Kamis, 26 Februari 2015

Menghormati Hadirat Allah - I Korintus 11:17-32

Pendahuluan
Mengikuti sakramen Perjamuan Kudus, sebenarnya menjadikan seseorang menerima berkat Allah. Akan tetapi, terkadang apa yang terjadi bukanlah demikian. Sebagaimana yang terjadi pada jemaat di Korintus. Permasalahannya ialah, jemaat pada waktu itu tidak lagi menghormati hadirat Allah dalam Perjamuan Kudus (ay. 17, 21). Sehingga mendatangkan kesusahan dalam hidup mereka sendiri (ay. 30). Oleh karena itu, sikap menghormati hadirat Allah dalam perjamuan Kudus adalah penting. Sebab dengan sikap demikian, Allah berkenan melimpahkan berkat-Nya bagi setiap orang percaya.

        Apabila demikian, apa yang dapat kita lakukan? Supaya diri kita kedapatan menghormati hadirat Allah dalam mengikuti sakramen Perjamuan Kudus? Yang pertama ialah:

1.           Mengingat akan Pengurbanan Kristus (ay.25)
Dengan mengingat pengurbanan Kristus di kayu salib, kita dituntun untuk mengerti siapa sejatinya diri kita. Pada hakekatnya kita adalah umat yang ditebus oleh Tuhan melalui pengurbanan Kristus. Tanpa pengurbanan Kristus, mustahil kita dapat diselamatkan. Dengan pengurbanan Kristus, kita dapat diangkat menjadi anak-anak Allah. Sehingga segala janji berkat dalam Kristus, dilimpahkan bagi setiap kita yang mengasihi-Nya (Rom. 8:17). Perlu diingat bahwa dalam Perjamuan Kudus, berita tentang penebusan oleh Kristus senantiasa diwartakan. Berita tentang penebusan oleh Kristus mengingatkan akan keselamatan yang tercurah bagi kita. Berita tentang keselamatan yang telah dilimpahkan kepada kita, bukanlah berita biasa namun luar biasa penting. Dengan mengingat akan pengurbanan Kristus bagi kita, maka tidak ada alasan lagi untuk tidak menghormati hadirat Allah dalam Perjamuan Kudus. Seorang anak senantiasa bersikap hormat kepada orang tuanya. Dikarenakan, anak ini mengingat akan usaha keras orang tuanya demi mencukupi kebutuhan keluarga. Demikian juga kita akan bersikap khidmat dan menyadari kehadiran Allah, dalam mengikuti sakramen Perjamuan Kudus. Karena kita senantiasa mengingat, bahwa kita ini adalah umat Allah yang sudah ditebus dengan darah Kristus Yesus.

       Selain mengingat akan pengurbanan Kristus, apa yang harus kita lakukan supaya kedapatan menghormati hadirat Allah dalam mengikuti sakramen Perjamuan Kudus? Selanjutnya ialah:


