peristiwa Paskah. Di mana Paskah sendiri memiliki arti penting bagi iman orang percaya. Dapat diketahui bersama bahwa tanpa kelahiran Kristus, maka harapan akan datangnya Juruselamat tak tergenapi. Demikian juga bila tanpa kematian Kristus, maka tidak satupun manusia selamat. Selain itu, tanpa kebangkitan Kristus, maka pemberitaan Injil menjadi sia-sia. Olehkarenanya, betapa pentingnya makna Paskah bagi setiap orang percaya, karena dari situlah sumber kehidupan rohani orang percaya.

Persembahan Terbaik Bagi Tuhan 2 Tawarikh 5:6


Raja Salomo mendapatkan anugerah dari Tuhan yang begitu luar biasa. Anugerah itu berupa kebijaksanaan dan pengertian sebagai pemimpin atas bangsa Israel. Namun tak hanya itu, Tuhan Allah juga memberikan kekayaan, harta benda dan kemuliaan yang melebihi raja-raja sebelum ataupun sesudah raja Salomo (2 Taw 1:11-12). Sebuah anugerah yang begitu besar telah diterima raja Salomo, namun ia selalu ingat bahwa anugerah yang dierikan Tuhan kepadanya memiliki tujuan. Tujuan utamanya ialah menggenapi perjanjian antara Daud dengan Allah untuk membangun bait suci. Dengan alasan bahwa Daud- ayahnya, dipandang tidak layak untuk membangun bait Allah yang suci.
Oleh karena kebaikan yang dirasakan oleh Salomo, ia bukan hanya membangun bait suci, tetapi juga mempersembahkan harta miliknya yang tidak terhitung jumlahnya dan tak terbilang banyaknya (ay. 6). Perlu diperhatikan bahwa raja Salomo mempersembahkan harta miliknya kepada Tuhan bukan karena kesombongannya namun karena ketulusannya. Ini adalah bukti imannya kepada Tuhan. Bahkan dapat diketahui sebuah kisah yang mengharukan yang ditulis oleh Markus. Dalam sejarahnya ditulis bahwa, ada seorang perempuan yang oleh imannya kepada Tuhan Yesus, maka ia berkeinginan untuk menyatakan kasihnya. Dengan tidak segan-segan ia mengurapi kepala Tuhan Yesus dengan minyak narwastu. Sebuah persembahan yang terbaik. Sebab dapat diketahui bahwa harga dari minyak narwastu tersebut 300 Dinar lebih. Saat itu, upah sehari adalah 1 dinar. Betapa luar biasanya persembahan itu (Markus 10:3-9). Demikian pula yang terjadi pada raja Salomo pada waktu itu, karena imannya yang begitu sungguh-sungguh kepada Tuhan, maka ia mempersembahkan yang terbaik kepada Tuhan. Oleh karenanya, Allah sungguh berkenan atas persembahan tersebut sebab disertai dengan ketulusan dan iman kepada Tuhan. (2Taw 7:12, bdg 2Kor.9:6-7).
Dengan demikian, hendaklah kita sebagai umat Tuhan mempersembahkan yang terbaik dari apa yang dimiliki bagi Tuhan. Tentunya disertai dengan ketulusan atas dasar iman kepada Tuhan. Sebab dengan demikian Tuhan berkenan dan akan memberkati persembahan bagi umat-Nya. Sebagaimana Tuhan telah menyatakan janji-Nya demikian: “Hormatilah TUHAN dengan mempersembahkan kepada-Nya yang terbaik dari segala harta milik dan hasil tanahmu, maka lumbung-lumbungmu akan penuh gandum, dan air anggurmu akan berlimpah-limpah sehingga tidak cukup tempat untuk menyimpannya.” (Amsal 3:9-10). Berbahagialah kita yang mempersembahkan segala sesuatu terbaik bagi Tuhan.


Setyawan Adi Nugroho

Say No to Divorce !

If we pay attention to the divorce statistics in Indonesia, we may be interested in the facts. According to data from the Director General o...