2.           Menguji Diri (ay. 28)
        Kata ‘menguji’ pada ayat 28, menggunakan kata dokimazo yang berarti: menguji, memeriksa, membuktikan, meneliti dengan cermat (untuk melihat apakah suatu hal itu asli atau tidak). Pengertian kata ‘menguji’ pada ayat 28, juga memiliki hubungan dengan II Korintus 13:5, demikian: “Ujilah diri Saudara. Apakah Saudara benar-benar orang Kristen? Apakah Saudara lulus dalam ujian itu? Apakah Saudara makin lama makin merasakan kehadiran dan kuasa Kristus di dalam Saudara? Atau apakah Saudara hanya berpura-pura saja menjadi orang Kristen, padahal sebenarnya Allah sudah menolak Saudara?”(Terj. Alkitab Firman Allah Yang Hidup). Dengan memperhatikan kedua ayat tersebut, maka dapat dipahami bersama bahwa “menguji diri” berarti memeriksa kemurnian iman dalam diri prbadi. Apakah iman kita murni dihadapan Allah? Apakah kita masih mempercayakan diri kepada Tuhan Yesus? Ataukah kita sudah menyangkal Tuhan Yesus melalui perbuatan kita?
Perlu diingat, setiap orang yang percaya dengan sungguh-sungguh mengakui bahwa Allah hadir dalam sakramen Perjamuan Kudus. Pemahaman demikian bukanlah hal mistis, tetapi merupakan  keyakinan iman bahwa Allah berkenan hadir dalam ibadah yang kudus.
        Ada seseorang yang mengadakan syukuran. Dia telah mengundang banyak tamu untuk hadir dalam acara yang dibuatnya. Untuk menghormati tamu yang diundang, dia pasti mempersiapkan diri (mandi, memakai pakaian yang santun) dan memeriksa semuanya sebelum acara dimulai. Demikian juga kita dalam menghormati kehadiran Allah di sakramen Perjamuan Kudus. Kita pasti mempersiapkan diri sebaik mungkin dengan memeriksa  kehidupan diri dan memperbaiki kekurangannya. Dengan demikian, marilah kita bersama-sama menguji diri kita. Apakah perbuatan dan hidup kita menunjukkan bahwa kita adalah orang percaya? Apabila perbuatan sehari-hari kita sudah menunjukkan adanya kasih, marilah kita bersyukur. Apabila belum, marilah kita menghadap Tuhan dan memohon pengampunan-Nya. Apabila kita masih berseteru dengan sesama kita, marilah kita berdamai dan memohon pengampunan Tuhan. Hendaklah kita menguji diri kita.

Undangan:

Mengikuti Perjamuan Kudus bukanlah sekedar makan roti dan minum anggur lambang daging dan darah Kristus. Oleh karena itu, marilah bersama-sama kita mengikuti Perjamuan Kudus dengan sikap hati yang menghormati hadirat Allah. Dengan cara mengingat akan pengurbanan Kristus dan juga menguji diri. 

Makna Paskah bagi Orang Percaya



Setiap Negara memiliki upacara untuk memperingati sebuah peristiwa penting yang terjadi di Negara tersebut. Semua warga diwajibkan untuk mengikuti upacara, supaya warga negaranya tidak lupa akan arti penting yang terkandung dalam upacara tersebut. Misalnya, upacara 17 Agustus di Indonesia; yang merupakan tonggak sejarah kemerdekaan Republik Indonesia. Demikian pula halnya dengan paskah yang diperingati setiap tahunnya. Setiap kita sebagai orang percaya mengadakan ibadah khusus untuk memperingati paskah. Namun, arti penting dalam paskah tidak boleh dilupakan oleh setiap orang percaya, karena dari situlah tonggak sejarah kemerdekaan setiap orang percaya dari perbudakan maut.
Namun, peristiwa paskah pertama kali terjadi pada zaman Perjanjian Lama. Di mana arti dari paskah tersebut berbeda dengan apa yang ada dalam Perjanjian Baru, namun memiliki konsep yang sama. Pembeda antara arti PL dan PB hanyalah bahwa peristiwa paskah dalam PL merupakan bayangan atau perlambang dari apa yang terjadi pada paskah dalam PB. Sebagaimana setiap lambang dalam upacara memiliki arti penting bagi setiap individu yang mengikuti, demikian juga paskah dalam PL. Upacara paskah dalam PL menjadi lambang paskah dalam PB yang memiliki arti penting bagi setiap orang percaya. Salah satu bagian Alkitab yang menceritakan tentang paskah pertama kali adalah kitab Keluaran.
Kitab Keluaran ditulis oleh Musa; seorang Ibrani yang dipakai Allah untuk memimpin bangsa Israel keluar dari tanah Mesir, dan ditulis sekitar tahun 1445 – 1405 SM. Sedangkan kata ‘keluaran’ sendiri diambil dari kata Yunani exodus (Judul dari Septuaginta; Perjanjian Lama dalam bahasa Yunani) yang artinya ‘keluaran’ atau “keberangkatan.” Dalam kitab Keluaran diceritakan tentang karya Allah untuk memberikan pembebasan bangsa Israel secara luar biasa dari penghambaan di Mesir, dan keberangkatan bangsa Israel untuk menjadi bangsa pilihan Allah. Secara khusus ditandai dengan adanya paskah yang ditulis dalam pasal 12:1 – 13:16.
Mencermati kitab Keluaran 12:1-28, kita dapat menemukan beberapa perlambang yang memiliki makna penting dalam kehidupan kekristenan kita. Perlambang tersebut antara lain:
1.      Allah Mengeluarkan Bangsa Israel Dari Tanah Mesir
Allah membawa keluar bangsa Israel dari tanah perbudakan di Mesir bukan karena layak atau kebaikan mereka, melainkan kasih karunia Allah sendiri berdasarkan janji-Nya (Ulangan 7:7-10). Demikian pula dengan kehidupan kekal di Sorga diberikan oleh Allah melalui penebusan Yesus Kristus atas dasar kasih karunia (Efesus 2:8-10; Titus 3:4-5).
      2.      Darah Dipercikkan Pada Tiang Pintu dan Ambang Atasnya (Kel. 12:13,23,27)
Darah yang dipercikkan pada setiap tiang dan ambang di atasnya dimaksudkan untuk menyelamatkan anak sulung dalam keluarga bangsa Israel dari kematian. Darah tersebut melambangkan darah Kristus yang tercurah saat disalib, dengan tujuan utama menyelamatkan orang percaya dari maut akibat murka Allah terhadap dosa (Ibrani 9:22).
     3.      Anak domba Paskah adalah sebuah kurban (Kel. 12:27)
Anak domba paskah adalah sebuah kurban yang berfungsi sebagai pengganti anak sulung. Hal ini melambangkan kematian Kristus Yesus sebagai ganti orang yang percaya. Rasul Paulus secara tegas menuliskan bahwa Kristus anak domba Paskah yang dikurbankan demi setiap orang percaya (I Kor. 5:7)
     4.      Anak domba jantan tanpa cacat (Kel. 12:5)
Anak domba jantan yang disembelih haruslah tanpa cacat, anak domba itu melambangkan Kristus sebagai Anak Domba Allah yang tanpa dosa, kudus dan sempurna (Yoh. 8:46; Ibr. 4:15).
     5.      Makan daging anak domba Paskah
Makan daging anak domba Paskah itu melambangkan pemannunggalan orang-orang Israel dengan kematian anak domba paskah, yakni kematian anak domba yang menyelamatkan mereka dari kematian jasmaniah. Dalam kehidupan Perjanjian Baru, hal tersebut melambangkan keikutsertaan orang percaya dalam Perjamuan Kudus. Di mana Perjamuan Kudus melambangkan keikutsertaan orang percaya dalam kematian Kristus, sehingga terselamatkan dari kematian rohani (I Kor. 10:16-17;11; 24-26). Sebagaimana halnya dengan Paskah dilaksanakan sebagai peristiwa penting yang kemudian diperingati. Demikian juga dalam Perjamuan Kudus; diadakan sebagai suatu peringatan akan kematian Kristus untuk menebus orang percaya (I Kor. 11:24).
     6.      Melakukan Paskah dengan iman dan taat (Kel. 12:28)
Pemercikan darah pada tiang pintu dan ambang di atasnya harus dilaksanakan dengan iman dan taat. Hal ini melambangkan bahwa keselamatan melalui darah Kristus didapat hanya melalui ketaatan yang sebabkan oleh iman. (Rm.1:5; 16:26).
      7.      Makan roti tidak beragi (Kel. 12:8)
Adanya roti tidak beragi yang dimakan bersamaan dengan daging darah Anak Domba Paskah melambangkan pemisahan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir, yakni dari keduniawian dan dosa. Hal tersebut didasarkan pada Alkitab yang melambangkan ragi sebagai dosa atau kecemaran (Mat. 16:6; Mrk. 8:15)

Demikianlah beberapa perlambang yang dapat kita dapati dari peristiwa Paskah. Di mana Paskah sendiri memiliki arti penting bagi iman orang percaya. Dapat diketahui bersama bahwa tanpa kelahiran Kristus, maka harapan akan datangnya Juruselamat tak tergenapi. Demikian juga bila tanpa kematian Kristus, maka tidak satupun manusia selamat. Selain itu, tanpa kebangkitan Kristus, maka pemberitaan Injil menjadi sia-sia. Olehkarenanya, betapa pentingnya makna Paskah bagi setiap orang percaya, karena dari situlah sumber kehidupan rohani orang percaya.

Persembahan Terbaik Bagi Tuhan 2 Tawarikh 5:6


Raja Salomo mendapatkan anugerah dari Tuhan yang begitu luar biasa. Anugerah itu berupa kebijaksanaan dan pengertian sebagai pemimpin atas bangsa Israel. Namun tak hanya itu, Tuhan Allah juga memberikan kekayaan, harta benda dan kemuliaan yang melebihi raja-raja sebelum ataupun sesudah raja Salomo (2 Taw 1:11-12). Sebuah anugerah yang begitu besar telah diterima raja Salomo, namun ia selalu ingat bahwa anugerah yang dierikan Tuhan kepadanya memiliki tujuan. Tujuan utamanya ialah menggenapi perjanjian antara Daud dengan Allah untuk membangun bait suci. Dengan alasan bahwa Daud- ayahnya, dipandang tidak layak untuk membangun bait Allah yang suci.
Oleh karena kebaikan yang dirasakan oleh Salomo, ia bukan hanya membangun bait suci, tetapi juga mempersembahkan harta miliknya yang tidak terhitung jumlahnya dan tak terbilang banyaknya (ay. 6). Perlu diperhatikan bahwa raja Salomo mempersembahkan harta miliknya kepada Tuhan bukan karena kesombongannya namun karena ketulusannya. Ini adalah bukti imannya kepada Tuhan. Bahkan dapat diketahui sebuah kisah yang mengharukan yang ditulis oleh Markus. Dalam sejarahnya ditulis bahwa, ada seorang perempuan yang oleh imannya kepada Tuhan Yesus, maka ia berkeinginan untuk menyatakan kasihnya. Dengan tidak segan-segan ia mengurapi kepala Tuhan Yesus dengan minyak narwastu. Sebuah persembahan yang terbaik. Sebab dapat diketahui bahwa harga dari minyak narwastu tersebut 300 Dinar lebih. Saat itu, upah sehari adalah 1 dinar. Betapa luar biasanya persembahan itu (Markus 10:3-9). Demikian pula yang terjadi pada raja Salomo pada waktu itu, karena imannya yang begitu sungguh-sungguh kepada Tuhan, maka ia mempersembahkan yang terbaik kepada Tuhan. Oleh karenanya, Allah sungguh berkenan atas persembahan tersebut sebab disertai dengan ketulusan dan iman kepada Tuhan. (2Taw 7:12, bdg 2Kor.9:6-7).
Dengan demikian, hendaklah kita sebagai umat Tuhan mempersembahkan yang terbaik dari apa yang dimiliki bagi Tuhan. Tentunya disertai dengan ketulusan atas dasar iman kepada Tuhan. Sebab dengan demikian Tuhan berkenan dan akan memberkati persembahan bagi umat-Nya. Sebagaimana Tuhan telah menyatakan janji-Nya demikian: “Hormatilah TUHAN dengan mempersembahkan kepada-Nya yang terbaik dari segala harta milik dan hasil tanahmu, maka lumbung-lumbungmu akan penuh gandum, dan air anggurmu akan berlimpah-limpah sehingga tidak cukup tempat untuk menyimpannya.” (Amsal 3:9-10). Berbahagialah kita yang mempersembahkan segala sesuatu terbaik bagi Tuhan.


Setyawan Adi Nugroho

Persembahkanlah yang Terbaik (Maleakhi 1:14)

Nabi Maleakhi menuliskan firman Allah untuk menegur bangsa Israel, sekitar tahun 430-420 SM. Pada tahun tersebut, bangsa Israel telah dimerdekakan dari penjajahan bangsa Persia. Akan tetapi yang menjadi permasalahannya adalah iman dari bangsa Israel. Iman dari orang-orang Israel mengalami kemunduran. Sehingga berakibat pada penyembahan kepada Allah yang acuh tak acuh. Dalam kehidupan sebagai umat Allah, bangsa Israel telah meragukan Firman Allah, mengabaikan ibadah yang berkenan, dan memberikan persembahan yang tidak layak. Perasaan hormat dan kasih kepada Allah telah memudar. Oleh karena itu melalui nabi Maleakhi, Allah berfirman kepada bangsa Israel untuk kembali kepada Tuhan dan memegang perjanjian-Nya dengan hati yang tulus serta taat. Salah satu peringatan keras dari Tuhan ialah berkenaan dengan persembahan.
Bangsa Israel pada waktu itu, menghaturkan persembahan kepada Tuhan tanpa hormat. Kepada bupati, mereka memberikan yang terbaik sebagai upeti atau hadiah (1:8). Namun, kepada Allah mereka memberikan persembahan yang cacat. Bukan kawanan domba jantan yang terbaik, namun seekor binatang buta, timpang, dan sakit. Melihat perbuatan tersebut Allah begitu murka, sehingga memberikan peringatan keras kepada bangsa Israel. Dengan menyampaikan firman: “Terkutuklah penipu, yang mempunyai seekor binatang jantan di antara kawanan ternaknya, yang dinazarkannya, tetapi ia mempersembahkan binatang yang cacat kepada Tuhan(ay.14). Bahkan dalam pasal 3:9, Tuhan menyatakan bahwa bangsa Israel sudah kena kutuk oleh karena penipuan dalam hal persembahan. Hal serupa juga pernah terjadi pada masa para rasul ketika mendidik jemaat dalam hal persembahan. Peristiwa yang tercatat ialah Ananias dan Safira, kedua orang tersebut meninggal seketika oleh karena ketidakjujuran dalam hal persembahan kepada Allah (Kis.5:1-10). Ketika seseorang dikatakan kena kutuk, berarti hidupnya jauh dari berkat Allah. Bahkan lautan api neraka menjadi bagiannya (Wahyu 21:8).

Melalui teguran nabi Maleakhi terhadap bangsa Israel, kita mendapatkan pengajaran berharga dalam hal persembahan. Persembahan bagi Tuhan haruslah terbaik menurut rezeki yang Tuhan telah limpahkan pada masing-masing pribadi. Sebab berkat yang terbaik telah diberikan bagi kita, yakni keselamatan melalui iman kepada Tuhan Yesus. Bahkan Allah akan tetap mencukupi kebutuhan sehari-hari (Mzm 11:5) dan mengasihi bagaikan bapa mengasihi anak yang melayaninya (3:17). Marilah kita menghaturkan persembahan terbaik bagi Tuhan bukan karena takut dikutuk, tetapi karena kita mengasihi dan menghormati Allah. Karena persembahan terbaik bukan hanya dinilai dari jumlahnya yang sesuai dengan rezeki, namun juga ketulusan hati dari kita yang mempersembahkan. Diberkatilah kita yang bersedia mempersembahkan persembahan terbaik bagi Tuhan.

Bertumbuh Dalam Kerajinan dan Kasih Roma 12:3-21

Setiap orang yang percaya kepada Tuhan Yesus, mendapat kasih karunia untuk menjadi bagian dari tubuh Kristus (ay. 4-5). Lebih menarik lagi, setiap anggota tubuh Kristus mendapatkan tugas kehormatan untuk turut serta membangun jemaat-Nya melalui karunia rohani yang berbeda-beda. Ada yang mendapatkan tugas untuk bernubuat, melayani, mengajar, menasihati, membagi sesuatu, dan memimpin (ay. 6-8). Semuanya itu harus dilakukan dengan penuh kasih yang tulus. Sebab kasih adalah pengikat setiap orang percaya untuk menjadi satu dalam tubuh Kristus. 
Akan tetapi dalam kehidupan gereja pada akhir zaman, kesatuan tubuh Kristus mulai terancam. Hal ini disebabkan oleh sikap individualistis semakin meningkat, sehingga perpecahan kadang terjadi. Selain itu sikap materialistis juga sering dijadikan ukuran dalam pelayanan, sehingga menyebabkan kendornya kerajinan dalam melayani Tuhan. Bahkan percideraan melalui kata-kata membuat semakin banyak orang sakit hati hingga terpecah dari jemaat. Bahkan pengurangan kadar kebenaran firman Tuhan, bukannya membuat semakin rajin namun sebaliknya. Bisa jadi semakin santai, karena merasa sudah diselamatkan dan tidak perlu lagi berbuat apa-apa. Mungkin masih banyak sikap-sikap lain yang dapat membuat  kesatuan menjadi luntur. Maka dari itu, kerajinan dalam melayani harus dipupuk dan dibungkus dengan kasih yang tulus demi kesatuan tubuh Kristus.
            Apabila dicermati, kerajinan dalam pelayanan dan kasih merupakan dwi tunggal yang mencerminkan tubuh Kristus. Tanpa kasih, kerajinan menjadi sia-sia dan sebaliknya tanpa kerajinan, kasih menjadi redup. Sebagaimana sang Juruselamat dunia telah memberikan teladan, kasih dan kerajinan. Dari sejak lahir-Nya ke dunia hingga kematian di kayu salib, menggambarkan keutuhan kasih dan kerajinan untuk kemuliaan Allah.

            Marilah bersama kita teladani, sang Juruselamat kita yang penuh kasih dan rajin dalam pelayanan. Saat ini momentum indah telah diberikan kepada kita, untuk mengekspresikan  kasih dan kerajinan kita. Pada bulan Desember ini, kasih dan kerajinan kita dituntut untuk menyala-nyala oleh Tuan yang empunya tuaian. Akan banyak diadakan acara peringatan Natal. Namun janganlah kita lengah, tugas kita bukan hanya sekedar duduk, makan dan menikmati acara. Tetapi tugas utama kita adalah mewartakan Yesus Kristus Juruselamat dunia dengan berbagai cara.  Mari kita perkenalkan Tuhan Yesus, Juruselamat umat manusia kepada semua orang.  Mari kita menuai sebanyak mungkin jiwa dengan mengekspresikan kerajinan dan kasih dalam  pelayanan. Dengan demikian, tidak sia-sia kita hidup di dunia.

Rabu, 25 Februari 2015

Mensyukuri Pertumbuhan Gereja Kis. 2:41-47

Pertumbuhan jemaat dapat dipandang dari sisi jumlah dan kerohanian Akan tetapi dalam pertumbuhan jemaat, yang paling penting ialah pertumbuhan kerohanian. Diceritakan dalam Kisah Para Rasul , banyak ditemukan bahwa para Rasul , pengajar, dan penatua tak henti-hentinya untuk memuridkan.  Apabia dicermati dalam perkembangannya, dari 120 rang Kis. 1:15) menjadi 3000 orang  Kis 2:4), kemudian menjadi 5000 orang Kis 4:4), dan akhirnya beripat kai ganda jumah mereka Kis 5:14) Pertanyaannya, mengapa Tuhan berkenan menambahkan jumah mereka sampai beribu-ribu jiwa?
Ada pola yang dapat dipelajari dari kehidupan jemaat mula-mula, sebagai bahan perenungan kita dalam memahami alasan adanya pertumbuhan jemaat.  Pertama, mereka bersedia untuk dimuridkan dan memuridkan melaui pengajaran tentang firman Tuhan (ay. 42) Kedua, mereka bersedia tekun beribadah bersama (ay. 42) Ketiga, mereka bersedia untuk saling mendoakan, memuji Allah dan berbagi makanan maupun harta (ay. 42, 45- 46) Keempat, mereka memberitakan Injil dan diteguhkan melaui mujizat dan tanda ilahi. Dari keempat poIa inilah, Tuhan berkenan menambahkan jumah mereka dengan orang yang diselamatkan (ay 47)

Begitu sederhana apa yang dilakukan jemaat mula-mula.  Mereka dekat dengan Allah, dan Roh Kudus menumbuhkan kerohanian dan menambahkan jumah orang percaya. Bagi jemaat Kristen, saat  ini adalah waktu yang menorehkan sejarah pertumbuhan jemaat. Saat yang menjadi kebanggaan tersendiri, namun juga menjadi perenungan bagi setiap pribadi Bersyukur untuk penyertaan Tuhan, sehingga sampai saat ini, penyertaan Tuhan senantiasa dirasakan.  Dalam  mensyukuri nikmat Tuhan ini, marilah juga kita sejenak mengevaluasi diri. Dapat dipahami bersama bahwa ketika jemaat bersedia bertumbuh dalam kerohanian melaui 4 poIa tersebut, maka akan berpengaruh terhadap pertambahan jemaat  Marilah kita senantiasa bertumbuh dan tak lelah untuk bertumbuh dalam kerohanian.  Sebab dengan demikian, kita akan disebut sebagai jemaat yang mensyukuri pertumbuhan gereja. 

Mengkhususkan Hari Minggu Keluaran 20:8-11


Ketika manusia jatuh ke dalam dosa, Allah menyatakan bahwa manusia harus berjerih lelah  mencari rezeki dengan cara bekerja di atas muka bumi (Kej. 3:17-19). Bahkan sampai saat ini Allah memberkati setiap orang yang bekerja, dengan rezeki yang cukup bahkan lebih. Allah tetap memberikan matahari, hujan, dan panas kepada setiap orang yang baik maupun tidak (Mat.5:45). Namun oleh karena jerih lelah yang dilakukan, terkadang membuat seseorang lupa bahwa berkat datangnya dari Tuhan. Oleh karena mengutamakan kegemaran mencari rezeki, akhirnya terjatuh ke dalam berbagai masalah kehidupan. Maka tidak jarang, seseorang yang sukses dalam pekerjaan, tetapi keluarganya bermasalah. Kesehatannya memburuk, sehingga damai sejahtera jauh dari hatinya. Ibarat tikus yang perlahan-lahan mati diatas tumpukan beras. Selain itu adapula yang menjadi stress hingga membutuhkan Rumah Sakit Jiwa, karena menghadapi kebangkrutan. Terkadang keadaan seperti itulah yang ada akhirnyadialami oleh seseorang yang terlalu gemar mencari mencari rezeki.
 Tentu kehidupan yang terlalu senang mencari uang akan membawa musibah. Oleh karena itu, Tuhan memberikan solusi yang terbaik bagi setiap orang di bumi. Dalam firman-Nya Tuhan Allah memberikan jalan keluar, sehingga kehidupan manusia tetap merasakan damai sejahtera ditengah kerja keras yang dilakukan. Yakni mengingat akan hari sabat dan mengkhususkannya bagi Tuhan (ay. 8). Enam hari lamanya setiap orang boleh bekerja, namun pada hari ketujuh adalah hari perhentian (ay.10). Ketetapan Tuhan ini ditaati oleh bangsa Israel, sehingga para pekerja dan budak mendapatkan hari untuk beristirahat dari pekerjaannya (Kel. 23:12; Ul. 5:14). Meskipun ada perbedaan pemahaman antara penganut Advent dan Protestan dalam hal hari sabat, bagi kita di Indonesia hari ketujuh ditetapkan pada hari Minggu. Dengan demikian tidak ada masalah tentang hari, apakah sabat itu Sabtu atau Minggu, yang penting adalah kesediaan untuk mengkhususkan hari sabat untuk Tuhan. Mengapa hari Minggu (sabat) harus dikhususkan bagi Tuhan? Karena pada hari itulah setiap orang percaya dapat merasakan secara khusus damai dan pemulihan dari Tuhan di Rumah Tuhan. Tuhan sendiri berjanji bahwa di Rumah Tuhan, Tuhan akan memberikan damai sejahtera (bg. Hagai 2:10).

Selain itu, Allah juga menegaskan bahwa pada hari yang ketujuh Allah mencurahkan berkat kepada ciptaan-Nya (ay.11). Dilihat secara psikologis, setiap orang yang bersedia mengkhususkan hari Minggu untuk rehat sejenak dari kesibukanya bekerja, akan mendapatkan kesegaran dalam  pikirannya kembali. Bahkan masalah yang terjadi dalam keluarga mendapatkan tempat untuk bersama-sama dicarikan solusinya. Namun yang terutama ialah, hubungan dengan Tuhan dapat menjadi semakin erat. Ketika kita bersedia mengkhususkan hari Minggu bagi-Nya, Tuhan memulihkan jiwa kita yang sakit, dan memuaskan kembali dahaga rohani setelah selama enam hari berjerih lelah. Dengan demikian marilah bersama kita khususkan hari Minggu untuk Tuhan demi kebaikan keluarga, diri sendiri dan masa depan kita.

Say No to Divorce !

If we pay attention to the divorce statistics in Indonesia, we may be interested in the facts. According to data from the Director General o...